Saat diulas MUSIKERAS pertama kali, tepatnya pada Agustus 2018 lalu, Post-Human sempat menetapkan konsep musik tanpa kontribusi gitar. Formula itu lantas dituangkan oleh unit progressive metal asal Bandung ini di single perdana bertajuk “Lost”. Namun seiring dengan pengembangan kreativitas dalam menggarap album mini (EP) debutnya yang berjudul “Nothing To Be Done”, akhirnya mereka memutuskan untuk menyuntikkan permainan gitar di lagu-lagunya.

Jadi berbeda dengan rilisan sebelumnya, kali ini formasi Post-Human sudah diperkuat kontribusi Domu di lini gitar, melengkapi Getha Azzam (bass), Boris (bass), Rizqi Iskandar (vokal) dan Richard Mutter (dram). Kehadiran Domu menghadirkan kebutuhan frekuensi tinggi di “Nothing To Be Done”, sekaligus memperluas warna dan posibilitas permainan musik Post-Human.

“Sederhananya, kami pikir sound yang kami hasilkan waktu lalu (tanpa gitar) terlalu sempit karena frekuensi atas tidak terjamah dengan baik. Maka demi kekayaan lagu yang kami hasilkan, kami menarik Domu untuk mengisi posisi tersebut,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas.

“Nothing To Be Done” sendiri sudah dirilis sejak 19 Juli 2019 lalu, menghadirkan lima lagu utama serta sebuah komposisi ‘intro’. Konsep lirik dan musik yang diterapkan di album tersebut, Post-Human berupaya mengimplementasikan lima tahapan kedukaan (mendekati kematian) menurut teori Elizabeth Kubler-Ross – seorang psikiater berdarah Swiss-Amerika – yakni ‘penolakan’ (denial), ‘kemarahan’ (anger), ‘pengharapan’ atau ‘negosiasi’ (bargaining), ‘depresi’ (depression) dan diakhiri dengan ‘kepasrahan’ atau ‘penerimaan’ (acceptance).

Penggarapan “Nothing To Be Done” dieksekusi Post-Human secara mandiri, sehingga buat mereka sangat berkesan. Mulai dari tahap pembuatan guide yang sudah dimulai sejak tahun lalu, hingga mixing dan mastering yang mereka kerjakan bersama Avedis Mutter di Rebuilt 40124.

“Dalam EP ini, kami cukup berbagi porsi atas frekuensi yang kami dominasi masing-masing. Sengaja sedari awal tahap instrumentasi tidak dibuat ketat oleh haluan dasar supaya musiknya menjadi kaya, tidak terpaku pada satu pola dasar. Meskipun tetap ada upaya menjaga tema lagu,” papar Post-Human lebih jauh.

Secara keseluruhan, musik Post-Human banyak terpengaruh berbagai macam genre, yang diserap dari berbagai band seperti Tool, Russian Circles, Bleed From Within dan lain sebagainya. Sehingga dari penyampuran tersebut, band yang terbentuk sejak 2017 lalu ini menawarkan musik yang kaya, tidak monoton serta berbeda.

“Nothing To Be Done” kini sudah bisa dinikmati via berbagai platform digital seperti YouTube, Spotify, iTunes dan lain-lainnya. Selain itu, juga tersedia dalam format fisik. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY