Jarang manggung tapi menghasilkan karya rekaman. Untuk sementara ini, itulah hasil yang lebih membanggakan bagi Lawrider. Bukan karena tidak digemari. Selain masih tergolong band baru, namun karena unit rap-rock/heavy metal asal Yogyakarta ini juga masih mengedepankan pekerjaan dan penyelesaian studi, yang mereka anggap sebagai kebutuhan pokok.

“Di sela itu kami mencoba mementingkan membuat karya. Karena inti dari bermusik menurut kami ya harus ada karya dulu, perform menyusul. Beberapa event pernah menawari kami main, tapi kami dengan berat hati melepasnya karena emang belum bisa. Setelah EP ini lepas dan kesibukan kami mulai berkurang, kami akan siap menghajar jalanan lagi seperti program weekend tour yang pernah kami lakukan beberapa waktu lalu,” tandas pihak Lawrider kepada MUSIKERAS, yang tengah menyiapkan perilisan album mini (EP) pertamanya yang bertajuk “Extended Play”.

Rekaman “Extended Play” sendiri digarap Rio “Bog” Saputra (gitar), Wijayanto “Pablo” Respati (vokal), Rafly Ardiansyah (bass) dan Sholeh Arif Wahyudi (dram) selama enam bulan di Goatrock Studio, milik salah satu teman mereka. Sementara untuk produksi fisik albumnya dibantu rekan mereka dari Samstrong Record dan bakal segera dirilis oleh Buzz House Records. Bagi Lawrider, “Extended Play” menjadi langkah awal yang dilakukan untuk memulai karir bermusik mereka. Masih dengan tema bersenang-senang, mereka berusaha untuk berbicara jujur dengan apa yang mereka rasakan di sekitar, yang kemudian dituangkan dalam balutan musik berkontur rap-rock/heavy metal.

Selama proses penggarapan, Lawrider menggarisbawahi kesabaran dalam menikmati prosesnya. Karena proses kreatif dalam sebuah band tentu saja tidak selalu berlangsung dengan mudah. “Ya, biasa anak band kalo udah mau rekaman gontok-gontokan untuk nentuin susunan lagu, di dalam lagu mau diisi apa aja, aransemen mau kaya gimana, tapi ya syukurnya selesai juga. Dan gontok-gontokan itulah (yang) kami rekam di dalam EP ini,” seru pihak band lagi, semangat.

Enam trek komposisi yang termuat di “Extended Play” melebur semua referensi musikal yang menempel di Lawrider. Terutama di lagu “This Is How We Do” yang sebelumnya sudah dilepas sebagai single pada Februari 2019 lalu. Secara keseluruhan, menurut pihak band, lagu itu sangat mewakili keseluruhan idealisme masing-masing personel dalam konteks musikal.

“Ada rap, heavy metal, sedikit nuansa hardcore di tengah, dan stoner di belakang. Selain itu, lirik lagunya juga mewakili kami dalam hal bersenang-senang dalam bermusik, di luar kesibukan sehari hari, kami datang ke gigs. Ya, ini kami banget!”

Setelah perilisan “Extended Play”, Lawrider yang terbentuk pada 2018 lalu ini bakal segera menyusun jadwal tur melintasi Pulau Jawa dan Bali, yang akan berlangsung pada Agustus 2019 mendatang. (mdy/MK03)

.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY