Konser Diva Rock Indonesia setelah vakum tujuh tahun, yang sekaligus menyadarkan kita betapa semakin menyusut penyanyi rock cewek dari ranah panggung dan rekaman.

Jumat, 23 Agustus 2019, Balai Sarbini, Jakarta, bergetar. Lengkingan vokal Nicky Astria menyatu dengan teriakan gemuruh penonton sepanjang dua jam pertunjukan. Tidak kurang 15-an lagu dibawakannya mulai dari yang bernuansa balada hingga rock and roll, termasuk single terbarunya, “Terus Berlari” – ini alasan  berlangsungnya  konser malam itu.

Saya tahu ini salah satu pertunjukan tersulit bagi Nicky karena harus beradaptasi dengan aransemen baru yang dibuat oleh Tohpati dengan iringan Light Orchestra-nya. Ia memangkas interlude panjang di setiap lagu yang menjadi ciri khas aransemen musik rock era ’80 – ’90an dan kemudian meletakkannya sebagai tema lagu per lagu.

“Karena jaman dulu kan interlude lagu itu panjang-panjang. Jadi saya sesuaikan dengan suasana sekarang.  Tapi secara keseluruhan nggak banyak yang diubah,” katanya di tengah rehat Gladi Resik di Rossi Musik (21/08). Hanya saja perombakan total terjadi pada “Jerit Anak Manusia” yang dinyanyikan Nicky Astria dengan Tia AFI. Versi asli lagu dari album “Gersang” ini kental bernuansa hard rock, namun malam itu terdengar seksi karena Tohpati menghadirkan sentuhan Arabic. Berbagai perubahan aransemen tersebut memberi ruang bagi bebunyian string untuk menciptakan kemegahan. Konon Tohpati semula merasa deg-degan menunggu respons atas pekerjaannya. ”Tapi akhirnya happy ending.”

Nicky Astria penyanyi yang tidak terbiasa berbasa-basi dengan penonton. Di setiap pertunjukan dia cenderung menggeber lagu demi lagu sampai akhir. Jika pun membuka komunikasi, itu lebih merupakan celetukan pendek yang sering mengundang tawa karena logat bicaranya selalu mengingatkan pada tatar Sunda sebagai tempatnya dilahirkan.  Konser Terus Berlari tentu saja disusun berdasarkan skenario yang harus dipatuhi oleh seluruh pengiri acara. Dan ini sungguh menyiksa. Setiap usai lagu pandangannya langsung tertuju pada screen. “Ternyata bicara itu itu lebih capek dari pada nyanyi,” celetuknya yang disambut tawa penonton.  Akhirnya tanpa disadari dia ngoceh juga.

Beruntung komunikasi yang kebablasan ini tak sampai menggerus tenaganya. Terbukti tensi pertunjukan terus meningkat. Sepanjang pengamatan ia tidak terlihat ngos-ngosan. Nicky Astria menumpahkan energinya pada tiga lagu terakhir yang semuanya berirama cepat, yaitu “Jarum Neraka”, “Gersang” dan “Uang”.  Khusus untuk klimaks ini, Ian Antono  sengaja didatangkan. Pencipta lagu, produser dan gitaris God Bless inilah yang melahirkan ketiga judul itu. 

Single “Terus Berlari” (HP Records) yang menjadi tema konser seakan menggambarkan perjalanan karirnya yang entah kapan akan berhenti. Ia tidak peduli meski banyak penyanyi rock seangkatannya telah banyak yang mengundurkan diri atau pindah jalur menyanyikan musik lain. Nicky tetap memegang teguh komitmen pada profesi bahkan ketika tidak ada lagi yang dikejarnya. “Saya sudah kenyang nyanyi. Dunia ini sudah memberikan banyak hal,” katanya suatu saat. Berdasarkan pemahaman seperti itu kini persentuhannya dengan dunia musik bukan lagi semata-mata kebutuhan popularitas. “Sekarang saya menyanyi lebih untuk kesenangan, ketemu teman lama, seuseurian (ketawa-ketiwi), syukur bisa menjadi sarana ibadah.” 

Promotor Iwan Kurniawan mengaku telah melakukan pendekatan sejak dua tahun lalu agar Nicky Astria bersedia tampil dalam pertunjukan tunggal namun selalu ditepis. Nicky ragu apakah dirinya memang masih ditunggu penggemar. “Salut atas kesabaran Kang Iwan dalam meyakinkan saya,” komentarnya dalam sebuah percakapan melalui telepon.

Keraguan dan selektifitasnya dalam memutus sebuah pilihan membuatnya jarang muncul dalam pertunjukan khusus. Sebagai contoh, musisi kelahiran Bandung yang memulai karirnya pada tahun 1984 melalui album “Semua Dari Cinta” ini baru pada 2012 bersedia mengadakan konser tunggal di Kota Kembang. Tiket pertunjukan ludes beberapa pekan sebelum hari H dan promotor terpaksa membuat tiket tambahan, persis seperti yang terjadi Balai Sarbini.

“Pikiran Nicky itu susah ditebak. Bisa berubah secara tiba-tiba. Dia menyanyi bukan semata-mata karena uang. Dia menyanyi karena memang  mau menyanyi,” komentar Rieta Amilia, salah seorang mantan manajernya.  Namun apa pun keputusan yang diambilnya Nicky selalu habis-habisan. 

Dulu, ketika memutuskan untuk berumah tangga pada 1992, dia nyaris pun gantung mikrofon. Alasannya cukup masuk akal. “Di Indonesia penyanyi cewek yang sudah menikah terus punya anak rata-rata selesai karirnya. Gue mendingan mundur duluan sebelum dilupakan orang.”   

Namun tiga tahun kemudian ia merilis album “Negeri Khayalan”, lengkap dengan potongan rambut super pendek – hal yang tak pernah dilakukannya. Lagu sekaligus judul album ciptaan Pay (BIP) dan Rustam itu meledak melebihi penjualan album “Jarum Neraka”. Ini merupakan fase baru dalam perilakunya bernyanyi. “Negeri Khayalan” sama sekali tidak menampilkan lengkingan. Interlude dibiarkan melayang, sedikit bernuansa psychedelic.

Pengalaman ditangani oleh music director berbeda-beda  membuat kapasitas vokalnya tereksploitasi hingga ke titik maksimal. Ian Antono menampilkan teriakannnya sampai ke titik tertentu namun tetap mempertimbangkan kenyamanannya saat tampil di atas panggung, akan tetapi Yungky S Soewarno menggenjotnya hingga ke titik tertinggi seperti yang terjadi pada lagu “Bias Sinar”. Sementara Sawung Jabo justru bertindak sebaliknya. Pada saat penggarapan album “Mentari Dan Rembulan”, pentolan kelompok Sirkus Barock itu lebih memanfaatkan vokal rendahnya. Pendekatannya pun berlainan.

“Waktu pertama kali bertemu, Mas Jabo tiba-tiba saja muncul di depan pintu rumah menenteng gitar akustik. Nepi ka reuwas urang (sampai kaget saya)!”

Konser Terus Berlari setidaknya membuktikan satu hal, pada usianya yang ke-51 tahun, penyanyi itu berhasil ‘menolak tua’. Kerinduan penonton terpuaskan. Menurut Sofyan Hadi (46), penggagas NickFam – komunitas penggemar Nicky Astria – anggotanya berdatangan dari berbagai kota seperti Bandung, Karawang, Bogor, Bekasi, Garut, Indramayu, Medan, Purbalingga, Jogyakarta, Banjarmasin, Ternate, Tanjung Pinang, Surabaya, Padang hingga kepulauan Sangihe.

Kita tidak akan pernah tahu apakah sukses malam itu akan diikuti oleh pertunjukan di kota lain? Seperti juga produsernya tidak bisa memastikan kapan Nicky akan melanjutkan penggarapan lagu-lagu yang tengah dipersiapkannya untuk album baru. Apa pun, sepertinya Nicky akan terus berlari seperti penggalan lirik dari single terbarunya:

“… Ku harus terus berlari, Kuikuti matahari. Semangat hidupku tak akan pernah mati … (Denny MR)

Kredit foto : Wetty Djundjunan Tokuhisa

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY