Sambil memproklamirkan formasi terbarunya, Grief akhirnya berhasil merampungkan sekaligus merilis album mini (EP) pertamanya, “Denial, Anger, Bargaining, Depression & Acceptance” pada 22 Maret 2019 lalu. Karya rekaman milik unit cadas yang diperkuat personel asal Bandung dan Jakarta tersebut telah tersedia di seluruh platform digital, termasuk YouTube. Sebelumnya, pada 29 Oktober 2018 lalu, Grief telah mencecar kuping para metalhead lewat single pembuka bertajuk “In Doubt”.

Proses penggarapan EP dengan single debut bertajuk “Blight” itu sendiri dieksekusi Danny Supit (vokal), Ahmad Zacky Saleh (gitar) dan Akbar Karunia (dram) selama empat bulan hingga rampung. Keseluruhan proses dilakukan di Bandung. Sementara dua personel baru, yakni Agung Dafin (bass) dan Bimantara Septianto (gitar) baru bergabung saat penggarapan album sudah hampir selesai.

“Personel baru tidak terlalu andil di proses rekaman, karena ketika kami mau joint, proses rekaman semua lagu sendiri sudah hampir selesai. Tapi untuk masalah penggarapan music video kami turut berpartisipasi banyak. Saya dipercayai teman-teman lain untuk jadi director dan editor untuk lagu ‘Blight’, ‘Anestesi’ dan ‘Rust’,” ungkap Bimantara kepada MUSIKERAS, terus-terang.

“Proses kreatif pembuatan EP ini dimulai sebelum Biman dan Agung masuk,” timpal Akbar menegaskan. “Jadi, pada saat itu yang terlibat adalah Danny, yang fokus di departemen lirik, Zacky sebagai mastermind dalam keseluruhan proses penulisan lagu, dan saya pada bagian dram. Mengingat keberadaan kami yang terpisah di dua kota, proses kreatif sering kali dilakukan lewat media sosial secara bersama-sama. Ketika materi-materi yang kemudian masuk dalam EP ini dirasa telah matang, (barulah) kami mulai masuk studio.”

Lewat “Denial, Anger, Bargaining, Depression & Acceptance” ini, Grief menggeber konsep musik yang sarat elemen melodic hardcore serta metalcore. Unsur dari Comeback Kid, Misery Signals, Hundredth dan Counterparts banyak mempengaruhi penggarapan EP tersebut.

“Agresif, namun melankolis. Itu yang bisa saya deskripsikan mengenai EP ini,” cetus Zacky gamblang.

Alasannya, karena di EP ini, Zacky mengaku banyak menerapkan teknik picking metalcore seperti palm mute serta progresi kord yang lumayan variatif, fill-in ala riff-riff Saosin dan Misery Signals, namun dibalut dengan ketukan hardcore. “Secara definisi sih, EP ini bisa dibilang metalcore/fast paced atau apa pun itu. Karena ketukan hardcore punk cepat yang dipadukan dengan riff metalcore. Kalau boleh saya bilang di sini, ‘melankolis’ (maksudnya) karena lirik yang ditulis Danny sifatnya mengikhlaskan akan kepergian. Seperti yang terkandung di lirik lagu ‘Blight’.”

“Tantangan terbesar di Grief adalah bagaimana membuat sesuatu yang dikeluarkan Grief menarik,” imbuh Danny, “or at least meninggalkan kesan kepada para pendengarnya. Dan ketika kami di proses pembuatan EP, kami betul-betul berhati-hati, karena terus berfikir bagaimana caranya lagu itu harus simple dan menarik. EP ini mungkin bukti pertama bahwa Grief eksis, dan kami cukup puas dengan hasilnya. Tapi dari situ juga kami lihat ada ruang untuk berkembang, dan kami tidak sabar untuk rilisan selanjutnya.”

Ya, walaupun terbilang sebagai band baru – tepatnya terbentuk pada 2018 lalu – namun para personel Grief. datang dari band-band yang sudah cukup jam terbang di kancah ‘bawah tanah’. Danny sang vokalis merupakan mantan anggota Sequel Of Sunday, sebuah unit metalcore asal Jakarta. Lalu Zacky, saat ini masih terdaftar sebagai personel Colors & Carousels, unit metalcore Bandung. Sementara Akbar juga masih tergabung di Glare dan Peel, sebuah unit hardcore punk di Bandung. (aug/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY