Sebagai wadah ekspresi kekesalan terhadap keadaan lingkungan dan kondisi sosial yang makin semrawut menjadi pemicu terlahirnya Fakecivil, sebuah unit thrash metal asal Bekasi. Mereka telah merilis single “Deranged Gunmen”, sebagai peluru pertama menuju peletupan album perdana bertajuk “Resistensi Musik Bejat” yang dicanangkan beredar pada Februari 2020 mendatang.

“Konsep kami tentu berbeda dengan Seringai, yang dalam liriknya menulis, ‘Tidak lagi punya keluhan dan hidupnya seolah liburan’. Fakecivil masih memupuk kekesalan dan keluhan, yang kami tuangkan dalam ‘Resistensi Musik Bejat’,” seru Fakecivil kepada MUSIKERAS tentang konsep albumnya, menunjukkan kegeraman.

Fakecivil yang diperkuat formasi Lody Andrian (vokal/gitar), Dennis Destryawan (bass), Paulus (gitar) dan Elham (dram) menganggap mereka lahir dari kota sampah, Bekasi. Kota dengan kualitas udara terburuk, dimana 180.000 orang adalah pengangguran dan 7000 orang mengais rejeki dari sampah. “Tingkat kriminalitas tinggi. Teroris lahir dari sini. Ambience ini yang membentuk kehidupan kami sehari-hari. Mendasari kami membentuk Fakecivil,” tandas mereka lagi.

“Resistensi Musik Bejat” direkam Fakecivil sebagai refleksi perjalanan satu abad negeri ini. Berisikan delapan lagu perlawanan atas pengekangan kebebasan, yang direkam di tengah suhu panas politik. Di saat intoleransi menguat, kriminalitas marak, aktivis dikriminalisasi polisi dan tentara pukuli petani.

“‘Resistensi Musik Bejat’ dibuat ketika demokrasi dijadikan bola mainan. Tanah Air digadaikan. Masa depan kita digelapkan. Keresahan-keresahan itu, kemudian kami tuangkan dalam lagu ‘Mental Negara Jajahan’. Kami berpandangan (bahwa) pemerintah, TNI, Polri, DPR, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga lain, harus dikritisi; aparatur rajin mengeruk lewat pungli, kesewenang-wenangan terhadap akar rumput, asal tangkap dengan pasal karet. Masyarakat kecil masih tertindas, masih dipukuli aparat, masih ditembak tanpa hukuman setimpal. Kami merasa perlu meneriakkan ini, demi Budi Pego, Munirwan, Sriwoto, dan para petani lain yang dikriminalisasi. Meski di panggung kecil dengan skala 50 orang, meski diintai intel seharian, meski harus mendekam di balik bui. Teriakan itu, akan kami gaungkan sampai penjuru negeri. Satu kata untuk para aparat bejat, Polishit!”

Dalam penggarapan produksi rekaman yang dieksekusi di EC3 Studio milik dramer Edane dan Godbless, Fajar Satritama serta di Venom Studio milik Pipinx (gitaris Straightout), Fakecivil mengajak sejumlah musisi untuk turut berkontribusi. Ada Biman (Rajasinga) yang mengisi di lagu “Terimplasi Oksigen”, lalu Rudi Dian (eks Jeruji) di “Deranged Gunmen”, Pipinx di “Revolution War” serta Atenx (Panic Disorder) di “Jack Out of the Hell”.

Dari sisi musikal, Fakecivil yang telah menggeliat sejak 2016 mengobarkan kemarahannya lewat komposisi-komposisi lagu yang sedikit banyak terpengaruh band-band yang mereka kagumi seperti Slayer, Anthrax, Megadeth, dan tentu saja Metallica.

Single “Deranged Gunmen” sendiri sudah bisa didengarkan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, iTunes, Joox dan lain sebagainya. (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY