Konsisten untuk selalu tampil berbeda. Itulah prinsip musikal yang ditancapkan dengan kuat oleh unit goth/industrial eksperimental asal Jakarta Selatan ini. Tepatnya, di sebagian besar lagu yang pernah dihasilkan oleh band rock veteran tersebut, selalu ada sesuatu yang berbeda di olahan musiknya. Tidak terkecuali di “Coma”, single terbaru yang kini telah beredar di berbagai gerai digital seperti Apple Music, Spotify hingga YouTube.

“Dari awal berdiri di tahun 1995 sampai sekarang, Getah memang selalu membuka diri untuk mencoba menambah sesuatu yang lain dari apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini terlihat di setiap lagu yang masing-masing memiliki warna tersendiri dan berbeda antara satu dengan yang lain, dan akan selalu demikian,” begitu cetusan pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Dan di internal Getah, hal itu sangat memungkinkan terjadi. Karena, setiap personelnya yang terlibat, masing-masing memiliki ciri khas bermusik yang terpengaruhi oleh berbagai referensi atau inspirasi, yang terbentang dari sub-genre rock/punk/metal, funk, trip-hop hingga bahkan disco ‘80an dan techno.

“Dari sini kami terus mencoba keluar, mencari dan bereksperimen dengan hal-hal dan sound yang baru, dengan berbagai (eksplorasi) electronic sounds sampai alat musik traditional,” seru mereka lagi.

Selain itu, bergabungnya vokalis baru, Phil Vezard yang menggantikan posisi Oddie Octaviadi sejak Maret 2019 lalu, juga mendatangkan keuntungan tersendiri dalam pengeksplorasian Getah di lagu “Coma” serta lagu-lagu baru lainnya.

“Kebetulan Phil juga dilatarbelakangi musik di negara asalnya, Perancis, (dimana ia mendalami) sebagai sound engineer/designer, pernah memiliki band dan juga pernah dikenal sebagai DJ di rave party skena bawah tanah di sana.”

Konsep kasar lagu “Coma” sendiri datang dari Phil, yang mengusulkan ke pihak band – yakni Peter St. John (gitar), Marcel Wetik (bass), Bambino Franklin (dram) dan Alfa Putra (gitar) – pada April 2019 lalu. Lalu aransemen lagu itu, selanjutnya digarap masing-masing personel. Usai melalui proses jamming yang cukup panjang, Getah pun melakukan rekaman live di Mekel Music Studio, di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Selebihnya, proses standar seperti penambahan synthesizer dan sound design, rekaman dram, bass, gitar dan vokal hingga mixing dan mastering dieksekusi pada Oktober 2019 dan selesai pada awal 2020.

Selain “Coma”, Getah juga kini tengah menggarap dan berlatih lagu-lagu yang lain, baik yang lama maupun yang baru. Dalam waktu dekat, mereka juga berencana merilis beberapa single baru lagi, yang nantinya diproyeksikan menjadi sebuah album mini (EP). Dan seperti halnya “Coma”, keseluruhan lagu tersebut selalu menuntut ditemukannya formula penggarapan dan penyesuaian yang selalu baru dan berbeda.

Ketika Getah mulai menggeliat, awalnya diperkuat oleh pecahan band underground, Bottom Up dan Rotor, yakni Marcel Marcive, Jodie Gondokusumo (vokal), Reeve (dram) dan Boy Faisal (gitar). Formasi ini lantas sempat merilis album debut self-titled (Waner Music). Pada 1996, Reeve mengundurkan diri karena harus kembali ke Amerika Serikat tak lama setelah album rampung direkam. Posisinya lantas digantikan oleh Tyo Nugros, yang belakangan dikenal sebagai dramer Dewa. Perjalanan karir Getah selanjutnya kerap diwarnai pergantian personel. Bahkan pada 2008, sempat pula diperkuat oleh Richard Mutter, dramer PAS Band.

Sejauh ini, Getah telah menghasilkan beberapa karya rekaman. Setelah album self-titled, juga sempat single “Missing/Green Wine” (2001), album “Release is Peace” (2008) serta single “For The Love of God” (2009) dan “Scared of You” (2012). Selain itu, Getah juga pernah terlibat di proyek album “OST Gerbang 13” (2005) dan “OST In The Name of Love” (2008). Pada 24 September 2018 lalu, bersama Noxa dan Inlander, Getah tampil di Everloud Fest, di Tokyo Jepang. (mdy/MK01)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY