Gerakan grindcore terbaru kali ini mengemuka dari Kota Kembang, Bandung. Kali ini dipicu oleh trio bernama Dusx, yang dimotori Tommy Budiawan, mantan gitaris Godless Symptoms, bersama Gempita Adrian (vokal) dan Usenx (dram). Dua nama terakhir masing-masing berasal dari band Plastisin dan Amora Savage. Walau baru terbentuk tahun ini, namun mereka tak mau terlalu lama berbasa-basi dan langsung menggempur lewat single berbahaya bertajuk “Beneath the Limb”.

Dusx memulai penggarapan aransemen “Beneath The Limb” tersebut selama kurang lebih tiga minggu, sampai benar-benar siap untuk direkam. Prosesnya dimulai dari Tommy dan Usenx yang melakukan jamming di studio. Setelah terbentuk kerangka mentah lagu, barulah mereka mengisinya dengan lirik yang dieksekusi oleh Gempita.

“Setelah semuanya fix baru kami masuk studio dan kurang lebih habis tiga shift untuk merekam lagu ini, yang direkam di Valhalla Audio Labs untuk gitar dan vokal, lalu di Funhouse Studio untuk dram. Mixing dan mastering oleh Mr. Toteng dari Forgotten,” ungkap Dusx kepada MUSIKERAS.

“Beneath the Limb” sendiri menyodorkan komposisi dua menit lebih dengan kadar agresivitas yang sangat tinggi. Dan sejak awal terbentuk, mereka sepakat tidak ingin menggunakan instrumen bass.

“Kami ingin menciptakan musik yang agresif dan raw. Kami memadukan unsur grindcore dan death metal pada musik kami. Untuk referensi sendiri kami banyak mendengarkan musik-musik cadas (dari band luar) seperti Dying Fetus, Suffocation, Misery Index dan Decapitated!”

Setelah perilisan “Beneath the Limb”, Dusx sudah mencanangkan sejumlah rencana lanjutan. Menurut mereka, saat ini ada penawaran datang dari label luar negeri untuk merilis album Dusx. Lalu ada juga penawaran dari band negeri tetangga untuk berkolaborasi membuat split album. Tapi untuk saat ini, mereka ingin lebih fokus dalam pengumpulan materi lagu. Selama lima bulan sejak terbentuk, Dusx sudah menjalani proses pematangan empat lagu baru.

“Yang pasti album mini (EP) atau album penuh adalah target utama kami!”

Oh ya, pemilihan Dusx sendiri sebagai nama band didasari pengertian harafiah, yang diambil dari kata ‘dusk’ yang berarti peralihan dari siang ke malam. Siang dianalogikan masa-masa pencarian jati diri dalam ingar bingar skema musik cadas, yang bagi Tommy memakan waktu tidak sebentar, yaitu 15 tahun di band sebelumnya, Godless Symptoms.

“Dan malam dianalogikan momen dimana pada akhirnya Tommy menemukan sound, musik, dan elemen yang paling sesuai dengan selera musiknya. Karakter suara, musikalitas dan spirit dari Gempita dan Usenk merupakan elemen penting yang menjadi fondasi dalam proses pencarian tersebut. Karena inilah kami merasa nama Dusx dapat merepresentasikannya.” (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY