Musik punk rock tidak harus selalu diaplikasikan dalam bentuk geberan distorsi cepat nan cadas. Tapi semangatnya juga bisa diekspresikan dalam komposisi berbalut akustik. Seperti yang dilakukan SuckIt To Sick, unit punk kawakan asal Kota Serang lewat single barunya yang bertajuk “Hope Song”.

Lagu ini merupakan respresentasi keprihatinan SuckIt To Sick atas peperangan yang kian hari kian masif terjadi di belahan dunia. Sekaligus sebagai pesan dukungan bagi umat Muslim di Palestina yang terus dihantam deru senjata tentara Israel. Di sini, Ludi (vokal), Eriwiguna “Igun” (gitar), Lutvan Subagja (gitar), Lutfi Awladi (bass) dan Dezna (dram) ini mencoba menerapkan konsep karya yang mengedepankan nilai kemanusiaan yang emosional.

Disamping itu, “Hope Song” juga menjadi media baru bagi SuckIt To Sick mencicipi gaya lain dalam musik. Karena setelah lebih dari dua dekade berkarir, kuantet punk yang dikenal dengan musik bertempo cepat, atraktif, dan ‘ugal-ugalan’ di atas panggung ini belum pernah menjajal musik berkonsep akustik.

“‘Hope Song’ sengaja dikemas dengan konsep non-distorsi. Konsep ini terbilang baru untuk kami. Karena selama ini, kami kerap membuat karya yang penuh dengan distorsi yang cepat. Termasuk soal penggarapan lagu bertema kemanusiaan yang menjadi pengalaman baru bagi SuckIt To Sick menyoroti soal kemanusiaan dan sosial yang terjadi di belahan dunia. Single ‘Hope Song’ kami dedikasikan untuk semua korban perang, bukan cuma di Palestina, tetapi juga perperangan di sejumlah daerah lain yang hingga kini masih berkecamuk hingga berimbas pada banyaknya nyawa anak-anak yang hilang sia-sia,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.

“Awalnya kami berpikir soal konflik perang di Palestina. Di sana kami lihat hampir setiap hari berkecambuk dengan perang. Tetapi belakangan, kok konflik perang meluas di negara-negara lain? Sehingga ‘Hope Song’ kami susun lebih universal, menyoroti tentang kemanusiaan di negara konflik,” beber Igun menambahkan.

Lagu “Hope Song” sendiri dikerjakan secara kolektif dan menghabiskan durasi pengerjaan selama sekitar dua minggu, yang keseluruhan dieksekusi di Bes Studio, milik mantan gitaris Hellen Kills The Fallen Angels dan The Minded. Sekaligus, “Hope Song” menjadi penanda dimulainya proyek “Suckitcoustic”, yang direncanakan rampung tahun depan.

“Ke depannya, SuckIt To Sick akan membuat garapan baru bernama ‘Suckitcoustic’ yang menampilkan sisi lain SuckIt To Sick sejak terbentuk dua dekade lalu. Proyek ‘Suckitcoustic’ rencananya akan merangkum sejumlah lagu-lagu terbaik SuckIt To Sick dalam format akustik. Rencananya, proyek strategis ini akan dilepas pada 2020 ini.”

Sedikit info latar belakang SuckIt To Sick. Band yang juga dikenal dengan sebutan Suck-It 26 ini terbentuk sejak 1998 silam dan selama dua dekade, sudah menelurkan tiga album studio, yakni “Belum Sembuh” (2004), “Jengkel” (2006) dan “Takkan Menyesal” (2009). Selain itu juga ada beberapa single seperti “Di antaranya Ku Pasti Kembali”, “Kantong Plastik Hitam”, “Fight Back”, “Semangat Garuda Muda” dan “Selamat Jalan Kawan”. (aug/MK02)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY