Berawal dari progresi kord heavy dari cabikan jemari bassis Lucky, yang dikawinkan dengan riff dan gesekan botol (bottle slide) dari gitaris Kevin, terciptalah sebuah komposisi bluesy yang membara bertajuk “Martyr”. Inilah single debut dari pasukan rock asal Jakarta, Black Horses yang dirilis sejak 17 Mei 2019 lalu.

“Martyr” berkisah tentang pengalaman pribadi sang pembetot bass. Sebuah ideologi hidup dan passion sebagai pemain musik yang dikekang keluarga serta juga penggabungan fenomena-fenomena sosial tentang masyarakat yang termanipulasi oleh  pemahaman-pemahaman yang dogmatis.

“Semoga setiap manusia menjalankan apa yang dia percayai dengan sepenuhnya. Semoga setiap insan menemukan jalannya berdasarkan pengalaman dan akal sehatnya atas dasar mencari, tanpa dihalangi apa pun serta tidak merugikan orang lain,” tutur dramer Julian kepada MUSIKERAS.

Melalui single tersebut, Black Horses ingin menghidupkan kembali musik rock era ’70an dengan musikalitas yang tinggi dan jujur dimainkan dari hati serta terinspirasi dari para idola mereka semisal Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple, Free hingga Rush,

“Udah bosen dengerin ramainya musik elektronik yang kebanyakan ‘bohong’. Semua dramnya di-quantized, vokal pakai autotune, sampling lagu orang,” kata Kevin, beralasan.

“Musikalitas era ’70an itu (selain jujur) ekspresif banget. Apa yang kita denger di rekaman itu memang real peformance dari musisinya. Nggak ada automation, nggak ada pitch correct, nggak ada copy paste. Just pure musicianship,” seru vokalis Rafi menimpali.

Untuk itu, agar nuansa rock ’70an terasa nyata, Kevin dkk menggunakan tape machine Studer A827 saat proses mastering di Palmhouse Studio lewat bantuan Pandji Dharma. “Tape machine Studer a827 ini pita. Kami ngejar sound yang vintage yang sudah pasti lebih warm dan lebih lebar. Meskipun sesi recording kami lewat Protools, yang notabene digital. Makanya pada saat mastering kami pakai tape machine Studer A827 ini.”

Lalu, apa pelajaran penting apa yang didapatkan Black Horses saat melakukan proses rekaman “Martyr”?  Banyak sekali. Khususnya dari sisi skill tiap personel, aktualisasi diri antarsesama, membentuk ikatan dari tiap-tiap personel yang akhirnya membuat Black Horses bukan hanya sebuah band melainkan keluarga.

“Sesungguhnya, banyak hal yang bisa menjadi alasan bagi Black Horses untuk bermain musik, dan sejujurnya kami bermain musik untuk kami dan orang banyak, kami ingin menyampaikan pesan kepada semua orang tentang apa yang kami lihat, kami pikir, dan kami rasakan,” tutur Rafi diplomatis.

Karir Black Horses sendiri mulai bergulir sejak awal 2015 lalu. Mereka langsung bermain musik dan mulai menciptakan lagu. Mereka dipertemukan oleh kecintaan kepada musik dan visi misi yang sama. Nama Black Horses dipilih lantaran terinspirasi dari kisah Four Horsemen of Apocalypse yang menganalogikan tiap personelnya. Setelah sekian lama jamming, menciptakan lagu dan manggung di berbagai event, Black Horses akhirnya menelurkan single “Martyr” di bawah label Splectrum Records. Lagu yang direkam di garasi Black Horses yang berlokasi di daerah Kemang ini bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, iTunes, Amazon, Tidal, Pandora dan sebagainya. (RN/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY