Kemarin, video klip dari single terbaru Aftercoma yang bertajuk “Kuldesak” akhirnya tertayang secara resmi di kanal YouTube dan berbagai media sosial resmi mereka lainnya. Single tersebut sekaligus menjadi nomor pemanasan menuju perilisan album terbaru berjudul “Faithless” yang rencananya bakal diletupkan pada oktober 2019 mendatang via label 40124 Records.

Dari sisi aransemen, unit cadas asal Bandung ini yakin bahwa instrumentasi “Kuldesak” sangat berhasil mengantar emosi lagu, yang dibangun oleh permainan dram ‘sirkus’ dari Bauz “Uus” Ridwan, gemuruh betotan bass Ubey serta isian gitar Avedis Mutter dan Rissa Gunawan yang sarat efek reverb tebal, demi mengejar progresi kord serta sound modern yang kekinian.

Influence tentu saja bertambah luas di album ini,” cetus pihak Aftercoma kepada MUSIKERAS, meyakinkan. “Munculnya band-band luar seperti Architects, Wage War, Dance Gavin Dance, terasa sekali sangat mempengaruhi musik di album ini. Sound yang ingin kami kejar juga terasa sekali sangat bergeser dari metalcore ala Killswitch (Engage) menjadi modern seperti band-band yang kami gemari sekarang.”

Sementara dari penulisan lirik yang tertuang di “Kuldesak”, kali ini vokalis Willy REP dengan gamblang tentang perampasan hak asasi manusia serta kasus-kasus berbau politik yang tak terselesaikan. Dengan tegas, ia mengeritik soal kestagnanan yang terjadi di beberapa kasus kriminal politik yang sedang terjadi, seakan kita masuk ke sebuah jalan buntu. Begitu juga di lagu lainnya yang bertajuk “Faithless” yang nantinya akan dirilis bersamaan dengan album.

“Juga terasa sekali kritikan Willy tentang hal-hal dan isu-isu yang sengaja dibuat – kalian tentu tahu oleh siapa – untuk membuat kita tidak ‘berpendirian’ dalam sebuah kasus besar, atau bahkan malah bisa membela yang sebetulnya salah.”

Tentang album “Faithless” sendiri, Aftercoma merekam semua treknya di Studio Rebuilt 40124 Bandung, studio milik Avedis. Proses pembuatannya sebetulnya sudah dimulai sejak 2018, tetapi karena belum mendapat formula yang pas, mereka pun terus mencari sampai akhirnya berhasil mendapatkan formula arransemen serta sound yang diinginkan. Sejak Juni 2019 demo lantas digarap dan diteruskan dengan proses rekaman. Secara keseluruhan, proses rekaman hingga proses editing, mixing dan mastering berlangsung selama kurang lebih dua bulan.

Lalu, sejak awal September 2019 lalu, Aftercoma mulai menyusun timeline untuk produksi video klip, serta konten konten pendukung lain. Beberapa dari konten yang masuk ke rangkaian album “Faithless” adalah video “Kuldesak”, dan lima lagu versi live di Indiebash, yakni “Berontak”, “Rekayasa”, “Raga Terbakar”,” Kuldesak” dan “Jelaga”. Beberapa di antaranya saat ini sudah dirilis.

Aftercoma sendiri mulai menerjang skena metal Tanah Air pada 2008. Dengan formasi awalnya, mereka sempat merilis album mini (EP) “Breath” (2008) serta album penuh “Breathless” (2011). Berawal dari fondasi hardcore, Aftercoma lantas terus berevolusi dengan berbagai sub-genre metal, yang lantas tertuang jelas di karya-karya rekaman mereka selanjutnya. Pada Januari 2016, Aftercoma merilis EP “Against the Sun” (Rebelsoul Records), yang memuat lima lagu ‘panas’ bertajuk “I Am What I Am”, “Against The Sun”, “Sanity”, “Born To Win” dan “Perang”. Lagu yang disebut terakhir menghadirkan musisi tamu seperti Arian13 (Seringai), Ebenz (Burgerkill) dan Yukie Martawidjaya. Pada September 2016 lalu, Aftercoma meraih trofi “Karya Produksi Metal Terbaik” lewat lagu “Perang” di ajang AMI Awards. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY