Kelar menjalani tur promo album “Dogma Dunia Baru” yang mengesankan di negara tetangga Malaysia pada 11, 12 dan 13 Oktober 2019 lalu, kini GrausiG langsung berancang-ancang merilis album mini (EP) “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” dalam waktu dekat. Karya ini merupakan hasil perekaman ulang, sekaligus sebagai peringatan dua dekade dirilisnya album penuh “Abandon, Forgotten & Rotting Alone”, yang pertama kali diedarkan secara nasional pada 1999 silam.

Banyaknya permintaan untuk merilis ulang “Abandon, Forgotten & Rotting Alone” menjadi latar belakang GrausiG memutuskan untuk merekam ulang album yang dulu diedarkan oleh label Independen Records, sub-divisi dari Aquarius Musikindo. Saat itu, kontrak antara GrausiG dengan pihak label adalah jual putus master rekaman, yang mana keseluruhan master dalam format pita reel 2 inchi serta master DAT hasil mixing wajib diserahkan seluruhnya kepada pihak Independen Records/Aquarius Musikindo. Hak edar serta hak kepemilikan atas album tersebut merupakan hak mutlak pihak label, dan bukan lagi berada di pihak GrausiG.

“Atas dasar tersebut, dan memperhatikan banyaknya permintaan perihal rilis ulang album tersebut, GrausiG akhirnya sepakat untuk merekam ulang beberapa lagu yang termuat di album tersebut ke dalam format yang baru, dengan formasi personel yang berbeda dengan rekaman terdahulu, sekaligus sebagai peringatan 20 tahun rilisnya album tersebut,” ungkap dramer Denny Zahuri kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di GrausiG.

Kendati demikian, band yang telah malang-melintang di skena ‘bawah tanah’ sejak 1989 silam ini tidak mengeksekusi “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” dengan formula yang benar-benar sama dengan versi aslinya. Menurut Denny lagi, tentu saja kali ini pendekatan sound yang lebih modern. Lalu selain itu, juga ada perubahan di jumlah dan susunan lagu.

“Teknis rekaman saat ‘Abandon…’ menggunakan sistem analog 24 tracks di Harmoni Studio Salemba Tengah Jakarta, menggunakan pita reel 2 inchi sebagai media rekamnya, (sementara) ‘Re-Abandoned…’ direkam menggunakan teknik rekaman digital di K Studio dan Apache Studio. Kedua sistem tersebut mempunyai detail rekaman berbeda, yang mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing yang bisa dibandingkan saat mendengar hasilnya nanti. ‘Abandon…’ berisi delapan lagu dan ini kami sebut sebagai ‘album penuh’. Dalam ‘Re-Abandoned…’ (hanya) berisikan lima lagu yang kami rekam ulang, ditambah sebuah lagu yang sama sekali belum pernah direkam sebelumnya. ‘Re-Abandoned…’ ini kami sebut dengan format ‘album mini’. Tidak banyak perubahan aransemen yang dilakukan karena lebih mengacu pada perubahan sound yang lebih modern.”

Bagi GrausiG, album “Abandon, Forgotten & Rotting Alone” menjadi semacam pembuktian, karena dirilis dalam periode dimana musik death metal masih dipandang sebelah mata di skena musik Indonesia. Bahkan permintaan untuk mengubah seluruh lirik dan judul lagu ke dalam Bahasa Indonesia agar bisa diikutsertakan dalam sebuah album kompilasi musik indie saat itu ditolak oleh GrausiG. Dan akhirnya, “Abandon, Forgotten & Rotting Alone” dirilis oleh Independen Records/Aquarius Musikindo tanpa intervensi apa pun, baik dari segi musik dan liriknya. “Merupakan suatu bentuk penghargaan yang tidak terhingga bagi GrausiG saat itu,” seru Denny mengenang.

Oh ya, kembali ke helatan tur di Malaysia, bagi GrausiG merupakan pengalaman pertama mereka beraksi di luar wilayah Indonesia. Sebuah pengalaman baru sekaligus sangat berkesan bagi mereka, apalagi setelah melihat antusiasme metalhead Malaysia terhadap GrausiG sangat luar biasa.

“Kebanyakan dari mereka yang hadir sudah cukup tau dan mengenal GrausiG dari rilisan-rilisan sebelumnya, bahkan dari era ‘90an, tapi belum pernah menyaksikan performance dari GrausiG itu sendiri. Dan tiap kali setelah GrausiG tampil, sebagian besar metalhead Malaysia langsung mendatangi booth penjualan merchandise GrausiG hingga ludes tanpa tersisa. ‘Dogma Dunia Baru Malaysian Tour 2019’ lalu benar-benar sangat berkesan bagi GrausiG.”

Di Malaysia, GrausiG yang kini diperkuat formasi Bolonk (vokal), Mame (gitar/vokal latar), Ewin (bass) dan Denny melakukan tiga kali pementasan di dua kota berbeda, yakni di Rockin Jamz, Masai, Johor Bahru pada 11-12 Oktober 2019 serta di Adam Music Studio, Melaka pada hari berikutnya. Dalam tur tersebut, GrausiG dibantu oleh Agam sebagai gitaris tamu. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY