Sebuah komposisi ‘kafir’ bertajuk “Sisa Waktu” yang kemungkinan besar diharamkan jika dikategorikan ke rumpun black metal telah diluncurkan oleh Soulsick, unit black metal kelahiran Yogyakarta, yang kini telah menancapkan eksistensinya di Jakarta. Lagu tersebut kini sudah tersebar luas di berbagai platform digital.

“Kami ingin musik Soulsick nggak terpaku pada jalur lurus genre black metal yang harus seperti sound Norwegia, yang raw dan khas black metal lainnya,” cetus gitaris Hestu Widodo kepada MUSIKERAS, beralasan.

Mengapa “Sisa Waktu” bisa mengundang kontroversi?

Penyebabnya tak lain karena di lagu tersebut, Soulsick yang juga diperkuat oleh Yudha Firmansyah (vokal scream), Barrock (gitar), Agung Purwanto (bass/vokal clean), Hamzah Zadir (dram) dan Iwan (kibord) melibatkan vokal bening dari Rins dan Iwed, dua vokalis wanita dari unit prog ghotic metal asal Jakarta, Gelap.

“Konsep di tiap album Soulsick (memang) selalu ada satu lagu yang berkolaborasi dengan female voice. Untuk kali ini kami mengajak duo Rins dan Iwed, dan mereka menyambut dengan antusias. Maka tak perlu waktu lama langsung kami boyong ke studio untuk take vokal karena musik dasar sudah jadi,” ungkap Hestu lebih lanjut.

“Sisa Waktu” sendiri merupakan lagu berkontur pop rock ciptaan Ro V, manajer Soulsick. Lagu tersebut lantas mereka daur ulang sebagai nomor pemanasan sebelum menyiapkan perilisan album kelima Soulsick yang rencananya dieksekusi pada April 2020 mendatang.

“Kami coba aransemen ulang sesuai karakter Soulsick. Setelah jadi, Agung ada ide untuk mencoba dengan clean vocal dan diturunkan temponya. Jadi lagu ‘Sisa Waktu’ ada dua versi, yakni versi vokal scream dengan tempo lebih cepat, yang bisa dicari di YouTube, serta versi clean vocal atau female voice yang lebih pelan dan lembut.”

Para personel Soulsick mengakui, menggarap “Sisa Waktu” versi female voice ini merupakan pengalaman yang beda dan di luar kebiasaan mereka dalam bermusik. Karena kali ini, mereka harus sedikit menahan emosi di permainan masing-masing. “Tapi kami menikmatinya. (Prosesnya) lebih mengalir dan (hanya) dua kali latihan jadilah musik dasarnya.”

Saat ini, pengerjaan materi album kelima Soulsick sedang berjalan. Rencananya akan ada 10 lagu baru yang bakal dimasukkan di. Konsep dasar tetap black metal yang telah menjadi pijakan utama mereka. Namun bakal ada sentuhan baru yang lebih terkonsentrasi pada pendewasaan aransemen dan komposisi, tanpa menghilangkan ciri khas di atmosfir bernuansa Jawa.

Sebelum menggunakan nama Soulsick, band yang lahir pada awal November 1998 silam ini sempat mengibarkan nama Death Fatimah. Namun karena dianggap kurang menjual, akhirnya diganti menjadi Soulsick. Sepanjang perjalanan karirnya, internal Soulsick kerap didera proses gonta-ganti personel.   

Dengan konsep ‘javanese harmonical sickness’ dimana mereka melebur pengaruh thrash, death dan black plus sedikit sentuhan harmoni nada gending Jawa, Soulsick merilis rekaman promo bertajuk “Gerbang Samudraning Kasengsaran” yang memuat empat lagu, pada Juli 1999. Lalu pada Maret 2000, Soulsick merilis single “Throne of The Sun Never Changes” yang lantas termuat di “Gerilya Compilation” rilisan Edelweiss Production. Dua bulan kemudian, mereka pun melahirkan album demo berisi tujuh lagu black metal berjudul “Kesunyian, Kegelapan & Keabadian” yang sarat nuansa gloomy dan gelap.

Selanjutnya, band yang pernah menjadi pembuka konser unit black metal Swedia, Marduk di Bulungan Outdoor Jakarta pada 12 Desember 2010 silam ini, terus melahirkan karya rekaman. Di antaranya adalah album “Titian Embun Suci” (2005), album mini (EP) “Dendam Ujung Langit” (2008), album “III.XV inovember” (2015) serta “Dalam Legenda Laut Selatan” (2018/2019). (mdy/MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY