Cara berpikir bijak dalam menghadapi sebuah tantangan adalah dengan menyikapinya bukan sebagai tantangan, melainkan sebagai ‘hal yang harus dihadapi’. Prinsip itulah yang dipegang kuat oleh Goddess of Fate, unit progressive metal asal Jogjakarta, saat menyiapkan rangkaian tur di sejumlah kota dan negara di Asia, yang bertajuk “Spiral Road Tour 2019”.

Jika tak ada aral melintang, mulai 6 Juli 2019 mendatang, band yang dimotori formasi Dicky Faizal Huda (vokal), Revanda Verdian (dram), Saka Pramudita (gitar/kibord) dan Ahmad Okta Perdana (bass) tersebut akan mengunjungi Surabaya (Jawa Timur), Batu (Jawa Timur), Cirebon (Jawa Barat), Bandung (Jawa Barat) dan Jakarta pada 14 Juli, lalu lanjut lagi ke Tokyo, Jepang (14-15 November), Singapura (17 November) dan terakhir di Kuala Lumpur, Malaysia pada 18 November 2019.

Dalam tur tersebut, Goddes of Fate akan membawa album debut “Spiral Orchard Pt.1” edisi spesial dengan tambahan satu bonus trek bertajuk “The Orchid Gardener”, yang rencananya juga termuat di album lanjutan, “Spiral Orchard Pt.2” yang bakal dirilis tahun depan. Album edisi spesial tersebut terwujud berkat kerjasama Goddess of Fate dengan label Narcoleptica Productions (Rusia) dan Samstrong Records (Indonesia).

Fugazi, unit punk rock asal Washington (AS) disebut pihak Goddes of Fate sebagai sumber inspirasi mereka selama ini dalam bergerak mempromosikan karya musik dan pertunjukan. Karena Fugazi bisa sangat sukses dalam merilis album mereka sendiri serta menyiapkan pertunjukan mereka sendiri.

“Saya tahu ada banyak band yang melakukan semua hal seperti itu, terutama di skena underground. Tapi saya tidak pernah tahu ada band yang melakukannya sesukses mereka (Fugazi). Dalam hal ini, mereka adalah idola kami. Setiap kali kami mempromosikan musik dan mempersiapkan tur atau shows, kami selalu berpikir, ‘Apa yang akan dipikirkan (vokalis/gitaris Fugazi) Ian MacKaye tentang ini?’ . Sehingga jika sudah ada arah dan tujuan dari awal, tantangan yang ada jadi tidak dilihat sebagai tantangan, tetapi lebih kepada ‘hal yang harus dihadapi’, urai Okta kepada MUSIKERAS, mewakili pihak band.

Sambil menyiapkan “Spiral Road Tour 2019”, Goddes of Fate kini juga tengah merampungkan proses penggarapan album terbarunya, yakni “Spiral Orchard Pt.2” yang sejauh ini produksinya sudah mencapai kurang lebih 70%. Dalam penggarapan proses kreatifnya, ungkap Okta, mereka banyak belajar untuk memiliki pengontrolan diri yang lebih matang dalam mengeksekusi konsep musikalnya.

“Untuk mendapatkan kontrol diri itu, kami perlu menggambar garis pembatas, dan pembatas dalam konteks ini adalah ‘konsep’. Kami sebagai band mencoba untuk menciptakan konsep sejelas mungkin sehingga kami dapat memahami apa yang harus kami lakukan dan (apa yang) tidak boleh. Kemudian setelah kami memiliki beberapa gambaran musik, kami mencoba untuk tetap konsisten dengan itu. Sesimpel itu.”

Terbentuknya Goddes of Fate sendiri dimulai pada 2009, digagas oleh Okta dan Saka, teman SMA yang sama-sama ingin membuat band berkontur progresif. Karya rekaman pertama mereka adalah album mini (EP) “A Reversal of Civilization” (2012), dengan konsep yang masih sangat kental dipengaruhi genre technical death metal. Lalu terjadi pasang dan surut, sampai akhirnya pada Mei 2018 mereka berhasil merilis “Spiral Orchard Pt.1”, album yang berhasil menuai respon positif. Karya yang direkam di Watchtower Studios, Yogyakarta tersebut dipuji oleh berbagai media, termasuk media asing seperti Vice, Metal Injection dan Metal Hammer Magazine.

“Spiral Orchard Pt.1” sendiri menerapkan konsep eksploratif Goddes of Fate, yang secara keseluruhan dibentuk oleh pengaruh progressive rock era ’70-an, lalu imbuhan melodic death metal ’90an serta soundtrack JRPG.

“Terdengar somber dan introspektif, diperlihatkan oleh vokal death metal dan riff disonan yang dimainkan seolah-olah peta jalan sedang dibuat saat berjalan. Perubahan tempo selalu ada. Bagian midtempo dengan gitar akustik masuk dan keluar di sekitar vokal yang lebih tenang. Secara tematis konsep album ini adalah tentang orang-orang dengan masalah mental dan bagaimana mereka berjuang dan akhirnya menerima dan berdamai dengannya. Satu presentasi dari awal hingga akhir.”

Selain olahan para personelnya, “Spiral Orchard Pt.1” juga mengikutsertakan berbagai musisi tamu, yakni Wednes Mandra dari proyek kelam Rabu, Nikodemus Febrian dari band grindcore brutal, Deadly Weapon, J. seorang gitaris band old school teutonic thrash Jogjakarta, Headkrusher, Made Dharma dari band shoegaze terbaru Sunlotus yang bertindak sebagai salah satu engineer, serta tidak ketinggalan ‘bapak indie/post rock’ kebanggaan Jogjakarta, Indra Menus, ikut menyumbangkan vokalnya. Sementara artwork album ini dieksekusi oleh seniman senior Oik Wasfuk dan Mors/Imagomortis. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY