Trilogi yang bertajuk “An Epitome of Chemistry” kembali digelorakan Memoar, sebuah unit musik keras yang lahir dari belantara independen Jakarta. Kerangka kedua yang berjudul “Deep Breath” tersebut sekaligus menandakan dirilisnya sambungan cerita dari single sebelumnya, “Open Cage”. Uniknya, tanggal rilisan juga dibuat sama, yaitu pada 25 Desember karena terinspirasi oleh film Warkop DKI yang selalu ditayangkan pada saat perayaan Idul Fitri. Dan Memoar sendiri memilih momentum Natal untuk perilisannya.

“Deep Breath” merupakan bagian klimaks dari perayaan kebebasan JL, tokoh wanita yang menjadi sentral cerita di lirik, yang mempunyai kisah perjalanan hidup, kelam, senang, tersangkut dengan narkoba, berusaha melepaskan diri dari dunia narkoba, dunia yang kelam, lalu berusaha untuk bangkit.

Sisi musikal lagu tersebut, menurut Anggayasti (gitar), Yussi Hillel (vokal), Ibenk (dram) dan Achmad Sarifudin (bass), terbilang lebih keras dan bernuansa (band) seperti Funeral For A Friend, Deftones dan Faith No More.

“Kami bermain lebih lepas, seperti tiap personel mengeluarkan mood-nya saat rekaman. Di single ini, musikalitas atau mood tiap personel bebas aja dituangkan. Let the flow. Jadinya bagaimana musiknya, kami nggak terlalu memikirkan. Yang penting berkreatifitas aja dulu,” ungkap Memoar kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

“Deep Breath” sendiri mulai dieksekusi penggarapannya pada Agustus lalu di Imix Studio, lalu diselesaikan pada Desember di BMS Studio. Proses panjang terjadi karena mereka memutuskan mengulang perekaman isian dram demi hasil yang maksimal. Perbedaan sound dari single pertama dan kedua pun mengikuti arah lirik dari trilogi tersebut. Single pertama yang lebih terkesan terkekang, sementara single kedua menjadi perayaan kebebasan yang membuat band bentukan November 2017 ini memutuskan membuat sound yang berbeda.

Sedikit menengok ke belakang, “Open Cage” digarap dengan pendekatan musikal yang terpengaruh ‘sisi gelap’ HIM, band rock asal Finlandia. Namun sebagai band, banyak inspirasi musikal yang membentuk karakteristik Memoar. Musik yang terdengar dari dua single yang telah mereka rilis merupakan hasil kolektif dari perbedaan cara berinterpretasi para personelnya.

“Apa yang kami lagi rasakan di saat pembuatan materi ya ngalir gitu aja. Tiap personel punya influence yang berbeda-beda, ada yang suka grunge, rock, funk, yang kami campur jadi satu. Tapi sejak awal Memoar terbentuk, kami sepakat untuk membuat musik era-era ‘90an dimana kami besar di era tersebut. Deftones, Faith No More, Red Hot Chili Peppers, Nirvana, Foo Fighters adalah alunan yang biasa menyalak di earphone kami.” (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY