Ya, Marcello Tahitoe, atau yang dulu akrab disapa Ello, memang pernah dikenal sebagai penyanyi pop di jalur mainstream. Tapi kini, ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang digemari oleh kebanyakan orang. Marcello memainkan musik yang dia suka sejak kecil, yakni rock, sambil berharap ada orang yang suka. Sesederhana itu. Di album barunya yang bertajuk “Antistatis”, Marcello mengemasnya dengan sound berdistorsi tebal ala musik alternatif era ’90an.

Proses penggarapan “Antistatis” ini sendiri sudah dimulai sejak 2016 dengan proses produksi yang memakan waktu satu bulan. Tapi sesungguhnya, beberapa lagunya sudah ditulis beberapa tahun sebelumnya.

“Kayak lagu ‘Negeri Ilusi’, itu udah ada dari zaman penulisan lagu ‘Berdiri Sampai Mati’ dari album sebelumnya, ‘Jalur Alternatif’,” ungkap Marcello kepada MUSIKERAS.

Kenapa judulnya “Antistatis”? “Gue suka idenya karena kita hidup enggak bisa statis doang. Kita harus berkembang, berevolusi. Jadi itu ide dasar album ini,” lanjutnya beralasan.

Tapi yang terpenting, melalui album ini Marcello merasa lebih jujur dalam menuangkan sebuah karya mengingat dirinya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang digemari oleh kebanyakan orang. Ia dan bandnya – Enos Martyn (bass), Arden Wibowo (gitar) dan Robby Wahyuda (dram) – menggarap musik yang bisa mereka buat, semampu mereka, dan senyamannya mereka. Tanpa embel-embel memikirkan sisi komersilnya. Marcello menyebut karakter sound yang disuguhkannya dalam “Antistatis” dengan istilah ‘guitar music‘. Artinya, racikan musik yang wajib menampilkan alat musik gitar dengan sound organik tanpa tambahan synthesizer dan sejenisnya.

“Memang eksplorasinya lebih banyak di seputaran empat instrumen yang kami mainkan saja. Kadang kami mau nunjukkin bassnya di satu part, kayak di lagu ‘Munafik’ misalnya. Ada juga sedikit solo dram. Ya, akhirnya kami mencoba untuk membuat musik rock dengan konsep tadi.”

Jika dibandingkan dengan album sebelumnya, “Jalur Alternatif”, kali ini Marcello jauh lebih liar dan tidak peduli dengan selera pasar. Ia mengibaratkan, jika misalnya zaman saat masih memakai nama Ello itu ia ada di Pulau A, maka album “Jalur Alternatif” itu jembatannya. Lebih mencoba untuk sedikit friendly.

“Masih kepikiran gitu. Diputer enggak ya di radio? Kalo ‘Antistatis’,  itu udah enggak ada urusannya. Nggak peduli. Secara musik, sekarang lebih bodo amatan. Dan yang penting tetep harus dijaga kualitasnya seliar apapun.”

Secara garis besar, evolusi Marcello melalui album-album yang sudah dirilis digambarkannya sebagai evolusi yang terbalik. Jika orang lain berjalan berdasarkan alur A ke Z, maka Marcello dari Z ke A.

“Gampangnya gini, gue dari kecil suka banget sama musik rock and roll, cuma setelah berkembang dan makin dewasa influens gue bertambah. Gue pertama bisa main gitar itu lagu ‘About A Girl’-nya Nirvana. Gue ingin main musik gara-gara Kurt Cobain. Cuma setelah itu, gue nggak bisa menutupi kalau gue suka Jamiroquai dan Tower of Power.”

Memasuki penggarapan album kedua, Marcello mulai merasa sudah saatnya kembali ke selera asalnya. Yakni, bermain gitar. Tapi produsernya masih melarang Marcello memainkan distorsi. Semakin ke sini, hasrat Marcello semakin tinggi.

“Sampah Sampah Dunia Maya” dan “Munafik” adalah dua lagu dari album “Antistatis” yang sebelumnya telah dirilis sebagai single. Bersamaan dengan dirilisnya “Antistatis”, lagu “Hanyut” lantas didapuk sebagai single berikutnya. “Hanyut” mencampurkan berbagai unsur, ada funk yang dialut diskorsi dengan jangkauan vokal yang cukup menantang Marcello saat membawakannya di panggung.

Pada 1 September mendatang, Marcello Tahitoe akan tampil di panggung “Hodgepodge Super Festival 2019” yang bakal berlangsung di Jakarta. (RN/MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY