‘Ribut dan keras’ kembali dikoarkan Rajasinga, salah satu pelaku grindcore cadas Tanah Air. Pada 20 April 2019 mendatang, para personelnya – Biman (gitar/vokal), Revan (dram/vokal) dan Morrg (bass/vokal) – bersiap meledakkan “Meribut”, sebuah karya album rekaman terbaru, yang kali ini diedarkan dalam format CD dan kaset pita via label independen, Black and Je Records.

Tapi sesungguhnya, “Meribut” bukan benar-benar sebuah album penuh. Melainkan kombinasi empat lagu baru dengan beberapa trek tambahan yang belum pernah dirilis sebelumnya. Semacam album kompilasi dengan materi comotan dari berbagai sesi rekaman. Ada empat lagu baru, yakni “Putih”, “Setan Telah Kalah”, “Suara” dan “Pengawal Jaman” yang direkam di Noiselab Studio, Jakarta periode Oktober hingga Desember 2018. Lalu ada pula dua lagu cover, “Eksis Tak Terhenti” milik Extreme Decay serta “Lawan” (Jeruji) yang merupakan stok rekaman pada 2013 silam di EC3 Studio, Jakarta. Tiga lagu lainnya, “Masalah Kami di Negeri Ini”, “GS4GF” dan “Tujah” direkam dari aksi panggung Rajasinga di Pontianak, dalam rangkaian tur “Grinding Borneo 2018”.

Menurut penuturan pihak Rajasinga kepada MUSIKERAS, semua proses mastering album dilakukan di Noiselab Studio, termasuk komposisi “Dilarang Berbisa” yang merupakan versi remastered. Lagu tersebut juga bisa dijumpai dalam album kompilasi “Bersama Bersuara Vol.1” rilisan Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan, Maret 2019 lalu.

“Awalnya, album ‘Meribut’ kami rencanakan rilis sebagai album mini (EP), berisikan empat lagu terbaru yang direkam setelah album ‘III’. Tapi seiring proses berjalan, kami sepakat untuk memasukkan beberapa lagu tambahan, yang sudah direkam, dan beberapa di antaranya belum pernah kami rilis. Terutama dua lagu cover yang pernah iseng-iseng kami rekam di tahun 2013. Rasanya cocok dengan tema empat lagu baru kami. Jadi bisa dibilang, ‘Meribut’ adalah album kompilasi dari berbagai sesi rekaman, tapi tema materinya saling bertautan,” urai Rajasinga mengungkapkan.

Secara garis besar, album “Meribut” yang total berdurasi 27 menit dengan racikan distorsi ganas yang melebur elemen heavy, thrashy, punkish bahkan stoner tersebut juga merupakan respon Rajasinga dalam bentuk karya, terhadap keadaan sosial politik terkini secara global. “Setiap menulis lagu, kami selalu membingkai apa saja yang terjadi dan kami alami pada saat itu. Seperti melihat album foto, tiap lagu adalah potret yang abadikan ruang dan waktu di jamannya.”

Sedikit menengok ke belakang. Awal karir Rajasinga tercetus di pertengahan 2004 di Bandung dan kini telah merilis sejumlah album, mulai dari album demo live, album mini (EP) hingga album penuh. Sebut saja “Killed By Rajasinga”, “Pandora” dan “Rajagnaruk”. Lalu pada 2016, mereka kembali membuktikan kebuasannya di album penuh ketiga yang berjudul “Rajasinga: III”, dimana kala itu Biman dkk mencoba untuk mengeksplorasi sisi musikalitas mereka lebih dalam dan luas. Di album tersebut, ada suguhan komposisi gitar yang tidak pernah ditemui pada album-album sebelumnya, dimana elemen-elemen teknik slide blues disusupkan di salah satu trek lagunya, plus rasukan berbagai energi black metal ala Darkthrone, Gorgoroth, Venom hingga unsur heavy metal klasik ala Motorhead. Pada September 2017, Rajasinga sempat merilis ulang album “Pandora” dalam format piringan hitam (vinyl) 10”, cakram padat (CD) dan kaset. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY