Dunia gelap Avhath rupanya bisa merebut perhatian insan gemerlap ajang pemberian apresiasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2019 yang digelar Rabu (27/11) malam di studio RCTI, Jakarta. Lewat single “The Annual Horrors”, unit metal asal Jakarta ini berhasil meraih trofi terbaik untuk kategori “Karya Produksi Metal/Hardcore Terbaik”.

Di genre tersebut, Avhath berhasil mengalahkan Alice (“Your Beloved Hex”), Indra Lesmana Project (“Apocrypha Verse II”), Logamulia “Musuh Publik” dan idola deathcore masa kini, Revenge the Fate “Continuous”.

Di single “The Annual Horrors” sendiri, band yang terbentuk sejak Januari 2013 silam tersebut meraungkan keliaran permainan gitar distortif  yang menggulung dengan geraman ‘gelap’ vokal yang menghantui. “The Annual Horrors” merupakan bagian dari album mini (EP) bertajuk “The Avhath Rites” yang telah dirilis sejak Maret 2019 lalu.

“(Kami) Masih memainkan formula crossover beberapa genre dengan benang merah musik metal. Kami (kini) lebih eksploratif dalam hal pemilihan sound, pemilihan nada dan song structure,” ungkap Avhath kepada MUSIKERAS, beberapa waktu lalu.

Para personel Avhath; Krig (vokal), BxP (bass), Kvvlt (gitar), Yvd (gitar) dan Svnn (dram) menggarap keseluruhan proses pembuatan “The Avhath Rites” selama kurang lebih tiga bulan. Sudah termasuk proses penulisan lagu selama kira-kira sebulan, lalu tiga minggu untuk rekaman yang dieksekusi di ALS Studio, Jakarta (dengan bantuan Auliya Akbar untuk proses mixing dan mastering di Noise Lab Studio) serta kurang lebih sebulan untuk post-production.

Sebelum perilisan “The Annual Horrors”, Avhath yang diperkuat oleh para musisi yang juga telah terlibat di beberapa proyek musik keras seperti For The Flames Beneath Your Bridge, Catharsis dan Werewolf Does Calculus ini telah menancapkan keeksisannya lewat beberapa rilisan jejak rekam. Tepatnya ada empat album split bersama Haul (2013), Disfare (2015), Violence of Crusade (2015) dan Aneka Digital Safari (2016), lalu tiga EP yang masing-masing berjudul “Une génération perdue” (2013), “Eulogy” (2015) dan “Hymns” (2016) serta single “Catch 22!” (2013), “Frightened Teeth” (2014) dan “Lethargy/March to the Crater” (2015).

Selain Avhath, penyelenggaraan AMI Awards 2019 yang sudah memasuki tahun ke-22 juga memberikan penghargaan kepada beberapa nama yg saat ini aktif di ranah musik keras. Di kategori “Artis Solo Pria/Wanita Rock/Instrumentalia Rock Terbaik”, Marcello Tahitoe lewat karya “Sampah-sampah Dunia Maya” berhasil menyingkirkan Aldrian Risjad, Bondan Prakoso, Ecky Lamoh dan Neonomora.

Lalu di kategori “Album Rock Terbaik”, Kelompok Penerbang Roket lewat karya album bertajuk “Galaksi Palapa” berhasil keluar sebagai pemenang, menyisihkan album milik White Swan, Navicula, Mooner dan Zigi Zaga. Tapi di kategori “Duo/Grup/Kolaborasi Rock Terbaik”, Kelompok Penerbang Roket dikalahkan oleh Kotak lewat karya “Beranikan Dirimu”. Nominee lainnya di kategori ini adalah Feast “Kami Belum Tentu”, Barasuara “Pikiran dan Perjalanan” dan Glaskaca “Atom”.

Sedikit informasi tentang AMI Awards. Ajang pemberian penghargaan ini merupakan pengembangan dari konsep BASF Awards dan HDX Awards di era pertengahan ‘80an hingga awal ‘90an. Diselenggarakan pertama kali pada 29 November 1997 silam oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI), hasil dari gagasan kolektif antara Asosiasi Industri Rekaman (ASIRI), Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), serta Karya Cipta Indonesia (KCI). Konsep penghargaan ini mengacu pada National Academy of Recording Arts and Sciences (NARAS), komite yang menyelenggarakan Grammy Awards di Amerika Serikat. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY