White Swan makin tinggi mengepakkan sayap. Usai merilis album mini (EP) “Brain Teaser” pada 10 Agustus 2016 serta single “Bow Surfer” pada 9 Desember 2017 lalu, kini unit rock asal Denpasar, Bali tersebut menanjak ke level yang lebih bergengsi, yakni dengan merilis sebuah album penuh beramunisikan 10 trek bertajuk “Cygnus” sejak 20 April 2019 lalu.

Kenapa diberi judul “Cygnus”? Menurut band yang baru terbentuk pada 2016 lalu ini, secara harafiah ‘cygnus’ adalah suatu rasi bintang di belahan Utara. Rasi tersebut juga merupakan salah satu dari 48 rasi bintang Ptolemy, dan juga satu dari 88 rasi bintang modern. Cygnus juga memiliki bentuk menyerupai seekor angsa, dimana hewan ini menjadi entitas bagi White Swan itu sendiri. Sementara dari segi konsep album, “Cygnus” mempunyai arti dimana band ini telah lahir dari sebuah galaksi yang diharapkan mampu membagikan sinar-sinar positif, layaknya si rasi bintang itu sendiri.

Selain itu, di salah satu lagunya yang juga berjudul “Cygnus”, White Swan menganggapnya sebagai perwakilan seluruh pengalaman yang telah mereka lalui selama hampir tiga tahun sejak terbentuk. “Termasuk di dalamnya seperti terjun ke industri ini, bertemu dan kenal dengan musisi senior, melakukan tur, tampil dari satu panggung ke panggung lainnya, dan tidak lupa saling berbagi pengalaman bersama orang-orang hebat, baik di depan maupun di belakang layar,” ungkap para personel White Swan kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Penggarapan album “Cygnus” sendiri memerlukan waktu lima bulan untuk proses perekaman, dimulai pada Desember 2018 hingga Maret 2019. Durasi yang dirasakan Sugeng (vokal), Reza (gitar), Satriya (bass) dan Maha (dram) sangat cukup untuk melakukan eksperimen dengan sound serta penggodokan komposisi lagu. Mereka mengeksekusi rekamannya di Binocular Records, yang kebetulan merupakan studio milik White Swan sendiri.

“Menurut kami tantangan cukup banyak (saat penggarapan). Mulai dari proses pengerjaan musik, lirik, sound… semua perlu kesabaran yang besar. Dengan bantuan dan masukan dari teman-teman musisi lainnya, satu per satu tantangan pun bisa dilewati.”

Sementara untuk formula musik yang diterapkan di “Cygnus”, White Swan masih tetap mengambil esensi rock yang catchy dan mudah dicerna. “Untuk influence, tiap personel memiliki inspirasinya masing-masing, seperti Led Zeppelin, Pink Floyd, Deep Purple dan banyak lagi musisi rock lainnya. Kami padukan dari berbagai pengaruh dan terciptalah ‘Cygnus’ yang menurut kami (memuat) banyak hal baru jika dibandingkan dengan EP,” tutur pihak band lagi menegaskan.

Album “Cygnus” yang dikemas dalam format cakram padat (CD) seharga Rp 50.000 dibekali artwork tersendiri yang menjelaskan cerita dan maksud dari tiap lagunya. (aug/MK02)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY