Musik adalah perayaan, dan festival adalah rumah ibadah tempat perayaan itu dilangsungkan.”

Perayaan usia satu dekade Rock In Celebes (RIC) siap digulirkan. Tercatat, lebih dari 50 musisi tenar dan independen, baik dari ranah rock/metal maupun dari genre lainnya, serta kalangan seniman visual siap menyukseskan pesta musik dan seni yang bakal digelar di Makassar, Sulawesi Selatan tersebut. Tepatnya di sebuah ambalat seluas 5 hektar, di bagian utara kawasan Trans Studio Mall.

Secara lengkap, para penampil adalah E.H.G (eyehategod) yang berasal dari Amerika Serikat, lalu NTRL, Seringai, Efek Rumah Kaca, Rocket Rockers, Kelompok Penerbang Roket, Deadsquad (Horror Vision Reunited), Feast, Padi Reborn, Kunto Aji, The Adams, Fiersa Besari, Reality Club, Tashoora, Manjakani, Hondo, Feel Koplo, Jogja Noise Bombing, Kapal Udara, TOD, Frontxside, Makassar Rocksteady, Speed Instinct, Natinson, Eisen, Hondo, Gyant Hidayah & The Big Jump, Fandy WD, Wild Horse, Senograft, Discern Middle, Kaze, Cornerkick, Deruh, Wonderkids, Sun, Softxx, Hestraight, Latter Smil, Art2Tonic, Orkes Fian Rynaldi Featuring Inggrid Beatrix, Jasmine Risach, & Fisca, Fictive Order, Uvisual (Visual Artis), Syahrasi (Visual Artist), Benang Baja (Visual Artist), Verisaerisa (Visual Artist), Misbo (Visual Artist), Halilikhsan (Visual Artist) dan Daridill (Visual Artis).

Sedikit menengok ke belakang, festival RIC sendiri diawali dari penyelenggaraan gigs reguler bernama Chambers Show pada 2004 silam, yang lantas terus bergulir dan berkembang menjadi sebuah medium festival bernama Rock In Celebes pada 2010. Hingga kini bisa mencapai usia satu dekade tentunya bukan hal yang mudah untuk dilalui.

Menurut Hardinansyah “Ardy” Putra Siji, pencetus Rock In Celebes, maraknya kegiatan festival belakangan ini menjadi salah satu faktor positif yang membuat skena bergairah. Paling tidak, tantangannya menjadi sedikit berkurang, karena peminat meningkat dan esensi festival semakin dipahami.

“Berbicara dalam konteks festival, festival punya posisi untuk menjadi barometer terhadap perkembangan industri musik, termasuk regenerasi musisi yang mana festival bisa memberikan andil dengan membuka kesempatan menampilkan musisi-musisi baru misalnya. Itu salah salah satu trik kami, membuat program showcase untuk memberi kesempatan talenta baru, yang bisa kami ajak bukan hanya dari lokal Makassar namun terbuka sacara nasional. Selain itu, festival itu komoditi-nya service, jadi festival yang baik adalah bagaimana bisa menyediakan dan melakukan service yang baik terhadap pengunjung, terlepas berbicara esensi apa yang ditampilkan dari sisi performer dan rangkaian programnya.”

Selain itu, pemahaman mengenai festival itu sendiri, esensinya jauh lebih penting ketimbang siapa yang ditampilkan. Festival adalah sebuah seri dimana program dimainkan secara simultan. “Tantangan paling besar adalah bagaimana mendapatkan kepercayaan dari orang banyak dan membuat konsistensi festival ini terjaga. Kita tidak bisa mengelak untuk menyepakati apa yang kita katakan. Konsistensi adalah kunci dan untuk niat itu kita semua harus bersyukur.”

Musik adalah perayaan, dan festival adalah rumah ibadah tempat perayaan itu dilangsungkan. Rock In Celebes mereka yakini punya kesempatan berdiri sama tinggi dengan festival-festival yang berada di kota besar dan pusat industri musik. Dengan segenap kepercayaan yang digenggam erat di dalam benak, serta keyakinan bahwa mereka benar-benar bisa membawa sebuah perkenalan lebih dalam level nasional dan dunia mengenai kota Makassar yang memang punya dunia seni dan kreatif yang luar biasa semarak.

“Itu adalah sinyal bahwa memang festival ini bisa ikut berkontribusi dan dirancang untuk dijalankan dalam kerangka waktu yang panjang. Lima tahun, sepuluh tahun, dan berpuluh-puluh tahun ke depan? Kita tidak pernah tahu. Tapi kami sudah sampai di tahun kesepuluh, Rock In Celebes punya segala macam sumber daya untuk membuat festival ini bertahan lama. Kami terus berharap kami punya kapabilitas semacam ini.”

Rock In Celebes akan selalu berevolusi menjadi bentuk yang diinginkan banyak orang. Maka dari itu, mereka tidak hanya menampilkan jenis musik tertentu di setiap perhelatannya. Tujuannya agar festival ini bisa dinikmati lebih banyak orang atau oleh siapa saja, tidak memandang jenis musiknya apa. Tapi lebih kepada bahwa musik adalah salah satu bahasa yang sangat universal. Di mana musik bisa menyatukan perbedaan pandangan dan pendapat, musik bisa menyatukan banyak orang. “Dan yang paling penting adalah kami ingin memperlihatkan musik itu sangat menyenangkan bila bisa dinikmati dengan beragam jenisnya.”

Untuk menyaksikan festival ini, penyelenggara menyediakan tiket dengan beberapa kategori dan harga: Presale: Rp. 100.000, Normal: Rp. 125.000, On The Spot: Rp. 150.000 dan VIP: Rp. 350.000. Semua tiket berlaku berlaku dua hari dan sudah termasuk pajak, dan tersedia secara online di website rockincelebes.com, serta offline tiket box di Chambers Shop, semua Issue Shop, Trans Studio Mall, Madama Radio dan I-Radio Makassar. Informasi terkini juga bisa didapatkan melalui situs rockincelebes.com atau media sosial resmi  (Intagram, Facebook, Twitter dan Line) @rockincelebes. (MK03)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY