Judul lagu “The Needle” berarti ‘jarum’, merujuk pada alat medis suntik yang sering kali disalahgunakan oleh para pengguna narkoba untuk menginjeksikan zat terlarang tersebut ke dalam tubuh mereka, yang oleh banyak sumber disebut-sebut sebagai metode paling cepat dan efektif untuk merasakan ‘tinggi’ karena langsung disalurkan ke dalam aliran darah, lebih cepat sampai ke otak dan lebih lama berada di tubuh. Namun meski paling efektif, penggunaan jarum suntik sebagai alat konsumsi narkoba juga metode yang paling berbahaya karena resiko ketidaksterilan jarum suntik. Penggunaan jarum secara bergantian menjadi salah satu penyebab penularan penyakit paling berbahaya yang hingga kini belum ada obatnya: HIV AIDS.

Ya, kali ini, unit metallic hardcore/heavy metalcore asal Malang, Noose Bound memang mengangkat tema mengenai kecanduan obat-obatan terlarang, lewat single terbarunya, “The Needle”. Penulisan liriknya kembali menggunakan sudut pandang orang pertama, yang mana banyak menggambarkan kesakitan yang dialami seorang pengguna ketika berada dalam keadaan sakau, atau yang dalam bahasa medis disebut Withdrawal Symptoms, dimana sang pengguna yang terlanjur ’mencicipi’ dan terjerumus ke dalam kenikmatan semu narkoba, harus membayar mahal ketika tubuhnya diambil alih dan dikendalikan oleh zat tersebut. Halusinasi, paranoid, depresi, penyesalan, hingga perasaan ingin mengakhiri hidup sendiri memenuhi bait demi bait dari lirik lagu tersebut.

Noose Bound yang kini dihuni formasi Raditya Rio (dram), Bagaskoro Akmal (vokal), Devrizal Maruapey (bass) dan Alfin Ramadhan (gitar) menjalani proses perekaman “The Needle” dalam waktu yang relatif lama. Dimulai sekitar akhir 2018 lalu, karena rencana awal single tersebut memang dimaksudkan dirilis pada akhir tahun 2018.

“Tapi prosesnya baru kelar sekitar akhir Maret tahun ini. Memakan waktu sedemikian panjang karena di tengah proses rekaman, banyak kendala yang menghampiri band ini, mulai dari kesibukan masing-masing personel hingga keluarnya salah satu gitaris kami, Ananda Krisna,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, beralasan.

Seperti single sebelumnya, “Paint Me Red” yang diluncurkan pada April 2018 lalu, komposisi “The Needle” masih membawa karakter musik yang kelam dan berat. “Kalau boleh kami jabarkan kurang lebih merupakan trek hardcore-punk dengan sentuhan sludge serta slam metal. Untuk referensi dan influence musik, kami banyak dipengaruhi oleh band-band metallic hardcore seperti Code Orange, Knocked Loose dan Harm’s Way, serta band-band hardcore punk dan metalcore era ’90an seperti Integrity, Disembodied, Zao hingga Deadguy.”

Di penghujung 2017, adalah Raditya Rio, dramer dari Shewn dan Every Rage Away yang memulai gelinding karir Noose Bound. Kala itu, ia ingin bereksperimen dengan sound yang lebih keras dari dua band yang ia awaki saat itu. Ia lantas mengajak vokalis Brightside Haze yaitu Bagaskoro Akmal untuk mengisi posisi frontman. Keduanya dipertemukan oleh kesamaan selera, yang lantas menyepakati Code Orange dan Knocked Loose sebagai benang merah metallic hardcore dalam ramuan musiknya. Merasa ada chemistry, keduanya lalu merekrut personel lain, yakni Devrizal Maruapey (Sharkbite), Alfin Ramadhan (Leftover dan Wordsworth) dan gitaris Ananda Krisna (I’m Sorry I’m Lost) untuk mewujudkan ide tersebut ke permukaan. Sayangnya, Ananda hanya bertahan dalam waktu yang relatif singkat. Akhirnya, Noose Bound sepakat berjalan hanya dengan empat personel dan menggarap “The Needle”.

Tahun ini, selain mempromosikan single “The Needle”, Noose Bound juga mulai menyibukkan diri mempersiapkan banyak hal, mulai merchandise hingga penggarapan single selanjutnya yang rencananya akan mereka rilis dalam format video klip sebagai single perkenalan menuju album penuh. “Sekarang kami juga masih dalam proses pengumpulan materi untuk pembuatan album pertama kami, yang proses rekamannya akan dilaksanakan tahun ini, dan semoga dapat dirilis tahun ini juga. Doakan ya!” (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY