Walau album mini (EP) “Space Psyche” telah dirilis sejak September 2018 lalu, namun ternyata efek getarannya belum reda. Bahkan sang pemilik karya rekaman, yakni unit alternative rock asal Jatinangor, Superego, tidak tanggung-tanggung langsung menembus pasar luar negeri. Tepatnya di Inggris. 

Adalah Nicolas Pierre, pemilik Shore Dive Records, sebuah label musik independen asal Brighton, Inggris yang ternyata tertarik merilis ulang EP debut Superego tersebut. Shore Dive Records sendiri telah merilis banyak band dengan aliran Shoegaze/Dreampop/Electronica/Post-Rock/Post-Punk/Noise dan lainnya.

Berawal dari obrolan di salah satu media sosial, dan dilandasi kesamaan akan cita rasa musik menjadi awal ketertarikan Nicolas, untuk merilis “Space Psyche” di kota tempat tinggalnya. Keputusan itu muncul setelah mendengarkan EP Superego secara menyeluruh. Tanpa ragu Nicolas lansung menawarkan untuk merilis ulang secara digital dan fisik EP tersebut. Tentunya ini menjadi suatu kebanggaan bagi Superego, yang saat ini diperkuat formasi Jeremy Jonathan (vokal/gitar), Yoendo Nebriko (gitar), Raihan Setiawan (bass) dan Rifqi Hidayat (dram).

Tapi berbeda dibanding EP yang dirilis di Indonesia, “Space Psyche” versi Shore Dive Records bertajuk “Special Edition” dengan tambahan dua lagu, yakni “Indecision” dan “Fall”, materi pertama Superego yang belum pernah dirilis sebelumnya. Kini “Space Psyche – Special Edition” sudah bisa diakses melalui akun Bandcamp dari Shore Dive Records.

Proses kreatif penggarapan materi “Space Psyche” sendiri dimulai sekitar Juni 2018. Tepatnya setelah Superego menemukan Raihan, yang masuk menggantikan Talia Thaib yang hengkang. Keinginan untuk merilis EP dengan pendanaan minimalis, memberi semangat Superego untuk melakukan semua proses rekaman secara DIY (Do it Yourself). Melalui bantuan Cupnoise Music yang menyediakan tempat dan peralatan rekaman,  proses rekaman “Space Psyche” pun dieksekusi. Mereka butuh waktu sekitar dua bulan untuk merampungkannya. Khusus lagu “Fall”, Superego sebenarnya sudah merekamnya pada 2017 silam.

Di EP “Space Psyche”, Jeremy dan rekan-rekannya di Superego melakukan eksperimen dengan menggabungkan unsur musik shoegaze dan Japanese rock, yang menciptakan nada-nada ceria namun terdengar depresif. Single debut “Indecision” lantas mengantarkan Superego menjejaki beberapa panggung besar di Bandung setelahnya.

Eksperimen musik Superego di “Space Psyche” sendiri berbeda dibanding “Space Psyche”. Jeremy yang menangani langsung pengolahan aransemennya memberanikan diri untuk memadukan tiga jenis sub genre alternative rock, yaitu grunge, shoegaze dan postrock. Nama-nama besar seperti Nirvana, My Bloody Valentine dan God is an Astronaut menjadi karakteristik baru di EP “Space Psyche”.

“Lirik-lirik di dalam album ini menjadi sarana untuk menyampaikan perasaan amarah, kekecewaan dan depresi,” ungkap Jeremy kepada MUSIKERAS.

Geliat Superego sendiri bermula dari prakarsa Jeremy Jonathan pada 2015, yang lantas mengajak orang-orang yang memiliki pemikiran dan tujuan yang sama, yaitu mengembalikan semangat musisi-musisi muda Jatinangor untuk berkarya dengan seluruh kemampuan mereka sendiri. Talia Thaib dan Rifqi Hidayat adalah rekrutan awal Superego, yang kemudian memberikan aura grunge minimalis di ramuan musik band tersebut. Lalu keinginan untuk menambah warna di musiknya diwujudkan dengan mengajak Yoendo Nebriko bergabung. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY