Satu lagi band berbahaya lahir dan menancapkan taring keeksisannya di skena musik cadas Tanah Air. Mereka memproklamirkannya lewat muntahan album debut yang sarat kebengisan distortif agresif bertajuk “Mental Budak Jiwa Penjilat”.

Kenapa berbahaya? Karena Denied yang kendati baru terbentuk pada 2016 silam di Depok ini sebenarnya tidak dihuni muka-muka baru. Para personelnya adalah gabungan para pelaku musik keras tangguh yang sudah kenyang melahap asam garam berbagai ajang panggung berdistorsi di negara ini.

Digagas oleh dua sahabat, yakni dramer Bondie Destiant (eks Panic Disorder) dan gitaris Yudhistira Sidharta (eks Maggot, TheTheMyth). Tadinya, keduanya hanya sekadar bersenang-senang jamming lagu-lagu cover di akhir pekan, lantaran rumah mereka berdekatan. Keisengan itu rupanya berkelanjutan dan bahkan akhirnya berhasil melahirkan empat lagu ciptaan sendiri. Dari situ, mereka lantas bertemu Donni Rimata (Tengkorak, eks- Suffering) yang didaulat mengamankan lini bass. Donni sendiri tadinya merupakan dramer Tengkorak periode 1998-2004 dan banting stir ke bass sejak 2015. Singkat cerita, akhirnya formasi Denied lengkap setelah vokalis Didik Wibowo a.k.a Mbah Koi (Cosmic Vortex, Peligro, eks Genderuwo, Grafenberg) bergabung.

Berselang beberapa waktu, formasi Denied kemudian kerap bertemu dengan Dipa Biomantara (Noxa, Cosmic Vortex) yang memiliki visi dan misi sejalur. Kesenyawaan pun terjalin. Dipa bergabung menjadi bassis baru Denied, yang membuat posisi Donni Rimata bergeser ke gitar. Menurut penuturan pihak band kepada MUSIKERAS, kehadiran Dipa semakin memperkuat formasi Denied supaya lebih bahaya dan rapat komposisi musiknya.

“Apalagi masyarakat permetalan sudah mengetahui rekam jejak Dipa sebagai bassis Noxa dan Cosmic Vortex. Maka bergabunglah Dipa yang tidak usah diragukan lagi kualitas bermainnya.”

Kini, Denied kerap dijuluki sebagai band ‘grindcore all stars’ karena susunan formasinya yang dihuni oleh para musisi grindcore kawakan. Yang pasti, menurut mereka lagi, formasi teranyar ini membuat Denied memiliki amunisi yang lebih berbahaya untuk menggebrak panggung-panggung musik cadas di mana saja.

Eksekusi rekaman “Mental Budak Jiwa Penjilat” sendiri dimulai sejak 2017 lalu, di LB 4 Studio milik Eko “Bunglon”. Prosesnya sekitar tiga bulan. Namun setelahnya Denied sempat vakum pada 2018 disebabkan kepindahan Donni ke Pekanbaru. Tapi pada akhir 2018, Donni kembali lagi ke Jakarta dan proses mixing album pun berlanjut, yang dilakukan di K Studio. Lalu awal 2019, Denied – yang sempat menggerinda “Deathober Fest” di Penang, Malaysia, pada 6 Oktober 2018 lalu – menyepakati kontrak kerja sama perilisan album dengan Blackandje Records.

Secara kontekstual, Denied berarti menolak keras terhadap segala bentuk tren arus utama yang dapat mengontaminasi idealisme dan kejujuran mereka dalam bermusik. Pernyataan sikap tersebut semakin ditegaskan dalam salah satu lagu andalannya yang berdurasi singkat dan bertempo super cepat berjudul “Trendy Bangsat”. Lagu- lagu lainnya pun seperti memuntahkan amarah dan kemuakan mereka yang terpendam seperti “Land of Massacre”, “Mental Budak Jiwa Penjilat”, “Provokasi”, “Politik dan Agama”, “Polemik Malapetaka” melalui gemuruh super sonik yang memprovokasi headbanging dan pogo secara non-stop.

“Denied adalah gabungan ide-ide bermusik dari masing-masing personel yang tidak jauh-jauh dari genre Grindcore. Influence kami adalah Napalm Death, Terrorizer, Nasum dan Lockup,” cetus Denied menegaskan.

Hari ini, “Mental Budak Jiwa Penjilat” resmi beredar, yang didistribusikan oleh label Blackandje Records dalam format cakram padat (CD). Dan dalam waktu dekat, bersiaplah kota-kota kalian dibombardir Denied dalam rangkaian tur promo “Mental Budak Jiwa Penjilat”. Grind on! (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY