Tak lama setelah album mini (EP) “Purge” dirilis 2017 lalu, unit metal asal Bandung, Doomnation langsung tancap gas lagi menggarap materi-materi baru untuk kebutuhan album. Salah satu hasilnya adalah “Modern Genocide”, yang kini telah dirilis dalam format audio-visual berlirik sebagai single peringatan pertama menuju perilisan album penuh pertamanya.

Konsep video lirik itu sendiri divisualkan sepanjang tiga setengah menit dengan mengambil berbagai aspek dari lagu “Modern Genocide”. Diproduksi oleh Interlane Studio dan disutradarai oleh Anaylumireh yang juga beberapa kali pernah bekerja sama dalam produksi audio-visual Doomnation. Lewat video ini pula, Doomnation memperkenalkan logo baru mereka yang tersirat lebih dinamis.

Galva (vokal), Ray (gitar), Taufan (gitar), San (bass) dan Beny (dram) memulai proses penggarapan “Modern Genocide” sejak tahun lalu. Alur prosesnya selalu dimulai dari beberapa riff gitar dari Ray yang direkam melalui DAW. Setelah itu Beny dan Taufan yang merupakan kakak-adik membuat isian untuk dram menggunakan MIDI terlebih dulu, sebagai acuan untuk pengisian yang sesungguhnya di studio.

“Untuk menambal bagian yang dirasa masih kosong, Taufan mengisi beberapa part fill dan lead guitar. Setelah instrumentasi beres, file dikirim ke Galva untuk diisi part vokal. Selanjutnya, untuk penulisan lirik lagu dibuat oleh Ray dan kemudian sering terjadi diskusi bersama manajer kami untuk pemilihan diksi,” ulas pihak band kepada MUSIKERAS.

Memasuki sesi rekaman, para personel Doomnation baru melakukannnya pada awal bulan puasa 2019 karena mesti menunggu materi lagu terkumpul seluruhnya. Dan sama seperti EP sebelumnya, proses rekaman, mixing dan mastering masih dilakukan secara mandiri oleh Taufan. Alasannya adalah budget dan waktu yang terbatas karena kesibukan masing-masing.

“Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih Airwaves Home Recording sebagai tempat untuk merekam dram dan vokal. Untuk bass dan gitar sendiri,  kami merekamnya di rumah Taufan yang memang juga bertugas sebagai sound operator sekaligus produser untuk album. Oh iya, karena kerjaan sebagai mandor event yang sangat padat dari San (bassis) memaksa pengisian bass diambil alih oleh Bayu, teman tongkrongan kami.”

Oh ya, di single “Modern Genocide” ini, Doomnation menghadirkan kolaborasi vokal dengan Anggi Ariadi dari unit deathcore Revenge The Fate (RTF). Kenapa melibatkan Anggi? “Untuk panjat sosial pastinya,” cetus pihak band sambil tertawa. Namun menurut mereka, karakter vokal Anggi memang dirasakan sangat pas dengan pesan yang ingin disampaikan lewat lagu ini.

“Kedua, karena pertemanan kami dengan RTF. Kebetulan Anggi adalah teman yang cukup dekat dengan Galva saat masih emo dan Taufan juga dulu pernah mixing single lama dari RTF. Oleh sebab itu, ketika kami ajak untuk kolaborasi, ia sangat antusias.”

Jika dibandingkan dengan lagu-lagu yang tertuang di “Purge”, para personel Doomnation sepakat struktur lagu, tema lirik serta karakter musik masih punya ‘warna’ yang senada. “Tempo cepat, heavy breakdown, vokal yang intens, repetitive reff, lirik yang sing along dan seterusnya. Untuk referensi musik, secara umum kami masih banyak terpengaruh oleh band-band seperti Whitechapel, Thy Art Is Murder , Rivers of Nihil , Fit For An Autopsy, Architects, As I Lay Dying dan Raisa pastinya.”

Raisa? Ya why not? Mungkin sebagai penyemangat…!

Doomnation dibentuk pada Maret 2015, yang mereka sebut terlahir dari tingkat keseriusan berkarya dari tiap individu personel. Mereka juga mengetengahkan prinsip kekeluargaan dalam bermusik. Atau dengan kata lain, band adalah keluarga kedua, yang mencakup ide-ide dan konsep lagu, materi musik yang akan dimainkan, karakteristik sound hingga ke perencanaan lainnya. Sebelum merilis EP “Purge”, Doomnation sempat melepas single bertajuk “The Conquering Tyrants” (2016) yang justru tidak dimasukkan ke EP mereka. Jika tak ada kendala, album penuh perdana Doomnation direncanakan bakal dirilis pada awal tahun depan. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY