Dengan melontarkan 11 amunisi ganas dalam kemasan sebuah album debut bertajuk “Resilient”, League of Resistance People (LRP) pun resmi menutup masa hibernasinya yang cukup panjang. Sebuah karya rekaman yang sebenarnya telah mulai digarap oleh unit melodic hardcore asal kota Bekasi ini sejak 2016 silam. Dalam perjalanannya, mereka sempat menghadapi proses pergantian vokalis di sela produksi, sehingga akhirnya baru dapat terselesaikan dan dirilis pada Desember 2019. 

Proses rekaman “Resilient” yang panjang tersebut berlangsung di Starlight Studio, Jakarta dan mendapat bantuan dari Bayu Arseta untuk proses mixing dan mastering di OrangeBee Studio, Yogyakarta. Sementara untuk bagian seni visual di sekujur album, perancangannya dieksekusi oleh Lukman Hanifiah dan fotografer Kurniawan Septian.

Kendati demikian, sebenarnya proses penggarapan “Resilient” tidak terlalu menemui kendala dari segi teknis. Walaupun ada pergantian personel serta kesibukan masing-masing. “Banyak sekali perubahan bukan hanya di skena kota kami. Tapi karena beberapa personel masih ada yang aktif di skena, kami nggak butuh waktu lama untuk beradaptasi,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

“Resilient” sendiri bermakna tangguh, cukup mewakili perjalanan panjang LRP dalam bermusik hingga detik ini. Sekujur album menderu, bertempo cepat dengan nuansa hardcore punk era ‘2000an, yang mendominasi sebagian besar lagu-lagunya. Lirik yang diusung pun lebih terpusat, tentang masyarakat sub-urban yang terus menjalani kegiatan bermusik.

“Dengan mengusung konsep Sub-Urban Melodic Hardcore, album ‘Resilient’ berisikan lagu yang bercerita tentang bagaimana melampaui masalah kehidupan sebagai kaum pekerja di pinggiran kota. Musiknya sendiri bernuansa riff hardcore punk bertempo cepat, bercampur sedikit grind-beat,” tandas mereka.

“Resilient” sudah beredar dalam format fisik (CD), yang diproduksi oleh Ruthless.Inc.. Sebelumnya, LRP yang terbantuk sejak 1999 silam dan banyak terpengaruh secara musikal dari band-band dunia yang berakar hardcore macam Fact (Jepang), Comeback Kid (Kanada) dan Rufio (AS) ini sempat pula merilis single pembuka, yakni “Storming Down the Breath” via berbagai layanan digital seperti Spotify, iTunes dan sebagainya. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY