Tantangan terbesar sebuah band biasanya terletak pada ikatan emosionalnya (chemistry). Sisi itulah yang memberi andil besar dalam proses kreatif saat berkarya. Bagi Eternal Desolator, membangun chemistry telah menjadi menu utama yang harus mereka lahap sekaligus diatasi, terutama saat menjalani proses penggarapan “Omnipotence Paradox”, album penuh yang telah dirilis unit deathcore asal Purwokerto tersebut, dalam format fisik dan digital via label Medusa Records dan Heartcorner Records.

Terlebih lagi, salah satu personel mereka, yakni vokalis Faisal Nur Muhammad Basef baru bergabung pada Agustus 2018 lalu dan bahkan baru mengantongi pengalaman manggung sekali. Lalu selain itu, proses kreatif yang dijalani saat penggarapan album juga sempat terhenti karena mereka ‘keukeuh’ untuk menggeber distorsi deathcore.

“Referensi tiap personel memang tidak begitu signifikan,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS mengawali penjelasannya.

Misalnya seperti Farobi “Robi” Fatkhurridho (dram) dan Satria “Bangkit” Prasetyo (bass) yang ternyata baru terjun dalam praktek deathcore. Sebelumnya, keduanya hanya berkutat di seputaran genre deathmetal. Sedangkan personel lainnya, yakni Ananta Ajie (gitar), Kornelius “Acong” Steven Sugiarto (gitar) dan Faisal sudah terbiasa mengeksplorasi deathcore serta Djent.

“Namun dengan perpaduan masing-masing literasi yang dimiliki cukup memberi angin segar dalam penggarapan materi. Karena album ini juga merupakan album pertama yang diproduksi oleh setiap member, membuat nuansa excited-nya semakin kental, sehingga semangat dan eksplorasi materi terasa sangat menyenangkan dalam proses workshop,” urai pihak band lebih lanjut.

Tapi, menyatukan literasi dan chemistry rupanya bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Eternal Desolator. Genre deathcore yang mereka anut rupanya bukan ‘makhluk’ yang disambut meriah di Purwokerto.  Mereka menyebut skena deathcore di Purwokerto benar-benar mati. Jadi untuk skala lokal, sangat menantang bagi sebuah band yang tiba-tiba muncul ke permukaan dengan bermodalkan sebuah album berwajah deathcore.

“Terlepas dari anggapan miring sub-genre ini – dengan segala sejarah polemik yang menyertainya – kami beranggapan bahwa kami ingin berkarya dengan mengeksplorasi lebih jauh musik yang kami ketahui, yang tentunya dalam ranah musik keras ini. Dan menurut kami, deathcore memiliki ruang yang luas untuk bisa dieksplorasi lebih jauh. Meskipun banyak sekali sindiran atau masukan dari beberapa rekan yang mengatakan genre kami bukan deathcore, melainkan ini atau itu, namun bagi kami itu hanya masalah penyebutan dalam media dan tidak begitu diambil pusing. Pun yang kami harapkan dengan keluarnya debut album kami adalah turut memicu arus lokal kembali bergerak dan meramaikan skena. Karena seni terlebih musik akan selalu berkembang, ide-ide baru akan selalu muncul dan kritik yang pedas serta masukan yang membangun akan menyertainya.”

Proses kreatif pembuatan album “Omnipotence Paradox” yang meneriakkan tema seputar pembunuhan, pembantaian dan genosida itu sendiri berlangsung cukup singkat. Setelah berhasil membentuk formasi terbarunya, Eternal Desolator menaikkan intensitas pertemuannya dan melakukan workshop yang cukup repetitif di studio. Berlangsung selama kurang lebih tujuh hingga ke tahap siap kemas. Dimulai pada awal September 2018 sampai Maret 2019. Komposisi materi lagu-lagunya merupakan paduan karya baru dengan tambahan tiga lagu lama yang didaur ulang, yaitu lagu “Bermuda”, “Homicidal Epilogue” dan “Lost/Found”.

“Proses rekaman berjalan dengan santai namun teratur, dipermudah dengan adanya (kontribusi) gitaris kami, Ananta Ajie yang memiliki studio rekaman rumahan sendiri bernama Medusa Record, sehingga proses rekaman terasa labih ringan dalam target dan masalah finansial. Selebihnya untuk proses take drum dilakukan di Rocket Studio yang masih dalam lingkup area Purwokerto.”

Eternal Desolator sendiri telah terbentuk sejak Mei 2015 dan sebelumnya pernah merilis single “Homicidal Epilogue” dan “Slaughter Extermination” pada awal 2019 lalu. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY