Usia yang beranjak senja tak bisa dilawan. Para vokalis unit rock legendaris dunia, Scorpions dan Whitesnake tak bisa memungkiri itu. Tarikan vokal Klaus Maine dari Scorpions harus diakui tertatih-tatih hampir sepanjang pertunjukannya di panggung “JogjaROCKarta Festival #4 2020”, yang digelar di Stadion Kridosono, Yogyakarta, semalam (1/3). Ia berusaha tetap menyengat dengan kapasitas vokal yang telah ditakar agar ‘selamat’ sampai akhir konser. Maklum, usia Klaus kini sudah mencapai 71 tahun, plus baru saja menjalani operasi pengangkatan batu ginjal, dan masih harus menjalani tur keliling dunia untuk menjaga nafas panjang bandnya.

Kondisi itu tak jauh berbeda dibanding David Coverdale dari kubu Whitesnake yang beraksi di panggung sebelum Scorpions. Vokalis ini hanya terpaut tiga tahun di bawah usia Klaus Maine. Bahkan 44 tahun sebelumnya, tepatnya pada Desember 1975 silam, David sudah mengantongi pengalaman bernyanyi di depan penggemar rock Indonesia saat masih tergabung di raksasa rock purba, Deep Purple. Jeda yang sangat lama tentunya.

Sama seperti Klaus, alih-alih menyerah pada umur, David juga berusaha keras menyiasati kualitas geraman vokalnya agar tetap membahana. Selain memaksimalkan bantuan teknologi efek suara, ia juga memanfaatkan tiga musisi di belakangnya, yakni gitaris Reb Beach dan Joel Hoekstra serta kibordis Michele Luppi untuk menyumpal berbagai ruang kosong di lini vokal agar tetap terdengar solid.

Tapi, Scorpions dan Whitesnake jelas-jelas bukan band kemarin sore. Tim di balik pengesetan produksinya sangat profesional dengan standar kualitas internasional. Mereka bertanggung jawab menyirep penonton agar lebih terpukau pada keseluruhan suguhan konser dan melupakan kelemahan di lini vokal. Contoh yang paling mewakili terpampang di aksi panggung Scorpions.

Sejak band yang telah menggeliat di kancah rock sejak 1965 silam di Hanover, Jerman tersebut menjejakkan kaki di altar megah berukuran 34 x 12 meter plus tambahan lidah sepanjang sekitar 9 meter yang membelah kerumunan audiens, sebanyak lebih dari 17.000 pasang mata penonton langsung dimanjakan kreasi multimedia yang memikat. Visualisasi aksi panggung Klaus Maine, Rudolf Schenker (gitar), Klaus Meine (vokal), Matthias Jabs (gitar), Paweł Mąciwoda (bass), dan Mikkey Dee (dram) tidak ditayangkan apa adanya, melainkan dipoles dengan sentuhan artistik di sana-sini. Tidak membosankan. Atraktif dan gebyar.

Urusan produksi beres – termasuk tata suara dan cahaya – berarti tinggal bagaimana menyenangkan penonton dengan suguhan musik serta deretan lagu yang lebih menghidupkan suasana. Dan untuk bagian itu, tentunya Scorpions dan Whitesnake sama sekali tidak menghadapi masalah. Keduanya punya bekal lagu-lagu tenar yang bahkan cukup menutupi durasi konser hingga tiga jam sekalipun.

Malam itu, selain lagu-lagu yang sudah cukup dikenal penggemarnya seperti “Rock You Like Hurricane”, “Big City Nights”,  “Wind of Change”, “Still Loving You”, “Send Me An Angel”, “Make It Real”, “Blackout” dan “Tease Me Please Me”, Scorpions juga menyelipkan medley lagu dari era ‘70an, yakni “Top Of The Bill”, “Steamrock Fever”, “Speedy’s Coming” dan “Catch Your Train”.

Sementara Whitesnake yang juga diperkuat bassis Michael Devin dan dramer Tommy Aldridge, pun tak henti menggoda penonton untuk terus bernyanyi bersama lewat deretan hit seperti “Bad Boys”, “Slide It In”, “Is This Love”, “Fool For Your Loving”, “Give Me All Your Love”, “Here I Go Again” hingga komposisinya yang paling keramat, “Still of the Night”.

Perhelatan “JogjaROCKarta Festival” sendiri sempat diwarnai guyuran hujan yang berimbas pada pengunduran jadwal, perubahan susunan penampilan para band serta pemangkasan durasi. Bahkan pahlawan musik cadas Yogyakarta, Death Vomit memutuskan tidak tampil sama sekali karena alasan cuaca. Alhasil, jadwal tampil Kelompok Penerbang Roket pun bergeser dan menjadi pembuka. Setelah itu berturut-turut, “JogjaROCKarta Festival” digetarkan oleh suguhan membius unit grunge asal Bali, Navicula, lalu band rock legendaris Godbless, band rock asal Mongolia, The Hu serta Powerslaves.

Satu hal positif yang perlu digarisbawahi dari konser ini adalah, bahwa atas nama musik rock, isu penyebaran virus Corona bisa ditepis dan sektor pariwisata sedikit banyak ikut terdongkrak. Terbukti, pihak penyelenggara Rajawali Indonesia mencatat, sebanyak 70% dari kerumunan penonton yang hadir malam itu berasal dari luar Yogyakarta. Dan yang lebih penting lagi, penyelenggaraan “JogjaROCKarta Festival 2020” telah meningkatkan kepercayaan internasional terhadap Indonesia. (mdy/MK01)

Kredit foto: Azhan Miraza

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY