Walau baru terbentuk pada September 2018 lalu, tapi Kanekuro rupanya punya energi yang sangat meluap-luap untuk berkarya. Unit post punk asal Denpasar, Bali ini bahkan kini sudah mengantongi sebuah album mini (EP) bertajuk “Inky” (Skullism Record) yang telah dilampiaskan ke ranah musik independen Tanah Air sejak Januari 2019 lalu, dalam format digital dan kaset. Tidak sampai di situ saja. Pada Juni lalu, mereka bahkan juga telah membukukan catatan tur di negara tetangga, Malaysia.

Bagi Kanekuro yang kini diperkuat formasi Andre (vokal/synth), Gesta (gitar), Rio (dram) dan Ginting (bass), melakukan sebuah tur adalah salah satu pencapaian akhir setelah mengeluarkan EP atau album penuh. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Tur mereka sendiri diawali pada 26 Juni 2019 lalu Dreams Project Hall, Ipoh. Di situ, Kanekuro unjuk gigi, berdampingan dengan Glass sebagai band pedamping mereka.

Aksi berikutnya berlangsung pada 27 Juni 2019, kali ini berlokasi di Intunnation yang terletak di pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia. Bersama Lust, Death Becomes Her dan DeFusion sebagai band pendamping. Lalu puncak acara, Kanekuro tampil di Festival Riuh yang berlokasi The Gasket Alley. Kali ini dengan jumlah penonton yang lebih banyak, dan aksi panggung Kanekuro pun terbilang sangat diapresiasi. Dalam perjalanan tur ini, Kanekuro dibantu oleh Afiq Ali, Sukrhie, Aryn (Sifters Asia), Dalia dan Syabil (Golden Mammoth).

Bagi para personel Kanekuro, semua tempat yang mereka kunjungi menyimpan kenangan yang tidak terlupakan. Dan yang terpenting, banyak pengalaman baru yang mereka dapatkan.

“Karena ini pertama kalinya tur keluar dan tentunya, (pengalaman) berkomunikasi, kekompakan dan kebersamaan. Dan syukurnya kami semua berhasil kompak dan saling mengingatkan satu sama lain, disamping kami semua orangnya selow dan asik-asik saja, jadi tidak ada yang saling ngambek atau sikut-sikutan, karena komunikasi kami juga berjalan lancar dan saling mengerti pribadi satu sama lain. Seperti keluarga. Selama tur kami juga banyakan bercanda dari pada seriusnya. Tanpa hal-hal penting itu semua, tur kami tidak akan berjalan lancar. (Kami juga) Bisa komparasi skena di sana, banyak teman yang sealiran kesibukannya, dan terutama (mendapatkan) relasi untuk tur-tur selanjutnya kalau mau melakukan tur Asia Tenggara,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, panjang lebar.

Tentang “Inky” sendiri, album tersebut berpusat pada kisah karangan sang frontman, Andre yang bertema kelam, gelap, suram dan berunsur dongeng. Nuansa itu lantas diantarkan dengan ungkapan musikal yang juga cenderung gelap, melebur elemen post punk, goth, dark wave ‘80an hingga indie pop ‘90an.

“Semua kami kombinasikan di setiap lagu di ‘Inky’. Band-band referensi kami adalah Joy Division, Soviet Soviet, Bauhaus hingga The Smith.”

Kanekuro merekam materi “Inky” setelah beberapa materi lagu terkumpul dengan melakukan jamming di rumah dan melakukan aransemennya di studio, lalu langsung direkam oleh kolega yang sangat dekat dengan mereka, yakni Devan Studio. “Prosesnya pun (berlangsung) hanya kurang lebih empat sampai lima bulan.”

Setelah rampung menjalani tur promo untuk “Inky”, kini Kanekuro berencana memulai proses penggarapan album penuh. Saat ini mereka mengaku sudah punya materi-materi baru yang lebih fresh dikarenakan formasi baru. Saat penggarapan “Inky, Kanekuro masih berformat trio. “Setelah perilisan album penuh, kami akan melakukan tur seluruh Jawa. Semoga tuhan memberkati! Amin.” (aug/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY