Sejak My Chemical Romance (MCR) menyatakan bubar pada Maret 2013 silam, gitaris Frank Iero pun mendapatkan kesempatan untuk memusatkan konsentrasi pada proyek-proyek solonya. Dimulai dengan mengibarkan nama frnkiero and the cellabration yang melahirkan album “Stomachaches” (2014), lalu Frank Iero and the Patience yang berujung pada perilisan album “Parachutes” (2016) serta EP “Keep The Coffins Coming” (2017).

Kini, proyeknya yang terbaru adalah Frank Iero and the Future Violents, dimana ia berkolaborasi dengan beberapa musisi dan berhasil mengeksekusi sebuah album rock kolaboratif enerjik bertajuk “Barriers” via label barunya, UNFD. Dan di album yang bakal dirilis pada akhir Mei 2019 mendatang tersebut, Frank dengan bangga menyebutnya sebagai sebuah kerja sama band yang sesungguhnya. Karena gagasan-gagasan komposisi lagu tidak lagi datang dari dirinya sendiri, melainkan juga dari personel lain yang lantas digodok bersama.

“Berbeda dibanding proyek solo saya, dimana sebagian besar lagunya – bisa dibilang 90% – berasal dari gagasan-gagasan di pikiran dan hati saya. Jadi proses ini berbeda dibanding di My Chemical Romance dan sekaligus juga beda dibanding proyek solo saya sebelumnya. Saya sangat bersemangat dengan album ini,” ungkap Frank Iero lewat sebuah rekaman wawancara yang dikirim khusus untuk MUSIKERAS.

Setiap kali memulai proyek dengan orang yang berbeda, lanjut Frank, tentunya akan terasa berbeda. Di album “Stomachaches” misalnya, ia menggarap keseluruhan prosesnya sendirian. Sendirian di kamar, ditemani komputer dan berusaha menemukan cara bagaimana melakukannya sendirian. Lalu di “Parachutes”, ia mulai melibatkan musisi session, termasuk saudara iparnya, gitaris Evan Nestor yang seterusnya terus dilibatkan di band bentukan Frank.

“Jadi saya bisa mendapatkan tanggapan atau masukan saat saya butuh. Kali ini di (album baru) benar-benar dikerjakan oleh band, semuanya berada di ruangan yang sama. Proses ini sangat fantastik.”

Judul “Barriers” sendiri dipilih sebagai representasi dari apa yang dilakukan Frank selama menjalani proses penulisan lagu hingga rekaman. Ia merasa, kali ini benar-benar telah berhasil mendobrak dinding dan mematahkan batasan-batasan dalam hal penulisan lagu. “Sebab sebelumnya, saya merasa kesulitan untuk mengekspresikan secara total apa yang saya rasakan ke dalam penulisan lagu,” tandasnya.

Di album ini, Frank mengaku terinspirasi dari kemampuan untuk memulai sebuah band bersama bassis Matt Armstrong (Murder By Death), dramer Tucker Rule (Thursday) serta Kayleigh Goldsworthy di piano, organ dan violin, para musisi yang sudah dikenalnya sejak awal 2000-an. Juga tentunya dengan saudara iparnya, Evan Nestor. Frank merasa telah berhasil mematahkan batasan-batasan dalam penulisan lagu berkat musisi-musisi tersebut.

Ketika MUSIKERAS menanyakan apakah pengalamannya selama tergabung di My Chemical Romance banyak membantunya dalam proses produksi, Frank dengan tegas menyatakan bahwa memang pengalaman masa lalu telah mengasah dirinya sebagai musisi. Namun, setiap kali berada di studio, setiap musisi pasti akan mempunyai banyak kesempatan untuk mencoba trik baru.

“Dan (‘Barriers’) ini adalah album yang saya produseri sendiri untuk pertama kalinya. Saya banyak mendapat bantuan dari engineer Steve Albini yang sangat lihai dalam hal teknis rekaman. Setiap ide yang ingin saya terapkan bisa langsung dieksekusi saat itu juga. Ya, setiap kali rekaman memberikan kesempatan untuk belajar hal-hal baru, entah itu sesuatu yang sudah disetujui atau hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan.”

Lewat “Barriers”, Frank merasa telah melakukan pengembangan secara musikal, sekaligus berharap bisa melebarkan audiens, mendapatkan pendengar-pendengar baru di negara-negara yang berbeda dibanding sebelumnya.

“Itu selalu harapannya. Saya cinta orang-orang yang selalu mengikuti perjalanan karir saya sejak awal hingga sekarang. Luar biasa, (saya) sangat beruntung memiliki orang-orang seperti itu, yang mendengarkan setiap proyek yang saya kerjakan… (Tapi) idenya memang selalu berusaha melebarkan audiens, untuk menemukan orang-orang baru. Memang seperti itulah kita harus berkembang sebagai artis atau musisi. Jadi sangat menyenangkan jika bisa menginspirasi orang-orang baru.” 

Oh ya, saat masih bersama My Chemical Romance, Frank Iero ikut berkontribusi melahirkan album-album terbaik salah satu pahlawan emo rock tersebut, seperti ”Three Cheers for Sweet Revenge” (2004) dan “The Black Parade” (2006). (mudya/MK01)

Kredit foto: Mitchell Wojcik

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY