Salah satu pejuang rock veteran Tanah Air, Getah benar-benar menolak punah. Tak banyak karya rekaman yang lahir dari band yang kerap disebut-sebut mengekplorasi goth/industrial rock ini, dan juga kerap didera proses gonta-ganti personel. Tapi sejak terbentuk pada 1995 silam, sampai saat ini Getah masih berdenyut kencang. Bahkan kini, dengan dua personel baru, Getah seolah mendapat suntikan darah baru dan siap menerjang skena rock lagi.

“… In the end we were never gone. We didn’t suffer. We never quit. We were never afraid. Not even for a minute. All is well and fun in GETAH land.

Begitu yang dicetuskan Getah via akun Instagram resmi mereka pada 18 Maret 2019 lalu. Dan pada saat itu pula, Getah mengumumkan secara resmi dua personel terbaru mereka, yakni vokalis berdarah Indonesia-Perancis, Philippe Vezard – atau yang lebih dikenal dengan nama Phil Khayalan – serta dramer lama Getah yang kembali bergabung, Bambino. Keduanya melengkapi formasi Peter St. John (gitar), Marcel Marcive (bass) dan Alfa Putra (gitar). Phil sendiri direkrut untuk menggantikan vokalis sebelumnya, Oddie Octaviadi.

Saat dikonfirmasi MUSIKERAS, pihak Getah mengatakan tak ada latar belakang masalah apa-apa mengenai adanya pergantian di lini vokal. “Tidak ada latar belakang, yang bersangkutan berhalangan dan ada yang available dan cocok,” cetus Marcel mewakili band, menegaskan.

Dan tentang sosok Phil sendiri, para personel Getah menganggapnya berpotensi dalam hal musikalitas. “Sudah terbukti mampu dengan project-project musik yang terus dijalankannya hingga kini. Ditambah lagi (dia) giat berlatih silat bersama Alfa, dekat dan suka menghabiskan makan siang dengan keluarga Peter dan kebetulan juga suka Star Wars.”

Dengan formasi baru ini, Getah berharap bisa segera menelurkan karya rekaman baru yang kini tengah digodok. “Ada beberapa single yang sedang digarap. Seandainya lancar, pertengahan tahun ini semoga bisa rilis lebih dari satu single. Dan seandainya bisa lebih cepat dari itu, maka akan lebih baik lagi,” seru Marcel optimistis.

Sementara untuk konsep musik, Getah menegaskan tetap di jalur yang sama. “Tidak ada perubahan dalam konsep musikal, karena sejak Getah berdiri dari awal sebenarnya tidak pernah memiliki konsep musikal.”

Ketika Getah mulai menggeliat, awalnya diperkuat oleh pecahan band underground, Bottom Up dan Rotor, yakni Marcel Marcive, Jodie Gondokusumo (vokal), Reeve (dram) dan Boy Faisal (gitar). Formasi ini lantas sempat merilis album debut self-titled (Waner Music). Pada 1996, Reeve mengundurkan diri karena harus kembali ke Amerika Serikat tak lama setelah album rampung direkam. Posisinya lantas digantikan oleh Tyo Nugros, yang belakangan dikenal sebagai dramer Dewa. Perjalanan karir Getah selanjutnya kerap diwarnai pergantian personel. Bahkan pada 2008, sempat pula diperkuat oleh Richard Mutter, dramer PAS Band.

Sejauh ini, Getah telah menghasilkan beberapa karya rekaman. Setelah album self-titled, juga sempat single “Missing/Green Wine” (2001), album “Release is Peace” (2008) serta single “For The Love of God” (2009) dan “Scared of You” (2012). Selain itu, Getah juga pernah terlibat di proyek album “OST Gerbang 13” (2005) dan “OST In The Name of Love” (2008). Pada 24 September 2018 lalu, bersama Noxa dan Inlander, Getah tampil di Everloud Fest, di Tokyo Jepang. (mdy/MK01)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY