Tujuh tahun setelah merilis album “Perennial” (2012), Trauma kembali dengan segenap kekuatan. Sejak 9 Oktober 2019 lalu, unit cadas asal Jakarta ini telah meletupkan amunisi album baru bertajuk “Balakosa” yang menekankan pada ‘benang merah’ death metal.

“Kami mengembalikan konsep musik kami ke old school death metal. Album ‘Perennial’ memang lebih ke melodic death metal, tapi sebenarnya arah musik Trauma bukan ke sana. Kami kemudian kembali ke jalur yang semestinya,” cetus vokalis Nino Aspiranta kepada MUSIKERAS, mewakili bandnya.

Namun dalam pengolahan musiknya, menurut Nino, ia dan personel lainnya – Rusdi Hamid (bass), Ramadhani Utomo (dram) dan Henri Kemal (gitar) – tidak menyempitkan referensi. Mereka tetap open minded, mendengarkan dan menyerap semua yang berada di jalur musik mereka, mulai dari era old school hingga kekinian. Namun yang paling banyak pengaruhnya datang dari band-band seperti Malevolent Creation, Deicide, Six Feet Under hingga Kataklysm.

“Balakosa” sendiri merupakan karya rekaman album studio Trauma yang kelima, dan kali ini diproduksi oleh Morbid Noise Records dari Indonesia/Malaysia. Album ini memuat 10 lagu yang dirilis dalam format fisik CD, kaset dan rencananya juga akan diproduksi dalam kemasan piringan hitam.

Proses rekaman “Balakosa” terbilang cukup lama. Biasa, karena terhadang kendala utama kesibukan para personelnya di luar band. Padahal, mereka telah memulainya sejak 2015 lalu, saat Trauma baru saja menyelesaikan tur mini di Malaysia dan Singapura. Eksekusi rekaman “Balakosa” dilakukan di RJ Studio, Bintaro, milik Ramadhani Utomo, studio yang sama saat Trauma merekam album sebelumnya, “Perennial”.

“Proses rekaman terlalu santai, disesuaikan dengan jadwal kosong dimana kami berempat bisa kumpul. Jadwal rekaman tidak pasti dan tidak sesuai dengan jadwal awal. Agar lebih fokus ke proses rekaman, beberapa tahun terakhir kami juga sempat mengurangi agenda manggung. Target awalnya, ‘Balakosa’ bisa dirilis tahun 2017. Tapi akhirnya mundur lagi hingga akhirnya di 2019 ini adalah deadline-nya.”

Sebelum “Balakosa”, Trauma yang terbentuk sejak 1992 silam, telah merilis album “Extinction Of Mankind” (1998), “Paradigma; Demi Hidup Tak Perlu Harus Mati” (2003), “Dominasi Kemenangan” (2008) dan “Perennial”. Di luar itu, sempat mengawali karirnya dengan merilis dua kaset demo, lalu terlibat di lima album split serta ambil bagian di sekitar 50 album kompilasi, seperti “Metalik Klinik”  (Vol 1 dan 5), “Panggilan Pulau Puaka” (Vol 2 dan 4) rilisan Malaysia hingga “Tribute to Dehumanizer” rilisan Amerika Serikat. 

Untuk mempromosikan “Balakosa”, Trauma bakal kembali menggelar tur mini di negara tetangga, yakni Ipoh (1/11), Penang (2/11) dan Hat Yai, Thailand (3/11) serta beberapa jadwal lainnya yang masih menunggu konfirmasi. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY