Walau meleset dari target awal, yakni merilisnya pada Januari 2019, namun akhirnya unit cadas potensial asal Surabaya, Purity berhasil juga melampiaskan energi brutalnya dalam bentuk album mini (EP) bertajuk  “No Mercy”. Tepat 1 Agustus lalu, EP tersebut digelindingkan via label dari Malang, Gr8day Music, yang sempat merilis deretan album band-band hardcore berbahaya seperti Devadata, Sharkbite, Secret Weapon dan Overthrown (SG).

Juga bisa dibilang, “No Mercy” adalah akhir melegakan dari usaha keras Purity setelah mengalami berbagai kendala saat menjalani proses kreatifnya. Mereka – Fadly Zakaria (dram), Joko Febrianto (vokal), Ryan Febri Wibowo (bass) dan Khaneka Putra Yudistira (gitar) – mulai berkutat dengan kegiatan rekaman sejak Juli 2018, lalu merampungkan mixing dan mastering pada Agustus 2018. Semuanya dieksekusi di studio rekaman, Musical’s Studio, milik rekan mereka sendiri di Surabaya.

“No Mercy” sendiri diedarkan dalam format kepingan cakram padat berisikan empat lagu, yaitu masing-masing berjudul “Origin”, “Inhuman”, “Haunted” serta “Condemned”, single yang telah diluncurkan sebagai single pemanasan pada November 2018 lalu. Keempat lagu tersebut lantas dijalin lewat tuturan lirik yang berkaitan satu sama lain, tentang sosok manusia yang depresi akan rumitnya problematika kehidupan, kemudian secara tersadar telah melakukan perjanjian dengan iblis. Namun di tengah skema perjalanannya muncul satu per satu kekacauan, sampai sosok tersebut menjadi murka dan menggantikan peran sang iblis.

Di “No Mercy”, Purity memilih bermain dengan fragmentasi nuansa hardcore yang kelam dan teracuni oleh karakter sound yang cenderung mengarah ke elemen metal, ditambah dengan karakter raungan vokal yang berat. Bagi para pemuja musik hardcore/metal atau heavy hardcore ala Brutality Will Prevail, Knocked Loose, Code Orange dan juga I AM, pasti sudah tidak awam lagi dengan karakteristik permainan Purity.

Dan dari keempat lagu yang mereka suguhkan di EP tersebut, Purity menyebut komposisi “Haunted” sebagai lagu yang tersulit penggarapannya. “Karena kami pengen ada tambahan riff berbau stoner rock pada beberapa bagian. Kami mencoba datang dengan sesuatu yang fresh sebagai band dengan karakter musik hardcore/metal yang tidak hanya menonjolkan riff-riff yang umum,” urai pihak Purity kepada MUSIKERAS, menambahkan.

Selain dalam format fisik yang hanya dicetak sebatas 100 keping dan tanpa produksi tambahan, “No Mercy” juga tergelar di berbagai gerai digital. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY