Holykillers, band asal Tangerang yang memainkan genre metalcore/melodic death metal akhirnya berancang-ancang merilis album dalam waktu dekat ini. Dan sebagai pembuka jalan, mereka baru saja meletuskan sebuah single ganas bertajuk “Dogma (in)Toleransi” yang sudah bisa disaksikan video musiknya di kanal YouTube sejak  21 Mei 2019 lalu.

Sebenarnya, rencana perilisan album sudah ditetapkan tahun lalu, namun target tersebut meleset karena terhadang beberapa kendala. “(Kini) Kami targetkan untuk rilis pada pertengahan tahun ini,” cetus gitaris Zethria Okka kepada MUSIKERAS, menjanjikan.

Di tumpahan lirik single “Dogma (In)Toleransi” yang ditulis oleh vokalis M. Reza dan dramer M. Febriyanto tersebut, Holykillers bercerita tentang fenomena yang sedang marak terjadi di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan. Berdasarkan hal yang mereka rasakan, Indonesia sedang diserang dengan informasi yang tidak jelas sumbernya dan mengakibatkan banyak orang yang secara tidak langsung berselisih paham. Karena hal tersebut, memunculkan banyak oknum yang mengatasnamakan agama sebagai alat untuk memecah belah Indonesia. Di dalam video yang mereka rilis, banyak visualisasi yang menggambarkan hal-hal tadi seperti: kerusuhan, cuci otak dan beragam visual lain yang dapat audience simpulkan sendiri.

Dalam pembuatan video “Dogma (In)Toleransi” sendiri, seluruh proses produksi dieksekusi sendiri, mulai pra-produksi, produksi sampai kepada tahap paska produksi, yang dibantu oleh Riki Maulana sebagai pengarah fotografi.

Ihwal pembuatan lagu “Dogma (in)Toleransi” diawali keresahan para personel Holykillers terhadap fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, sehingga mereka memutuskan membuat sebuah lagu dengan tema fenomena intoleran yang terjadi di indonesia.

“Untuk lagu ini, kami bereksperimen dengan tuning yang lebih low, lebih berat dan komposisi yang lebih modern dibanding lagu Holykillers sebelumnya. Ditambah juga, untuk produksinya kami mengajak Ragamaharasta dari Sequel of Sunday sebagai vocal director dan Wisnu Ikhsantama Wicaksana sebagai engineer untuk mixing dan mastering yang mampu memproduksi musik metal modern seperti yang kami inginkan,” tutur Okka mengenai proses kreatif penggarapan lagunya.

Pembuatan “Dogma (in)Toleransi” sendiri membutuhkan waktu hampir dua tahun, karena menurut Okka yang menggarap aransemennya bersama bassis Stefanus Dicky, sebenarnya lagu yang direkam di Soundpole Studio serta FS Music Studio tersebut juga dikerjakan bersamaan dengan lagu lainnya untuk kebutuhan album. “Kesulitannya sendiri adalah menyesuaikan range vokal dan membagi layer dengan musik yang (menggunakan) tuning sangat low.”

Dari segi olahan musik, Holykillers mengaku menerapkan konsep yang jujur, lugas, dan tidak banyak basa-basi. “Dengan emosi yang benar-benar terluapkan,” cetus Okka.

Sementara untuk referensi peramuan aransemennya, para personel band yang terbentuk sejak 2010 ini banyak menyerap dari unsur metalcore model Killswitch Engage, Unearth serta Trivium. “Namun ada (juga) sentuhan modern dari Fit for An Autopsy dan Monuments.”

Holykillers adalah salah satu band yang pernah terlibat di album kompilasi “Musikeras Cracked It!”, yang dirilis Musikeras.com pada 21 April 2018 lalu. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY