‘Pahlawan baru’ di dunia pergitaran, Nick Johnston menunjukkan kreativitas mumpuninya di depan gitaris-gitaris lokal Jakarta dan Bandung, saat tampil di gelaran “Nick Johnston Asian Tour 2019” yang berlangsung di Chic’s Musik Concert Hall, Jakarta, semalam (8/10).

Nick Johnston termasuk salah satu nama yang banyak dinanti untuk disaksikan penampilannya di panggung, oleh banyak gitaris masa kini. Pola permainan gitar beserta olahan komposisi lagu-lagunya dianggap telah menghambuskan nafas baru di ranah instrumental progresif yang membuai, namun inovatif dan kreatif.

Dan deretan not ajaib nan membius itu pun membahana secara nyata di depan mata. Puluhan gitaris menyaksikan Nick Johnston membawakan komposisi-komposisi dari album-album solonya dengan mata tak berkedip. Ya, terutama pemilihan notnya yang sangat tak biasa, namun tetap menghasilkan nada yang mudah dikenali dan sekejap langsung terngiang di ingatan. Terasa mendengarkan pengelanaan dunia fantasi musikal ala komposisi karya band progressive rock Pink Floyd, namun dalam versi instrumental.

Bagaimana ia meramunya?

“Mencoba berbagai kombinasi progresi kord, bereksperimen,” tegasnya. “Sepanjang kalian tahu dimana kunci nadanya, berarti juga sudah tahu semua not yang tersedia… dan mulailah membuat kombinasi dari situ, menambahkan dengan opsi-opsi lain.… Dimulai dengan melodi, lalu membangun kord di sekitarnya. Tidak ada cara mudah untuk melakukannya, harus terus bereksperimen, mengembangkannya. Butuh waktu. Tapi kita bahkan jadi bisa menemukan kord yang sebelumnya mungkin tidak terpikir pernah ada.”

Dalam penampilan berformat klinik tersebut – dan ya, diselingi dengan sesi tanya jawab – Nick Johnston juga banyak membeberkan perjodohannya dengan Schecter, brand gitar yang menjadi andalannya saat ini. Berdasarkan pertanyaan dari salah satu penyaksi klinik malam itu, Nick mengungkapkan bahwa Schecter pertama kali menawarinya bergabung pada 2014 lalu. Dan kebetulan, Nick memang sudah jatuh hati sejak pertama kali melihat gitar Schecter.

“Saya pertama kali melihat (gitar) Schecter di video musik (band nu metal) Papa Roach yang berjudul ‘Last Resort’, sejak itu langsung suka,” cetusnya terus-terang. 

Dari situ, penelusurannya tentang Schecter berkembang, hingga menemukan buatan custom shop, yang menjadi inspirasi utama Schecter Nick Johnston Signature yang dipakainya sekarang. “Saya selalu berusaha mengejar suara seperti biola, dan di gitar ini saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan.”

Selain di Jakarta, gitaris asal Toronto, Kanada tersebut juga menggelar klinik konser di Melodia Musik Surabaya, sehari sebelumnya. Kedatangan Nick di Indonesia sendiri atas prakarsa Tiga Negeri Music House, Bandung – yang merupakan distributor resmi produk Schecter di Indonesia – untuk mempromosikan gitar Schecter Nick Johnston Signature USA serta Traditional (buatan Indonesia). Untuk penampilan di Jakarta dan Surabaya, pihak penyelenggara juga menyuguhkan penampilan gitaris bintang tamu lokal, yakni Agung Hellfrog (Burgerkill), Pupun Dudiyawan (Kapten) dan Ale Funky.

Sepanjang karirnya, sejauh ini Nick Johnston sudah menelurkan beberapa album solo, yakni “Public Display Of Infection” (2011), “In A Locked Room On The Moon” (2013) yang antara lain menghadirkan sumbangan permainan solo dari gitaris Paul Gilbert dan Guthrie Govan, lalu “Atomic Mind” (2014) bersama Marco Minnemann (dram), Bryan Beller (bass) dan Guthrie Govan, “Remarkably Human” (2016) bersama Gavin Harrison (dram) dan Bryan Beller serta “Wide Eyes in the Dark” (2019). Di luar album, Nick juga pernah menyumbangkan permainan gitar solonya di komposisi lagu milik band-band prog metal masa kini seperti Periphery, Polyphia dan Intervals. (mdy/MK01)

Kredit foto: Azhan Miraza

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY