Akhirnya, setelah menggeliat sejak awal era 2000, pasukan hardcore metal asal Kota Denpasar, Bali ini berhasil melampiaskan karya album mini (EP) pertamanya, tepat di permulaan 2020. Di karya bertajuk self-titled tersebut, Regicide meramu beberapa elemen cadas, mulai dari thrash metal, death metal hingga alternative dan punk.

Alasan utamanya, referensi dan akar musikal masing-masing personel berbeda-beda. Lalu semua latar belakang itu pun dilebur dan disatukan lewat kendaraan new school hardcore sebagai benang merahnya. Regicide yang dihuni formasi Krisna Teja (vokal), Wisnu Astawa (gitar), Artha Wijaya (gitar), Endi Widnyana (bass) dan Astina Suta (dram) memastikan bahwa dalam setiap penggarapan materinya telah melalui proses yang demokratis serta melibatkan semua personel.

Penerapan pola kolaborasi itu contohnya tergambar di salah satu lagunya yang berjudul “Tandur Dendam”. “Semua lagu memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Namun secara subjektif, Lagu ‘Tandur Dendam’ memiliki nilai yang lebih bagi semua personel. Karena dari proses penulisan lagu membebaskan semua personel mengeksplorasi sisi kreatifnya dengan referensi musik masing-masing yang berbeda. Struktur lagu seperti ini yang mungkin akan menjadi cetak biru (blueprints) musik Regicide ke depannya, meski secara musikal, kami tidak ingin mengotak-kotakan atau menciptakan pola penulisan lagu yang monoton,” ulas Krisna Teja kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di Regicide.

Dari enam lagu yang termuat di EP “Regicide” sendiri, empat di antaranya – yaitu “Dansa Hitam”, “Sangkakala”, “Pralaya”, “Di Ujung Taji” – sudah ditulis sekitar sejak 2008-2009 silam. Namun karena satu dan lain hal, baru bisa diwujudkan rekamannya pada 2018 lalu. Sedangkan dua lagu sisanya, yakni “Selasar Neraka” dan “Tandur Dendam” memang baru ditulis dan direkam pada 2018. Eksekusi rekaman seluruh lagu dilakukan di Dimas49 Record, sementara untuk mixing dan mastering dilakukan sendiri oleh Wisnu, gitaris Regicide. Keseluruhan proses berlangsung selama hampir setahun, yang dilakukan di antara kesibukan para personelnya.

Khusus di lini lirik yang sarat menyorot tema-tema sosial kemasyarakatan, Regicide berkomitmen menulis keseluruhan lagunya menggunakan Bahasa Indonesia. Pertimbangannya, karena menurut mereka, kosakata Bahasa Indonesia sebenarnya sangat kaya. Masih banyak frasa dan majas yang dapat digali dan diterapkan dalam lirik-lirik lagu Regicide.

“Dan gaya penulisan bersajak dan kiasan juga menjadi ciri khas penulisan lirik kami, karena Krisna yang bertanggung jawab dalam departemen lirik, sangat terpengaruh sastrawan macam Chairil Anwar, Rendra, Anom Ranuara serta musisi-musisi dengan gaya penulisan yang kuat seperti Edi Gembel (Forgotten), Cholil (Efek Rumah Kaca), Otong (Koil), Ucok (Homicide) dan yang lainnya,” cetus pihak band beralasan.

Sebelum merilis EP self-titled, Regicide yang mendapatkan ide namanya dari PC Game yang disukai oleh seluruh personelnya sudah pernah menetaskan beberapa single, yang dirilis pada beberapa kanal digital dan juga ikut serta pada beberapa kompilasi. Dan rencananya, pada 26 Januari 2002 mendatang, Regicide bakal merilis video lirik lagu “Tandur Dendam”, sambil memperluas jejaring dengan komunitas dan media, baik itu independen, maupun konvensional untuk mengenalkan EP pertamanya. Disamping itu, Regicide juga akan melanjutkan penulisan materi-materi baru yang belum sempat terdokumentasikan karena terkendala waktu dan biaya. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY