Gerombolan dark hardcore punk yang berbasis di Bali, Apatice telah melontarkan album mini (EP) perdana mereka, “Legam” sejak 4 Mei kemarin. Karya rekaman yang melahirkan single jagoan, “Rajam Bhineka” tersebut menyuguhkan lagu-lagu yang berbalut geberan noise nan mentah namun tetap mempertahankan sound clean dalam setiap jengkal komposisinya.

Proses penggarapan “Legam” menghabiskan waktu tiga bulan. Cukup singkat, tapi melalui sejumlah revisi baik dari sisi lirik maupun bagian-bagian lagunya.

“Karena keinginan kami adalah membuat EP yang memiliki karakter sound raw, kami menggabungkan beberapa unsur genre di dalamnya. Ada hardcore punk dan blackened hardcore, sehingga menjadi seperti sekarang ini,” seru Gustu Satya, dramer Apatice, kepada MUSIKERAS.

Dengan kata lain, setiap lagu yang bersemayam di “Legam” menggambarkan evolusi seputar pendewasaan serta pemilihan karakter sound serta pemantapan yang lebih dalam pada penggarapan materi lagu.

Selain itu, saat menggarap EP ini, para personel Apatice banyak mendengarkan lagu-lagu dari band Baptists dan Alpinist. Meski tidak ‘plek keteplek’ kedua band tadi sedikit banyak memberi pengaruh terhadap sound dan part-part lagu mereka. “Legam” sendiri hanya dirilis dalam format kaset dalam jumlah terbatas, yakni hanya 40 keping.

Dari sisi lirik, Apatice ingin menyampaikan kepada para pendengarnya tentang pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama. “Tidak ada sekat pemisah dalam keberagaman itu. Betapa indahnya jika kita hidup damai dan toleran. Stop-lah menjadikan agama sebagai senjata untuk memecah belah,” ungkap Gustu lagi.

Rencananya, Apatice akan menindaklanjuti EP ini dengan rangkaian tur yang sampai saat ini masih mereka garap konsep dan penjadwalannya. Setelah semua rampung, Gustu dkk akan kembali masuk studio untuk menggarap materi baru.

Buat tambahan informasi. Apatice berdiri pada 9 Januari 2017 di Bali dengan formasi Gustu, Rama (vokal), Emon (gitar) dan Yande (bass). Berawal dari kumpul-kumpul di studio musik mereka lantas bersikeras untuk menciptakan genre baru di skena musik ‘bawah tanah’ Bali. Saat itu, band ber-genre hardcore sudah banyak dan terbilang lumrah di Bali. Berbekal banyaknya varian influence yang juga berasal dari genre yang saling berseberangan, Apatice berhasil menemukan ramuan musik sendiri yang sejujurnya mereka pun belum tahu menamakannya. Intinya, Apatice tidak pernah membatasi pengaruh terhadap musik mereka. (RN/MK03)

.

1 COMMENT

Leave a Reply to Sandro Cancel reply