Peluncuran album mini (EP) bertajuk “Circumstances” akhirnya menjadi pembuktian keseriusan Chariot On Fire dalam berkarya. Sebelumnya, unit post-hardcore/metalcore asal Jakarta ini sempat mencoba mencuri perhatian dengan meng-cover lagu “Bad Guy” (Billie Eilish) serta “(DDU-DU DDU-DU)” (Blackpink), beberapa waktu lalu.

“Circumstances” yang memuat lima trek, masing-masing berjudul “Halt”, “Fatamorgana”, “Circumstances”, “A Lies Beneath” dan “The Asylum” digarap Chariot On Fire selama hampir dua tahun. Para personelnya, yakni Mario (gitar), Aditya Yosi (dram) dan Cahyadi “Iday” Surya (vokal) mengeksekusinya bersama-sama di Rostels Recording Studio, Cilodong.

“Kami percayakan proses mixing dan mastering di sana karena adanya kecocokan dengan sound yang kami inginkan,” ungkap Chariot On Fire kepada MUSIKERAS.

Sebelumnya, studio tersebut juga dipakai untuk mengolah mixing dan mastering karya rekaman milik band seperti Divide untuk album “Sakunta Sarpa” serta single Killing Me Inside, “Burn”.

Dari segi aransemen, EP “Circumstances” sendiri sarat pengaruh dari band-band cadas luar seperti As I Lay Dying, Avenged Sevenfold hingga The Devil Wears Prada, dimana mereka menerapkan entakan musik yang cepat dengan imbuhan beberapa part (bertempo) ganjil. Mereka mengambil garis merah post-hardcore dan metalcore awal 2010an, yang dikemas dengan nuansa modern tanpa meninggalkan core dari genre tersebut, yaitu riff-riff gitar yang berat dan harmonis diiringi dengan breakdown yang sederhana serta chorus yang mengayun.

“Tetap memiliki chorus yang mengayun untuk menunjukkan emosi di setiap lagu. Dan setiap lagu yang ada di EP ini memiliki suasana yang berbeda-beda.”

Disamping itu, setiap lagu juga memiliki kesulitan masing-masing dalam pengeksekusiannya. Namun menurut Mario, lagu”A Lies Beneath” dan “Circumstances” adalah yang paling menantang. Karena ketika proses rekaman, ia harus melakukan take berulang-ulang untuk riff verse di kedua lagu tersebut. Sedangkan menurut Yosi, “Circumstances” merupakan lagu yang paling menantang karena seperti melakukan cardio ketika memainkannya.

“(Lalu) Dari lini vokal, saya (merasa) lebih sulit karena vokal yang berubah-ubah dari scream ke clean,” cetus Iday mengakui.

Chariot On Fire sendiri terbentuk pada 2016 lalu. Awalnya diperkuat lima personel, namun lantas berkurang menjadi bertiga karena satu dan lain hal. Pada dasarnya, Mario dan Yosi adalah sahabat sejak SD, namun baru sering melakukan jamming saat di SMP, hampir seminggu sekali sepulang sekolah. Awalnya mereka memainkan lagu-lagu punk seperti Green Day dan Blink-182, lalu beralih ke alternative rock model Muse dan Good Charlotte. Saat duduk di bangku SMA, keduanya akhirnya berfikir untuk membuat band dengan menggaet Iday dan melakukan jamming di studio membawakan lagu-lagu milik The Devil Wears Prada, Asking Alexandria, As I Lay Dying hingga Avenged Sevenfold.

EP “Circumstances” yang telah diluncurkan sejak September 2019 lalu bisa dinikmati di berbagai platform musik digital seperti Spotify, JOOX, Amazon Music, iTunes dan lain-lain. (aug/MK02)

.

 

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY