Mengalami proses pergantian personel dalam sebuah band memang kerap kali memusingkan. Faktor paling pelik adalah keharusan melakukan proses adaptasi yang berulang kali satu sama lain, baik secara personal maupun dalam penyatuan musikalitas. Tapi di sisi lain, proses tersebut juga terkadang justru membawa hal yang positif. Seperti yang dialami oleh unit punk/rock asal Bandung, Waiving Wednesday.

Lewat album debut self-titled mereka yang baru saja dirilis, band yang sekarang diperkuat Bayu Indradi (gitar/vokal), Ary Pratama (gitar), Muhammad Zulyadri (dram) dan Arya Vidya Utama (bass/vokal) tersebut malah merasa telah menemukan jati diri musikal mereka dengan formasi terakhir ini. Sebelumnya, saat merilis single “Noise and Feedback” dan “Trending Lifestyle” dua tahun silam, Waiving Wednesday merasa orang-orang masih mempertanyakan karakter musik mereka. “Maka pada album inilah kami tunjukkan bagaimana karakter musik kami sesungguhnya,” cetus pihak band meyakinkan.

Lebih jauh, Waiving Wednesday yang sempat mengibarkan nama Times New Romance saat pertama kali terbentuk pada 2007 silam menggambarkan garis besar konsep musiknya berakar pada punk rock. Namun di sana-sini, juga diimbuhi pengaruh kuat dari genre-genre lain seperti post-hardcore, metal, alternative, dan screamo. “Karena masing-masing dari kami memiliki influence tersendiri, musik kami jadi terdiversifikasi, sebagian orang mungkin akan merasakan nuansanya berbeda antara satu track dengan track lainnya. Tapi akarnya tetap punk rock,” tutur band kepada MUSIKERAS.

Jika harus memilih, adalah lagu “Trending Lifestyle” yang disebut pihak band sangat mewakili karakter musik Waiving Wednesday hari ini. Selain itu, “Trending Lifestyle” juga merupakan lagu yang mereka rasakan sebagai lagu punk rock yang solid dengan pengemasan yang baik. Sementara dari segi pencapaian para personelnya selama ini dalam memainkan alat musik, maka“Eat Shit, Survive, Repeat” merupakan lagu dari album yang paling membanggakan buat mereka.

“Pada lagu inilah kami memasukkan semua hasil brainstorming kami selama bertahun-tahun. Pada lagu ini pulalah paling terasa pencampuran pengaruh genre-genre lain, seperti post-hardcore, metal, dan alternative, namun dari segi lirik masih tetap punk rock.”

Proses kreatif penggarapan album “Waiving Wednesday” sendiri terbilang cukup panjang. Ada tiga fase yang telah mereka lalui untuk mencapai hasil akhir. Pertama, diawali dari dua trek yang pernah direkam sebagai demo pada 2010 lalu, yaitu “Get Lost” dan “Still Silent”, yang saat itu digarap oleh formasi Arya, Ary, Zulyadri dan Teguh Septiyadi (vokal). “Get Lost” sendiri sempat disertakan di kompilasi Loop Kickfest pada 2014. Lalu, karena merasa materi “Get Lost” dan “Still Silent” perlu untuk disertakan di album, maka Waiving Wednesday memutuskan untuk mengulang rekamannya pada 2018 lalu, dengan formasi yang sekarang. Kehadiran Bayu di posisi gitar memberikan warna cukup signifikan di aransemen baru untuk kedua trek tersebut.

Fase kedua berlangsung pada 2016, saat Waiving Wednesday masuk studio untuk merekam tiga trek, yakni “Noise and Feedback”, “Trending Lifestyle” dan “Another Better”. Di fase ini, formasi Waiving Wednesday sudah diperkuat line-up terkini. Semua proses rekaman dilaksanakan di RED Studio Bandung. “Noise and Feedback” dan “Trending Lifestyle” lantas dirilis sebagai single pada Juli dan September 2017.

Sejak Bayu bergabung, para personel Waiving Wednesday lalu makin sering melakukan diskusi mengenai materi lagu. Dan dari proses tersebut terciptalah rekaman-rekaman guide sederhana untuk lagu “Eat Shit, Survive, Repeat” dan “Little Footstep”. Pada masa ini pulalah, aransemen terbaru untuk “Get Lost” dan “Still Silent” dikembangkan, seiring dengan bertambahnya influence musikal mereka.

“Sehingga kami (lantas) memasukkan beberapa tambahan yang sebelumnya tidak ada di demo. Setelah kami merasa proses pematangan ini mantap, pada 2018 kami memutuskan untuk masuk dapur rekaman.”

Sesi rekaman album “Waiving Wednesday” sendiri dieksekusi di Red Studio untuk take dram, bass dan vokal, serta di Funhouse Recording khusus untuk gitar. Sementara untuk pengolahan mixing dan mastering masing-masing dilakukan oleh Aditya Narendra dan Steve Corrao dari Sage Audio. (mdy/MK01)

Kredit foto: Iqbal Tubagus

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY