Pasukan experimental metal asal Bandung, Haviour sedang menyiapkan sebuah album mini (EP) bertajuk “Life Love Money Die Old”. Band bentukan Februari 2014 ini mengemasnya dalam balutan distorsi garang yang disilangkan dengan nuansa post-rock. Tak cuma itu, EP tersebut juga merupakan penghargaan terhadap mendiang gitaris mereka, Adrian Maulana Aziz.

Sejauh ini, proses penggarapan “Life Love Money Die Old” sebenarnya baru berjalan sekitar 30 persen, dimana bahan mentahnya berasal dari kumpulan gagasan dari setiap personel Haviour. Melalui karya rekaman ini, mereka mencoba untuk lebih mendewasakan diri baik dari sisi musik maupun cara mengemasnya.

Untuk urusan sound misalnya, kini mereka lebih banyak menghidangkan melodi harmonis dan ketukan-ketukan ganjil dan jauh lebih lebih garang dibandingkan album sebelumnya, “Worlds And Dreams” (2017).

“Musiknya easy listening, part-part-nya indah, banyak mengandung pesan di dalam setiap liriknya untuk setiap orang yang mendengar langsung sangat mengena ke hati,” tutur gitaris Indra kepada MUSIKERAS.

Secara spesifik soal lirik, Indra menjelaskan, begitu banyak pesan yang ingin disampaikan Haviour kepada para pemuja musik keras di mana secara keseluruhan menceritakan tentang kelahiran hingga kematian manusia.

“Dengan beranjaknya mereka (seorang manusia) dewasa, lalu dia mengalami lika-liku kehidupan, perasaan cinta, penyesalan, kehilangan, kesenangan, depresi, hingga akhirnya tenang dan damai di kehidupan kedua. Karena pada dasarnya kita hidup hanya sementara,” urainya.

Selain Indra, saat ini, Haviour diawaki Abull (vokal), Zericko (dram), Zaky (bass) dan Richi (gitar). Nah, masuknya Zaky dan Richi inilah yang sedikit banyak menambah harmonisasi di setiap part lagu dalam “Life Love Money Die Old”, yang sedikit banyak sudah dipengaruhi musik para idola mereka seperti Counterparts, Misery Signals, Plini, Vitalism dan Shai Hulud. 

“Tapi kami hanya mengambil referensi dari sisi  kualitas sound saja, sementara untuk part musiknya murni hasil pemikiran kami. Musik adalah kepuasan hati. Musik merupakan obat penawar dalam setiap situasi dan kondisi pribadi manusia,” cetus Indra diplomatis.

Jika tak ada halangan, EP “Life Love Money Die Old” akan dilepaskan Haviour pada Agustus 2019 mendatang. Rencananya berisi enam lagu, dimana salah satunya yang bertajuk “Journey 22 January We Lost” akan dijadikan gerbang pembuka setelah Lebaran nanti, sekaligus sebagai lagu yang didedikasikan untuk Adrian yang wafat pada tanggal tersebut. Saat ini, lagu tersebut sudah memasuki tahapan mixing dan mastering, dan bakal ditindaklanjuti dengan pembuatan video klip.

Sebagai pemanasan sekaligus gambaran corak musik Haviour sebelumnya, simak salah satu lagu Haviour dari album “Worlds and Dreams” di bawah ini. (RN/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY