Tepat sesuai arti namanya. Nyaring, keras, dan berlimpah energi beroktan tinggi. Konser ‘intim’ Loudness bertajuk “Thunder in the East” di Hard Rock Cafe, Jakarta semalam (12/11), nyaris tidak sedikit pun memberi ruang bagi penonton untuk menghela nafas. Sejak lagu pembuka, “Soul on Fire” dan “I’m Still Alive” dari album terbaru “Rise to Glory” (2018) digeber, unit rock legendaris asal Negeri Sakura, Jepang ini terus menggedor kuping dengan akselerasi maksimal.

“Jakarta, apakah kalian siap dengan malam yang gila….?”

Begitu teriakan vokalis Minoru Niihara kepada penonton, sesaat sebelum menggempur lagi lewat “Crazy Nights”, lagu yang berada di urutan ketiga malam itu. Dan setelah itu, Minoru, Akira Takasaki (gitar), Masayoshi Yamashita (bass) dan Ryuichi “Dragon” Nishida – dramer pengganti sementara Masayuki Suzuki yang sedang sakit – terus merangsek memaksa para penonton berinteraksi dengan gempita dan liar. Kepalan tangan dan acungan jari membentuk simbol ‘tanduk metal’ tak henti ‘mengudara’, menjadi pemandangan yang dramatis, dalam ruang konser yang sebenarnya terbilang kecil. 

Tentu saja, tak sedikit pula di antara penonton yang bernostalgia, terus ikut bernyanyi di lagu-lagu yang cukup popular di kalangan pencinta rock era ‘80an. Misalnya seperti “Like Hell”, “This Lonely Heart”, “Crazy Doctor”, “S.D.I.” dan “In the Mirror”. Sementara dari album “Rise to Glory” (2018), Loudness juga membawakan komposisi instrumental berjudul “Kama Sutra” serta “Until I See The Light”. Tak lupa, sebagai pelepas lelah, Loudness menyelipkan dua nomor bertensi rendah, “In My Dreams” serta tentu saja, “So Lonely” yang sing a long.

Konser semalam terbilang sangat memuaskan. Baik dari segi performa dan energinya, mau pun dari sisi tata suara. Interaksi pihak band dengan penonton pun sangat dekat dan sarat energi rock yang pekat. Jika pun harus mencari ‘cela’ dari konser tersebut, hanya ada sedikit kekecewaan karena Loudness sama sekali tidak menyenggol satu lagu pun dari “Soldier of Fortune” (1989), album Loudness yang paling digemari di Indonesia, dan satu dari dua karya rekaman studio mereka yang tidak diperkuat vokalis Minoru Niihara. Di album ini, vokal diisi oleh Mike Vescera (sebelum bergabung di band Yngwie Malmsteen).

Sejak dibentuk pada 1981 oleh Akira Takasaki dan dramer Munetaka Higuchi, Loudness telah merilis 26 album studio. Loudness adalah band rock Jepang pertama yang berhasil mendapatkan kontrak rekaman dengan label asal Amerika Serikat, yaitu Atco Records pada 1985, yang menghasilkan “Thunder in the East”, album sukses pertama Loudness di kancah internasional, yang melejitkan lagu “Crazy Nights”. Album ini sempat dirilis ulang dalam kemasan istimewa di Jepang pada November 2015 lalu untuk merayakan 30 tahun perilisannya.

Pada Juli 2011 silam, Loudness pernah tampil di rangkaian acara Rockinland Festival, Jakarta. Malam ini, Loudness dijadwalkan tampil di Hard Rock Cafe, Bali. Setelah itu, mereka bakal melanjutkan rangkaian tur “Thunder in the East” di Jepang dan beberapa negara Eropa. (mdy/MK01)

Kredit foto: Azhan Miraza

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY