Lewat album debut “Mata Hati Jiwa”, unit alternative rock RapeMe tampil mewakili Gen X (Generasi X) yang terkenal akan kebrutalan, pemberontakan dan sikap masa bodohnya, mencoba menyuarakan himbauan positif terhadap kecenderungan gaya hidup Gen Z yang semakin terbuai pola yang sama. Dimana mereka – generasi yang hidup di era milenial – seperti butiran pasir yang terperangkap, mengikuti alur dan pola yang sama, sehingga membuat mereka terjebak tak berdaya dalam tempurung.

“Krisis kepribadian mereka perlahan menghilang, sampai mereka tidak akan pernah mengenal siapa mereka dan dari mana mereka berasal,” ungkap RapeMe berteori.

RapeMe yang merangsek dari Kota Depok berdiri di antara tradisi dan siklus trending era milenial. Di karya “Mata Hati Jiwa” yang bakal dirilis resmi pada 12 Desember 2019 mendatang tersebut, mereka menunjukkan identitas dirinya untuk menepis keresahan opini-opini publik dari sudut pandang yang selalu mengucilkan keseimbangan dalam kehidupan. Kewarasan mereka dalam berfikir dan bertindak kreatif serta berpendapat yang berbalut kritik keras, sarat akan rasa kepedulian dan kemandirian, tertoreh dalam setiap syair lagu-lagu mereka.

“Album ini bercerita tentang beberapa persoalan di kehidupan semua lapisan masyarakat yang tak biasa atau tidak bisa mereka ungkapkan. Melalui album inilah kami ungkapkan apa yang menjadi keresahan itu,” tutur vokalis dan gitaris Kiki Maulana kepada MUSIKERAS.

Proses perekaman “Mata Hati Jiwa” sendiri banyak melibatkan eksplorasi dari para personelnya, yakni Kiki, Bobby Sandhy (bass), Reza Nugroho (dram) dan Alex Wallace (gitar). Mulai dari segi arasemen musik – namun tanpa menghilangkan karakter sound ‘90an – sampai ke pembuatan kotak sampul album yang mereka kerjakan secara swadaya.

“Kami menggarap setiap lagu dari album ini dengan peralatan sejadinya. Beberapa ciri khas karakter sound gitar, dram, bass diselesaikan dengan bantuan beberapa barang yang tak lazim pada umumnya. Karena kami tidak kehabisan ide untuk menghasilkan karakter sound yang kami inginkan dengan peralatan efek dan instrumen berspesifikasi standar. Setiap lagu rata-rata kami selesaikan sehari, karena jadwal rekaman dan dana yang tidak menentu. Kami ulurkan waktu sampai enam bulan untuk merekam di rumah produksi Play Record yang berlokasi di Otista, Jakarta Timur,” urai Kiki panjang lebar.

Masih dari segi musikal, “Mata Hati Jiwa” juga memperlihatkan inspirasi musikalitas RapeMe yang keseluruhan mengikuti naluri jiwa dan hati para personelnya. Bahkan di luar lingkup musik rock, mereka lebih senang mendengarkan instrumen-intrumen musik klasik, etnik dan juga orkestra.

“Untuk semua lagu, kami sangat mengapresiasi dari setiap personel saat mengutarakan ide-idenya membuat musik di album ini. Karena setiap alat yang dimainkan itu dengan keselarasan insting setiap masing-masing personel. Tidak ada yang terpaksa untuk memainkannya. Ada beberapa aransemen lagu yang tercipta dengan kondisi peralatan yang seadanya tapi menghasilkan musik yang cukup unik dan menarik buat kami. Seperti pada lagu ‘Sebelah Mata’, ‘Panca Indera’, ‘Ilusi 3 Dimensi’ dan ‘Penderita Hati’.”

RapeMe sebenarnya mulai menggeliat pada 2005 silam. Sepanjang perjalanannya kerap berganti nama dan personel dan bahkan vakum selama dua tahun. Pada 19 April 2008, Rape Me bangkit kembali dan mulai menapaki panggung underground Tanah Air. Nama ‘Rape Me’ diambil dari sebuah judul lagu Nirvana yang berarti ‘Perkosa Aku’. Namun bagi para personel Rape Me, nama tersebut tidak bermaksud porno, melainkan lebih dimaknai sebagai pelajaran hidup dari sudut padang berbeda. “Mau nggak mau ya harus mau, suka nggak suka ya harus suka, enak nggak enak ya harus enak, karena hidup bagaikan ‘diperkosa’!” (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY