Keputusan tutup buku dalam sebuah band tidak selalu dipasalkan oleh perselisihan visi dalam berkarya. Seperti yang alami The Moses Purposes. Setelah berjalan selama lebih dari lima tahun, unit metalcore asal Malang tersebut harus rela menyudahi perjalanan karirnya. Alasan paling krusial adalah kesibukan masing-masing personel yang sulit dikompromikan.

Dan sebagai jejak rekam terakhir, The Moses Purposes pun merilis album mini (EP) “Selftitled/Re-Contemplation” pada 12 Januari 2020 lalu. Di EP ini, terdapat empat trek dari album pertama, “Self-titled” (2018),  yaitu “Black Mist”, “Silence & Honesty”, “Salvation of Grace” dan “Something Wrong” yang didaur ulang.

“Jadi sebenarnya konsep awal dari ‘Selftitled/Re-Contemplation’ itu adalah album yang memuat lima trek materi lagu baru dan lima trek lagu dari album pertama yang kami recycle. Bahkan kami sudah membahas dan mengajak kolaborasi atau featuring beberapa musisi band metal di Kota Malang. Salah satunya adalah (vokalis) Kevin dari Blackswan. Materi-materinya masih tidak jauh dari album pertama yaitu mengenai fenomena sosial dan keTuhanan,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, memulai klarifikasinya.

Namun ternyata dalam proses penggarapannya, situasi di band berkata lain. Beberapa personel harus mundur dengan berbagai alasan. Bassis Nival Wijayanto dan gitaris Zulfiqar Bhisma harus pindah keluar kota karena pekerjaan. Sementara tiga personel yang tersisa, yakni Rizqtsany (vokal), Rian Fareza (gitar/vokal) dan Asfa Firosa (dram) juga sudah memiliki kesibukan masing-masing. Riztsany memiliki beberapa project, menjadi gitaris di unit grunge Remissa, serta menjadi sound engineer untuk penyanyi solo Iksan Skuter. Lalu dua personel lainnya harus berkonsentrasi melanjutkan studi S2.

“Dari situlah akhirnya kami berpikir, dari pada band kami beristirahat dengan tidak meninggalkan apa-apa, lebih baik kami merilis beberapa lagu yang sudah kami kerjakan dan kami anggap memiliki makna penting, setidaknya untuk kami sendiri.”

Proses pengerjaan “Selftitled/Re-Contemplation” sendiri mulai digulirkan sejak Juni 2019 lalu. Rekaman, mixing hingga mastering digarap bekerja sama dengan Surya Nur Ardiansah dari Synple Project Studio, yang juga dikenal sebagai sound engineer salah satu band di Kota Malang, Marigold. Empat trek di EP tersebut direkam ulang, khususnya di permainan beberapa instrumen, sekaligus mengulang proses mixing dan mastering-nya.

The Moses Purposes mengonsep susunan empat lagu di EP tersebut sesuai dengan urutan tema liriknya, yang memfokuskan bahasan tentang keTuhanan dari sudut pandang pihak band sendiri. Urutan lagu dimulai dari komposisi instrumental “Black Mist” sebagai pengantar, lalu dilanjutkan dengan “Silence & Honesty” yang berbicara tentang keberadaan manusia dan pencipta, kemudian “Something Wrong” yang membahas mengenai berbagai pertanyaan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dan lantas ditutup dengan “Salvation of Grace” yang berbicara tentang kematian dan ‘kembali pulang’.

“Selftitled/Re-Contemplation” sendiri telah dirilis dalam format digital di kanal Soundcloud serta YouTube. Lewat rilisan tersebut, The Moses Purposes ingin agar kontribusi mereka bisa didengarkan oleh khalayak luas.

“Meskipun kami sadari band kami masih belum ada apa-apanya, apalagi di segmentasi musik metal, tapi kami hanya ingin lagu-lagu kami dapat didengarkan atau dinikmati seluas mungkin, itu saja. Kami juga masih ingin bermusik di segmentasi metal, khususnya metalcore. Apabila ada kesempatan dan moment yang tepat, kami akan membentuk band dalam format atau personel yang baru,” seru The Moses Purposes meyakinkan.

Nama The Moses Purposes sendiri terinspirasi dari sejarah klasik Nabi Musa, serta dari judul lagu milik Bring Me The Horizon, “Shadow Moses”. Sejak terbentuk pada 2014, ramuan musik The Moses Purposes banyak menyerap pengaruh dari band-band dunia seperti Bring Me The Horizon, Architects, DIVIDE, Asking Alexandria, Miss May I hingga Bullet For My Valentine. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY