Karya album studio pertama sejak ditinggal oleh pendirinya, Ucokk Tampubolon yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Agustus 2015 lalu, akhirnya terlampiaskan. Diperkuat formasi terbarunya, yakni Andi Jaka (vokal), Wisnu (gitar), Amink (bass), Ino Muralino (dram) dan Heyckel (gitar), unit thrash metal asal Jakarta, Divine merilis “Digital Infection” yang diedarkan via label Metal Agent Records.

Bermodalkan kekuatan barunya, warna musik Divine juga turut berubah. Di “Digital Infection”, musikalitas Divine dibuat lebih beragam, memadukan thrash metal old school dengan elemen groovy, progresif, teknikal hingga bahkan balada. Semua terangkum dalam album beramunisikan 10 komposisi dengan durasi total 41 menit tersebut.

Menurut pihak band, ada dua hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, lagu balada serta komposisi progresif. Untuk hal yang pertama, Divine sengaja melakukannya sebagai persembahan untuk teman-teman metalheads yang telah berpulang. Terkhusus buat tiga musisi yang erat kaitannya dengan latar belakang kelahiran Divine, yakni mendiang Ucokk Tampubolon, Beamy Bagaskoro (Brain The Machine, Divine) dan Robin Hutagaol (Noxa, Suckerhead).

“Untuk musik ballads memang sudah ada rencana dari awal mengerjakan album ini, sebagai penghormatan untuk para founder Divine: Ucokk, Beamy dan Robin. Formulanya tak lepas dari formulasi musik rock balada ’80-90an. Harapannya bisa diterima dengan baik oleh khalayak, karena tak sedikit juga band thrash metal yang menyematkan nomor balada di albumnya,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, beralasan.

Lalu hal kedua, kini Divine menyematkan komposisi instrumental berdurasi tujuh menit, yang biasanya lazim dilakukan oleh band-band progressive rock/metal. Tapi yang masih menjadi ‘benang merah’ dengan album-album sebelumnya adalah harmonisasi gitar ala thrash metal old-school, yang berciri khas permainan solo gitar yang bergantian dan berbarengan. Divine mengakui, sedikit banyak pengaruh musikalitas di album ini datang dari para junjungan mereka; Slayer, Testament, Anthrax hingga Metallica, yang diimbuhi ‘racun’ progresif dari Tool, Rush, Dream Theater dan lainnya.

Pengerjaan album “Digital Infection” sendiri telah dimulai sejak 2018 dan menghabiskan waktu sekitar setahun. Divine mengeksekusi rekamannya bersama Ikul Sarden di Basement Studio, Cilandak, Jakarta Selatan. Sementara untuk desain sampul dibuat oleh seniman berbakat asal Yogyakarta, Ernest Hutabarat serta grading oleh Aji Kurnia (eks vokalis Divine).

“Yang paling menarik dari proses penggarapan album ini adalah semuanya berperan baik dan prosesnya berjalan dengan menyenangkan. Legowo saja untuk prosesnya, tidak ada target yang muluk-muluk. Terlebih tiap anggota semuanya sudah berkeluarga dan bekerja, jadi pengerjaannya lumayan menyita waktu weekend. Ide-ide ‘liar’ juga banyak bermunculan dan datang dari mana saja,” tutur Heyckel terus-terang, mewakili rekan-rekannya di Divine.

Sejauh ini, sejak dibentuk pada Januari 2001 silam, Divine telah menorehkan tiga karya rekaman, yakni “Relevasi” (EP 2005), “Anger Thy Giveth” (2008) dan “Long Live Thrash Metal” (2015). (mdy/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY