Sambil menyiapkan single terbarunya yang bertajuk “Sense Of Belonging”, unit post-metal dan post-rock asal Jakarta, Morgensoll memanfaatkan jeda perilisannya dengan melepas ulang single mereka sebelumnya, “Ngengat” dalam format kaset. Proyek ini diwujudkan lewat kerja sama dengan pihak Gabe Gabe Tapes, sebuah label kaset dari Jakarta serta Kamar Bising, collective yang juga berlokasi di Jakarta.

Kaset “Ngengat” itu sendiri dirilis dalam kuantitas terbatas, hanya 40 keping, dengan desain sampul baru hasil guratan Almer Rashad. Perilisan ulang tersebut sekaligus sebagai perkenalan yang ditujukan untuk teman-teman lama maupun baru yang belum mengenal Morgensoll.

“Ngengat” sendiri merupakan single kedua Morgensoll bersama Kamar Bising, tepatnya dirilis pertama kali pada September 2018 lalu. Trek panjang berdurasi 13 menit tersebut berisikan materi yang menggambarkan suasana perih, sedih, resah, pasrah dan mencekam. Ditambah dengan vokal serta puisi gelap yang membahas tentang ulah para teroris yang melakukan aksi bom yang terjadi di Surabaya.

Dalam tahap produksinya “Ngengat” membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Morgensoll mendapatkan bantuan dalam penulisan lirik dan vokal dari Edo Dias (Litong) yang merupakan vokalis dari band GodPlant (unit Sludge Metal asal Jakarta) serta Kezia Alaia, penulis buku “Bicara Besar” pada pembacaan puisi. Dalam puisi tersebut, Kezia menekankan bagaimana manusia tanpa daya pikir kritis telah membiarkan dirinya menjadi ‘ngengat’ yang percaya bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan di dalam ‘api’. Kiasan untuk menggambarkan berbagai pemikiran, tindakan dan peristiwa yang melanggengkan dan melancarkan terror, seperti halnya serangga ngengat yang terpikat pada cahaya, padahal sering kali cahaya tersebut adalah api yang dapat membakar habis diri sang ngengat dan mematikannya secara literal maupun figuratif. Dengan pendekatan sureal, puisi ini membayangkan keyakinan-keyakinan palsu yang tertanam di dalam diri pelaku teror dan menyangkalnya habis melalui serangkaian pernyataan retoris.

“Ngengat” dieksekusi dalam komposisi 13 menit yang cukup ‘mengombang-ambing’, mengayak mood yang berubah-ubah seakan memberikan pesan yang dalam untuk duka yang terdalam.

Morgensoll sendiri diawali proyek solo gitaris Haecal Aliba Benarivo. Ia mengambil konsep musik instrumental sejak 2016 dan telah berhasil merilis tiga materi secara digital, yakni dua single bertajuk “Introvert” dan “Ngengat” serta sebuah materi live yang berisikan tiga track berjudul “Prologue”.

Haecal sendiri menggambarkan Morgensoll dengan kalimat, ‘Ditusuk olehnya hatimu dalam-dalam, meluap pikiranmu dalam ramai, hingga hangat dalam diam dan kesendirian’. Seperti renungan di pagi yang dingin, langit mengeluarkan cahaya keunguan, hingga terbitlah matahari yang hangat. Pada momen itulah Morgensoll tercipta.

Lebih lanjut, Haecal menyebut kata ‘Morgensoll’ ia ambil dari kata ‘Morgensollen’, bahasa Denmark yang berarti ‘matahari pagi’. “Nama matahari pagi ini terlintas ketika pada pukul 05.00 setelah sholat subuh saya duduk di teras hingga pukul 07.00. Saya sangat suka sekali momen ketika matahari baru terbit, ketika langit dari gelap, keunguan hingga terang. Mungkin selama dua jam itu bisa saya bilang waktu yang paling berkualitas untuk bisa berkenalan dengan diri saya sendiri,” urai Haecal kepada MUSIKERAS, beberapa waktu lalu.

Morgensoll yang kini juga diperkuat oleh Bagas Wisnu (dram), Sesa Adiaksa (bass) dan Johnpalmut (gitar) saat ini sedang memasuki tahap perampungan single “Sense Of Belonging” yang mana nantinya bakal divisualkan dalam bentuk video klip, sekaligus sebagai pemanasan menuju perilisan album penuh yang direncanakan terwujud tahun depan. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY