“‘Dread’ adalah jawaban dari semua influece yang kami dengar sejauh ini.”

Begitu pernyataan Kill the Fear, unit metal/hardcore asal Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan tentang konsep musikalitas album debutnya, “Dread” yang telah dirilis via Layrox Records, awal bulan ini. Ancang-ancang menuju album itu sendiri sudah mulai digaungkan sejak awal September 2018 lalu lewat peluncuran single “Till The Last Drop Of Blood” serta single “Killers” pada awal 2019.

“Formula musik yang kami racik untuk album ‘Dread’, sangatlah terkonsep,” cetus band bentukan Agustus 2013 lalu tersebut kepada MUSIKERAS. “Mulai dari kord gitar yang sedikit ‘ngehe’ dengan benang merah metal dan hardcore, sampai membuat keseluruhan lagu mempunyai warnanya tersendiri. Karena kami tumbuh dengan mendengarkan musik rock kental seperti Metallica, Pantera, Iron Maiden hingga akhirnya semakin lama juga mendengarkan musik yang lebih ekstrim seperti Lamb of God, Slipknot, Whitechapel, Impending Doom dan sebagainya.”

Tri Achmad Aldino (dram), Raden Syarif (gitar), Adi Nugraha (gitar), Raden Satria (bass) dan Selamat Lestari (vokal) sebenarnya sudah mulai menggarap materi album “Dread” sejak 2016 silam. Namun sempat tertunda lantaran vokalis mereka harus pindah ke Bogor untuk kepentingan pekerjaan. Pada 2017, Kill the Fear masuk studio rekaman untuk pertama kalinya, tepatnya di Blacksheep Studio, Palembang. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk merekam instrumentasi agar materi yang telah dibuat tak hilang dari ingatan. Lalu pada Juli 2018, mereka memutuskan untuk merekam ulang keseluruhan lagu di studio yang sama.

“Karena ada beberapa lagu yang sedikit berubah dan equipment recording kami jauh lebih siap dari sebelumnya, agar materi yang direkam menghasilkan kualitas yang maksimal,” beber para personel Kill the Fear.

Selama enam bulan, yang berlangsung sejak Juli 2018 hingga Januari 2019, Kill the Fear bolak-balik masuk studio untuk mematangkan rekaman “Dread”. Dan tentu saja, banyak masalah serius yang mereka hadapi selama menjalani prosesnya. Mulai dari kehilangan pemain bass hingga segi finansial.

“Kami mengerjakan album ini secara mandiri. Sumbangsih dari setiap personellah yang menjadi pembiayaan sewa studio dan sebagainya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal kami tak segan saling memberi masukan dan mengulang take agar didapatkan hasil yang diinginkan.”

Di “Dread”, Kill The Fear yang mengawali karirnya dari ajang festival musik bertahap Asean (Asean Beat) di Palembang mengklaim berhasil menghadirkan aura musik yang intens untuk headbanging dengan pemilihan nada yang mudah untuk ditangkap dengan produksi audio yang berkualitas. Dan dari sembilan komposisi mengentak yang mereka semburkan di “Dread”, personel Kill the Fear memilih “Belenggu” sebagai lagu yang paling memuaskan dari segi penataan aransemen.

“Sebenarnya semua lagu membanggakan dan mempunyai history tersendiri.

Tapi untuk secara musikalitas dan lirik ‘Belenggu’ adalah komposisi yang pas. Dari tempo perlahan, hingga memuncak mencapai klimaks. Serta lirik yang ditorehkan berisi keresahan yang kami alami secara pribadi maupun yang kami lihat di sekitar.”

Rilisan “Dread” sendiri dilepas dalam dua versi, yakni limited boxset dan CD reguler yang memuat artwork untuk sampul depan dari Fajar Rahadian alias Artchitect, yang sebelumnya telah menggarap official art Trivium. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY