Memasuki bulan per bulan di 2019, unit modern death metal asal Magelang, Jawa Tengah ini telah mencoba sesuatu yang baru, yang agak berbeda dibanding konsep album debutnya, “Sistematis Manipulasi” (2017). Mereka menggodok materi baru dan kembali masuk dapur rekaman. Dan mendekati ujung tahun, lahirlah single terbaru, “Labellum Urban” yang resmi dilepas sejak 4 Desember lalu.

“Secara musikal, ‘Labellum Urban’ adalah referensi dari perpaduan konsep melodic death metal Cassandra yang ingin digabungkan dengan alat musik yang notabene merupakan instrumen musik classic. Dan dengan berbagai uji coba, akhirnya kami menemukan satu alat yang sesuai yaitu biola atau violin. Terinspirasi dari (lagu) Fleshgod Apocalypse, ‘Epilogue’,” urai Cassandra kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Dalam pengeksekusian rekamannya, Sigit Widhiyanto (vokal), Candra (gitar), David (gitar), Machine (bass) dan Syeh “Abas” Baskoro Hardin (dram) menggandeng Danis Adiyatma untuk mengisi gesekan violin yang menyayat jiwa di “Labellum Urban”, beradu dengan entakan permainan riff-riff berbalut distorsi tebal oleh gitaris David dan Candra. Lalu dentuman dram dari Abas semakin menegaskan bahwa di single kali ini, Cassandra benar-benar ingin memanjakan para pendengarnya untuk menghempas-hempaskan kepala. Permainan bass dari Machin kali ini juga berhasil menjembatani hasil suara setiap instrumen yang dimainkan menjadi satu harmoni, plus dilengkapi penegasan geraman growling lantang dari Sigit.

Single “Labellum Urban” sendiri merupakan karya yang sangat emosional bagi Cassandra. Sebuah fase yang benar-benar sulit bagi mereka, yang justru datang setelah karya ini rampung dikerjakan. Abas, dramer sekaligus pendiri Cassandra harus menghadap Ilahi pada 8 Juli 2019 lalu.

“Kami sangat terpukul atas hal itu, meninggalkan luka mendalam yang mungkin tidak akan bisa sembuh sampai kapan pun dalam batin kami. Kami tak pernah menyangka bahwa single ‘Labellum Urban’ adalah karya terakhir kami bersama Almarhum Abas. Dalam single ini, Abas juga mengisi part orasi dengan geraman khasnya. Setelah berbagai kejadian yang menerpa, kami benar-benar berada di titik nadir sebagai sebuah band, juga pribadi masing-masing personel dan tim. Nalar dan logika kami seperti terpenjara oleh ganasnya jeruji kesedihan. Hal tersebut juga berakibat pada tertundanya perilisan single ‘Labellum Urban’ ini.”

Untungnya, pada akhirnya personel yang tersisa – plus kini diperkuat penghuni baru Tri Anggoro, salah satu sahabat karib Abas yang juga bermain dram untuk band metal asal Magelang, Darkside – mampu bangkit kembali. Mereka percaya bahwa apa pun yang terjadi, Cassandra adalah salah satu  mimpi dan harapan para personelnya, serta Abas sendiri. Mereka yakin bahwa spirit Abas akan tetap menyala dalam tubuh baru Cassandra. “Kami memutuskan untuk terus berkarya, mencoba berjalan lagi menuju mimpi-mimpi yang pernah kami bangun bersama Almarhum.”

Topik tentang kehancuran alam dan moral manusia menjadi pemantik isi kepala para personel Cassandra saat menulis lirik untuk “Labellum Urban”. Mereka juga mengkritisi tentang manusia yang secara tidak sadar telah melupakan Sang Pencipta, lalu tunduk dengan berhala baru bernama harta dan tahta. Buah-buah keliaran cara berpikir masing-masing personel digabungkan menjadi sebuah trilogi untuk bahan bakar utama single “Labellum Urban”.

Cassandra dilahirkan di Magelang, satu kota kecil tepat di tengah Pulau Jawa, pada awal 2016 lalu. Setelah sempat melalui proses gonta-ganti formasi, mereka merilis album “Sistematis Manipulasi” pada 17 Juli 2017, berisi sembilan karya lagu, di antaranya berjudul “Ideologi Busuk”, “Genosida Moral” dan “Sistematis Manipulasi”. Sebuah album yang menjadi pijakan awal bagi Cassandra untuk terus berkarya dan menyuarakan perlawanan terhadap keserakahan penguasa beserta sistem yang menindas.

Saat ini, “Labellum Urban” yang juga merupakan fondasi untuk materi album kedua Cassandra yang sedang dalam proses penggodokan, sudah bisa didengarkan via berbagai platform musik digital. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY