Masih dengan semangat independen yang tidak berubah sejak pertama kali menggeliat pada 2005 silam, unit rock asal Jakarta, Dried Cassava kembali mengumandangkan sebuah single baru. Kali ini bertajuk “Blueberry Man”, yang telah mereka rilis sejak 26 April 2019 lalu di berbagai platform digital seperti Spotify, Joox, Apple Music, Deezer serta di YouTube. Sebelumnya, band yang dihuni formasi Kago Mahardono (dram), Baskoro Adhi Juwono (gitar/vokal), Nandie Daniel Febryan (gitar) dan Bana Drestanta (bass) ini telah meluncurkan single “Hellblazer”, “Set Sail”, “Manusia Beruang”, “Morpheus” dan “Berlayar”.

“Blueberry Man” sendiri menerapkan peleburan musik terdahulu dan modern. Mereka juga melibatkan John Paul Patton, bassis dan vokalis Kelompok Penerbang Roket untuk menyumbangkan komposisi nada pada bagian solo gitar yang dimainkan Nandie. Sementara di vokal, juga ada sentuhan pengalaman berbeda dari Saraswati Widya Hapsari yang turut menyumbangkan suaranya.

Bagaimana Dried Cassava mendeskripsikan formula musik di lagu “Blueberry Man” dibanding single-single mereka sebelumnya?

“Kord yang simpel, dipadukan dengan alur bass dan ketukan dram yang groovy, kami coba bikin lagu yang mudah diingat tapi tidak terasa membosankan. Referensi untuk lagu ini kami ambil dari musik funk dipadukan dengan alunan nada lagu pop ala-ala Michael Jackson. Kami (juga) mengambil beberapa angle referensi dari album sebelumnya dan juga referensi baru yang lebih fresh. (Tapi) Sepertinya tidak banyak perbedaan yang signifikan (dibanding single-single sebelumnya) karena kami masih seperti Dried Cassava yang dulu,” umbar pihak band kepada MUSIKERAS, mempertegas.

Sekadar informasi, sebelumnya Dried Cassava telah menelurkan dua album, yakni “Mind Thieves” (2012) dan “Sensitive Explosive” (2014). Lalu dua tahun kemudian, mereka sempat pula merilis sebauh album mini (EP) yang hanya diedarkan secara eksklusif di Jepang.

Di luar urusan musik, lirik juga selalu menerapkan sudut pandang yang unik, seperti karya-karya mereka lainnya. Termasuk di “Blueberry Man” ini, dimana Dried Cassava bercerita mengenai seorang komponis yang bermimpi membuat karya orisinil yang paling hebat sepanjang sejarah. Berambisi untuk menandingi karya besar maestro-maestro pendahulunya. Namun, ia merasa gagal. Merasa dunia tak adil, karena ia tak bisa mencipta keindahan nada dan syair yang seakan telah habis tak tersisa. Pada akhirnya, ia sadar bahwa penciptaan lagu bukan melulu tentang kompetisi dan originalitas belaka. Namun justru perpaduan dari impresi yang mendalam, tatanan nada dan rasa, yang turut mewarnai sejarah manusia, memberi nyawa pada kehidupan. Tak ada yang sepenuhnya baru, semua adalah bagian dari catatan sejarah, sekarang dan masa depan. Ia sadar, bahwa telah memainkan perannya, untuk mewarnai sejarah manusia. Lagu, seperti buah, akan lahir, matang, dan jatuh. Akan dinikmati atau diabaikan. Apapun itu, setiap buah selalu memiliki rasa unik yang menjadi identitas, yang memberi rasa untuk setiap jiwa.

Sebenarnya, “Blueberry Man” bukan lagu yang baru mereka buat. Menurut Dried Cassava, karya tersebut sudah cukup lama dibuat dan bahkan sempat beberapa kali mereka mainkan saat manggung. “Cuma ada beberapa input setelah perform atau setelah beberapa kali kami bawakan yang akhirnya sedikit demi sedikit kami modifikasi agar bisa terdengar nyaman di kuping. Alhasil kami membuat beberapa modifikasi.”

Dried Cassava menggarap rekaman “Blueberry Man” di ALS Studio dan mengeksekusi mixing serta mastering di Double Deer Studio, dibantu oleh Adhe Arrio (Double Deer). Setelah “Blueberry Man”, Dried Cassava telah mencanangkan penggarapan album, yang bakal menjadi album ketiga mereka, dan sejauh ini perkembangannya telah mencapai 50%. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY