Pesta musik metal akbar bakal digelar di Surakarta pada 9 Juni 2019 mendatang. The Karnival – demikian namanya – bakal menampilkan barisan jawara metal dan rock dari dalam dan luar negeri. Dan pasukan death metal asal Belanda, Pestilence didaulat sebagai headliner.

Holy Labels selaku promotor mengungkapkan alasan kuat di balik penunjukkan Pestilence sebagai penampil utama acara tersebut. “Pestilence itu band oldschool yang pada era awal mengusung genre thrash metal dan technical death metal. Banyak band sekarang yang terinfluens oleh Pestilence,” kata Handayani (Yani), chief operational Holy Labels, kepada MUSIKERAS.

Selain Pestilence, ada juga nama gerombolan black death metal asal Polandia, Devilish Impression yang sudah mengonfirmasi kehadirannya di Indonesia, sebelum melanjutkan perjalanan ke Singapura.

“Kami masih ingin menambahkan lagi satu atau dua band luar. Tapi memang jadwalnya yang susah karena di Eropa sana pada saat itu nyaris bersamaan dengan banyak gelaran festival juga,” ungkap Yani lagi.

Sementara itu. Dari barisan band lokal, Trauma, unit death metal veteran kelahiran Jakarta yang sudah malang melintang sejak 1992 silam juga bakal tampil menyemburkan materi-materi lawas dan baru mereka. Tak ketinggalan juga para local hero dari Malang, Purwokerto, Yogyakarta, dan tentunya Surakarta seperti Down For Life. Lalu dari lini rock, ada nama Powerslaves, legenda asal Semarang yang mengangkasa di era 90-an lewat sejumlah hits.

“Selain Powerslaves, kami masih akan menambahkan  satu lagi band rock Tanah Air. Tapi belum bisa kami sebutkan siapa karena masih dalam tahap negosiasi.”

Sekadar tambahan informasi, The Karnival sendiri merupakan festival berjalan yang rencananya akan digelar setiap tahun di kota-kota yang berbeda. Untuk gelaran pertamanya di Surakarta ini, lokasi venue-nya masih dirahasiakan. Tapi Yani memastikan akan dihelat di pusat kota.

Yang tak kalah penting, lanjut gitaris band metal Dreamer tersebut, The Karnival tidak ada hubungannya dengan Hammersonic, festival musik metal lain yang juga melibatkan dirinya sebagai bagian dari penyelenggara. “Holy Labels ini saya buat dengan Bowo (kibordis Dreamer) dan beberapa teman lainnya. Ini bendera kami sendiri,” cetus Yani menegaskan.

Oh ya, sekilas tentang Pestilence, terbentuk sejak 1986 silam. Pada 1994 sempat bubar akibat perbedaan arah musikal para personelnya. Mereka bersatu kembali pada 2008 sampai bubar lagi pada Juli 2014. Tapi, lagi-lagi mereka reuni pada Oktober 2016 dan merilis delapan album studio sampai sekarang. Pada awal karirnya, Pestilence mengusung genre thrash metal, saat diperkuat formasi Patrick Mameli (gitar/vokal), Randy Meinhard (gitar) dan Marco Foddis (dram). Mereka lantas menghasilkan demo pertama, “Dysentery” (1987). Martin van Drunen (bass/vokal) lalu melengkapi Pestilence yang ditindaklanjuti dengan perilisan demo kedua, “The Penance” pada tahun yang sama dengan demo sebelumnya. Kedua demo tersebut menyuguhkan sound kotor yang memiliki persilangan antara Possessed dan Sepultura era album “Schizophrenia”.

Album penuh pertama Pestilence, “Malleus Maleficarum”, dirilis setahun kemudian via Roadrunner Records. Lalu seterusnya disusul album “Consuming Impulse” (1989), “Testimony of the Ancients” (1991), “Spheres” (1993), “Resurrection Macabre” (2009), “Doctrine” (2011), “Obsideo” (2013) dan “Hadeon” (2018). Lalu pada Oktober 2018 lalu, Pestilence bekerja sama dengan Hammerheart Records merilis ulang empat album awalnya dalam satu paket boxset piringan hitam bertajuk “Prophetic Revelations 1987-1993”. Konon hanya 1000 unit yang diedarkan ke seluruh dunia.

Nah, sekitar dua bulan lagi, Pestilence yang kini dihuni formasi Patrick Mameli, Septimiu Hărşan (dram), Calin Paraschiv (gitar) dan Edward Negrea (bass) dipastikan bakal menggegerkan panggung The Karnival. Jadi bersiaplah! (RN/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY