Menyusul dua single pembuka, yakni “Distorsi” dan “Genosida” yang telah dirilis dalam layanan pemutar musik digital beberapa waktu, kembali Stinghaze mengusik pendengaran para pemuja musik-musik berisik lewat single terbaru. Kali ini bertajuk “Intrik”, yang dibuat berdasarkan asumsi  semata tentang Pemilihan Presiden 2019 lalu.

Panji sebagai vokalis sekaligus penulis lirik, berimajinasi berdasarkan kerjadian-kejadian pada pemilihan Presiden sebelumnya, yakni pada 2014 silam, di mana ada dua kubu yang saling memperebutkan tempat teratas di Indonesia. Kejadian itu ternyata berulang, dan bahkan dikotori oleh kerusuhan dan kekacauan yang terjadi di depan BAWASLU pada 22-23 Mei 2019 lalu. Panji merasa seperti menyaksikan sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan di lagu tersebut.

Walau tidak dirilis tepat pada saat terjadinya intrik Pemilihan Umum, namun dengan adanya kejadian itu, Stinghaze yang juga dihuni Yoga (gitar), Rei (gitar), Fikar (bass) dan Rizky (dram) berharap para pendengarnya bisa merasakan adanya pesan tersirat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dan memang, Stinghaze ingin mengedepankan pesan-pesan seputar isu sosial yang terjadi di sekitar. Stinghaze sebagai band, pada praktiknya menggunakan musik sebagai media untuk menyuarakan masalah sosial yang dianggap meresahkan.

“Melalui setiap lagu yang sudah dan akan dirilis, Stinghaze ingin menyampaikan sebuah cerita dan memberikan pesan tersirat bagi pendengar yang mungkin memiliki perasaan sama terhadap isu sosial,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas.

Lagu “Intrik” sendiri akan dirilis pada 30 Agustus mendatang ke berbagai layanan pemutar musik digital. Proses rekaman “Intrik” berlangsung di Apache Music Studio, Bekasi dengan proses yang terbilang cepat. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam untuk merekam lagu ini, termasuk jeda istirahat. Karena memang materi lagunya sudah rampung jauh sebelum jadwal rekaman. Kendati demikian, proses rekamannya diakui personel Stinghaze tergolong melelahkan karena pada saat itu ada beberapa bagian yang diimprovisasi untuk menyempurnakan lagu tersebut. 

“Ada beberapa pengalaman menarik dalam proses merekam lagu ini,  mulai dari proses mengambil suara bass oleh personel baru Fikar, munculnya ide-ide baru untuk lagu berikutnya, datangnya kawan-kawan yang mendukung kami selama ini, sampai senda gurau yang terjadi selama hampir setiap proses merekam. Meskipun begitu, dalam prosesnya tentu saja tidak lepas dari beberapa kendala teknis, seperti sulitnya memperkirakan tempo metronom dan menyanyikan lagu ini secara lepas karena proses mengambil suara vokal dilakukan pada malam hari.”

Setelah “Intrik”, rencananya Stinghaze akan merekam dua lagu lagi untuk melengkapi album mini (EP) yang dicanangkan rilis tahun ini juga. Sebelum itu, mereka juga akan membuat rilisan fisik berupa demo yang berisikan beberapa lagu untuk disebarkan ke label rekaman serta membuat beberapa produk merchandise yang berguna untuk membantu promosi Stinghaze.

Stinghaze terbentuk pada April 2017, dengan nama yang terangkai dari kalimat ‘dosting’ (dosis tinggi) lalu menjadi ‘sting’, dan ‘haze’ yang diambil dari judul lagu Jimi Hendrix, “Purple Haze”. Konsep awal band ini adalah memainkan musik heavy rock ‘70an yang terpengaruh band-band legendaris seperti Led Zeppelin, Black Sabbath dan juga Deep Purple. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY