Berkat Burgerkill, bisa dikatakan, skena musik ekstrim di Indonesia kini semakin mengerikan di mata dunia. Paling tidak, unit cadas yang lahir di Kecamatan Ujungberung, Jawa Barat sejak pertengahan ‘90an tersebut telah berhasil membuktikan bahwa melesatkan mimpi setinggi langit yang disertai kerja keras pada akhirnya benar-benar bisa menghasilkan pencapaian yang membanggakan.

Enam hari lalu, nama Burgerkill terpampang di deretan “50 Band Metal Terbaik Sepanjang Masa” versi Majalah Metal Hammer, Inggris. Tentunya ini bukan pengakuan level kelas teri. Metal Hammer adalah salah satu media raksasa yang sangat kredibel di skena musik esktrim dunia, yang telah berkibar sejak awal era ‘80an.

Tapi yang lebih mengejutkan, hasil dari kalkulasi pilihan 110.000 pemberi vote, tidak menempatkan Burgerkill di ujung gang terjauh dari daftar 50 band terbaik tersebut. Melainkan di peringkat 14… berada di bawah para dewa dunia rock dan metal seperti Metallica, Iron Maiden, Black Sabbath, AC/DC, Slipknot, Pantera, Slayer, Gojira, Judas Priest, Tool, Opeth, Megadeth serta satu-satunya nama yang masih belia, yakni Baby Metal. Sementara di urutan selanjutnya setelah Burgerkill, banyak monster mengerikan yang terlampaui, di antaranya seperti Rammstein, Motorhead, Death, System of A Down, Dream Theater, Sepultura, Trivium, Anthrax dan bahkan Lamb of God.

Pihak Metal Hammer menilai, penempatan Burgerkill di deretan band metal terbaik tersebut pastinya bakal mengejutkan banyak orang. Namun kata media tersebut, hal itu seharusnya sudah sewajarnya, mengingat perjuangan yang pernah dilalui Burgerkill tidak mudah, menghadapi berbagai rintangan berat. Buat Metal Hammer, apa yang telah dilakukan Burgerkill tidak bisa diremehkan, sebuah band yang bisa bertahan di tengah kondisi sosial yang pasti akan mampu melibas karir setiap band-band setara di Barat, yang kerap terlalu dimanjakan keadaan.

“(Mereka adalah) Veteran dari sebuah komunitas yang selamat dari rintangan, mewakili kerja keras yang dibutuhkan untuk menyebarkan informasi pada skala global,” tulis Metal Hammer, memuji.

Sebelumnya – tepatnya pada 2013 silam, Burgerkill juga sempat dinobatkan sebagai pemenang penghargaan kategori “Metal As F*ck” di ajang Metal Hammer Golden Gods Awards.

Lalu bagaimana reaksi Burgerkill sendiri terhadap penetapan mereka sebagai salah satu band metal terbaik sepanjang masa? MUSIKERAS telah mengajukan dua pertanyaan esensial terkait penghargaan tersebut, dan inilah jawaban mengesankan dari gitaris, pendiri sekaligus motor utama Burgerkill, True “Eben” Megabenz:

 

Kira-kira menurut Anda, apa yang membuat Metal Hammer (MH) sangat perhatian terhadap kualitas Burgerkill (BK), mengingat di luar sana, terutama di Eropa dan Amerika, bertebaran band-band metal yang tentunya juga sangat bagus…?

Sejujurnya sih saya dan BK nggak paham kenapa kok sebegitu besar ketertarikan MH kepada BK. Cuma kami positive thinking aja karena beberapa kesempatan mereka sering menyebut bahwa skena metal ekstrim di Indonesia, buat mereka, seperti berlian yang baru ditemukan. Seperti harta karun. Karena mereka menganggap di negara berkembang seperti Indonesia musik seperti ini (metal) sulit berkembang. Namun ternyata, setelah pengalaman mereka melihat secara langsung skena Indonesia – waktu itu beberapa kali diwakili oleh Dom Lawson (jurnalis MH) – dan mendengar cerita teman-teman di skena ini, mereka semakin yakin musik di Indonesia memang besar dengan loyalitas yang tinggi. Bisa dilihat dari festival-festival yang bisa dipenuhi penonton sampai 30-40 ribu penonton tanpa ada line-up luar negeri, misalnya seperti Bandung Berisik. Mereka juga ngeliat penyelenggaraan festival-festival lain seperti Hammersonic, Rock in Solo, Kukar Rockin’ Fest yang menunjukkan bahwa Indonesia punya industri musik ekstrim yang aktif dan produktif. Dan kalau dilihat dari penuturan mereka di narasi… kenapa memilih BK dalam 50 band terbaik sepanjang masa karena mungkin menurut mereka apa yang dilakukan BK dan teman-teman di sini tuh sangat spesial. Saya rasa mereka menganggap memang banyak band bagus di Eropa dan Amerika, tapi menurut mereka itu hal yang biasa. Karena dari dulu industrinya sudah jadi. Band nggak perlu harus berjuang setengah mati karena di sana infrastrukturnya sudah ada… agency sudah ada, label sudah ada, media banyak, konser, festival, promotor sudah bertebaran di mana-mana. Industrinya sudah established. Sedangkan di Indonesia kan ya kita tahu sendiri kondisinya seperti gimana… dan apa yang mungkin dilakukan BK itu menjadi sebuah catatan (mereka). Dan dari penghargaan kemarin itu kami merasa banget bahwa sebetulnya pergerakan teman-teman di Indonesia dipantau terus oleh mereka. Ya, kami sih senang dan bangga, Alhamdulillah, Indonesia bisa diakui dan masuk di peta heavy metal global yang selama ini hanya bisa kita cita-citakan. Selama ini hanya bisa diinvasi oleh mereka tanpa melakukan banyak hal utk memperkenalkan atau melakukan invasi sebaliknya ke negara-negara seperti Amerika atau Eropa. Saya rasa itu…. Dan kalau misalkan ada orang bilang; ‘ya ini mah karena voting-nya orang-orang Indonesia aja karena kita loyal dan lebih nasionalis atau apalah… buat kami itu justru bagus. Itu menandakan bahwa skena Indonesia itu solid, rasa persaudaraannya tinggi dan saya rasa itu juga jadi bahan penilaian mereka dan menempatkan BK di urutan ke-14. Jujur aja saya kaget dan sampe gemetaran waktu dikasih link (berita)nya, saya baca, kayak orang yang nggak percaya.… Kenapa mereka memilih BK? Saya rasa sudah jelas dari narasi yang mereka tulis. Yang mereka bicarakan bukan masalah kualitas atau kaliber, tapi movement yang sudah dilakukan oleh BK. Mungkin itu bisa jadi trigger juga buat negara-negara berkembang lainnya yang mereka anggap juga punya talenta-talenta luar biasa.

Sebenarnya ada yang menarik dari deretan 50 band metal terbaik sepanjang masa itu. Dipikir-pikir, BK adalah satu-satunya band yang tidak punya rilisan yang didistribusikan secara internasional. Dan BK salah satu dari hanya dua band Asia yang bisa masuk ke sana. Buat saya itu menjadi semacam pembuktian bahwa band-band dari Asia sudah mulai berani unjuk gigi. Saya masih ingat waktu… setelah kami turun dari podium Golden Gods Award 2013. Di backstage, saya sempet ngobrol-ngobrol singkat dengan Devin Townsend, bersama Dom Lawson juga… Devin bilang dia sempet dengar band-band Indonesia yang direkomendasikan oleh Dom. karena memang sampai hari ini saya masih rutin mengirim CD-CD rilisan teman-teman di sini yang menurut saya memang bagus dan layak untuk diulas di MH. Dan menurut Devin, dia menganggap Indonesia punya keunikan yang tidak dimiliki oleh skena negara-negara lain. Menurut dia, Indonesia suatu saat pasti bisa mencuri perhatian dunia. Dan saya rasa dengan adanya list 50 band kemarin itu bisa jadi indikasi bahwa skena musik ekstrim di Indonesia ini semakin diperhatikan oleh media-media atau pelaku-pelaku industri di luar sana. Jadi itu awal yang bagus buat kami.

 

Apakah selama ini pernah ada usaha dari Burgerkill untuk menarik perhatian audiens dari luar Inggris, terutama misalnya media-media rock/metal di Amerika?

Sebetulnya upaya-upaya yang BK lakukan standar sih. Biasanya setiap kami habis merilis CD, DVD atau buku, kami selalu melakukan (kegiatan) promo-promo…. Nah, salah satunya kami sering mengirimkan sample-sample produk rilisan BK ke media-media atau majalah-majalah, ke festival-festival atau ke radio-radio di luar sana. Jadi memang kami sudah punya alokasi dana tersendiri untuk pengiriman promo kit tersebut. Sejauh ini itu aja sih yang bisa kami lakukan. Dan Alhamdulillah, dengan kemajuan teknologi, semuanya bisa dijangkau dengan mudah… Teman-teman di luar sana juga dengan mudah bisa memantau apa yang dilakukan BK, mereka bisa cek langsung, bisa lewat Instagram, Facebook atau Twitter. Jadi sejauh ini, itu aja sih, nggak ada sesuatu yang spesial atau – katakanlah – tidak biasa untuk mencuri perhatian media luar. Karena menurut kami, kami percaya betul dengan yang namanya kekuatan doa dan kekuatan mimpi. Kami di BK termasuk orang-orang yang suka banget bermimpi. Setiap tahun kami selalu punya visi mau ngapain aja. Bahkan kami biasanya sudah merencanakan apa yang mau kami lakukan setahun atau dua tahun sebelumnya. Dan memang, cita-cita kami waktu merilis album “Adamantine”, kami pengen album ini bisa membawa BK ke lebih banyak tempat dan area, dan bisa membawa BK bertemu lebih banyak teman dan lebih banyak koneksi. Dengan harapan,  networking yang didapatkan BK suatu saat juga bisa dimanfaatkan oleh teman-teman di Indonesia. Karena bagi kami, untuk menginvasi Eropa atau Amerika, atau Australia sekali pun, nggak bisa oleh BK sendiri, harus dilakukan bersama-sama. Jadi bentuknya kayak anak panah. Harus ada yang di garda depan, tapi di belakang banyak yang mengikuti. Nah harapan kami seperti itu, dan saya rasa masifnya komunitas musik ekstrim di Indonesia ini sudah sangat wangi di luar sana. Karena hampir beberapa kesempatan (saat) kami tur di Eropa, Amerika dan Australia, bahkan Asia, mereka tahu Indonesia punya scene yg mengerikan. Gigs kecil aja yang datang (menonton) bisa 200-300 orang… dan medium festival bisa sampai 5000-7000, sementara di festival besar bisa sampai 20.000 bahkan sampai 40.000 orang. Buat mereka itu luar biasa. Banyak yang berbeda kondisinya (di sana). Karena terlalu sering band-band besar datang ke sana, (sehingga) band-band lokal (malah) susah mendapat perhatian atau tempat di skena lokalnya sendiri. Karena kebanyakan metalhead di sana cenderung menyisihkan uangnya untuk menonton band-band idola mereka yang hampir bisa dikatakan sering banget datang. Jadi ya… itu salah satu kondisi kenapa mereka melihat Indonesia jauh lebih mendukung situasinya. Dan saya rasa sih, untuk sekelas media seperti MH, mereka sudah harus punya rasa tanggung jawab atau moral untuk bisa saling support atas nama musik heavy metal di mana pun atau dari mana pun mereka berada…. Karena connectivity dan networking ini menjadi kuncinya, bagaiamana bisa berkomunikasi dengan pihak luar sudah sangat jauh dipermudah. Ini kesempatannya buat band-band lain Indonesia juga agar semakin rajin, semakin kreatif dan semakin produktif dan bisa bikin sesuatu yang memang standout, bisa memberikan sesuatu yang luar biasa di atas panggung, yang akhirnya bisa mencuri perhatian orang dan mungkin dunia luar. Itu menjadi tanggung jawab semua. Maka dari itu, kami di BK sekali lagi mau mengucapkan terima kasih buat dukungan teman-teman dari Sabang sampai Merauke, atau di mana pun kalian berada, yang selalu support pergerakan musik ekstrim di Indonesia, di mana pun dan kapan pun. Terima kasih banyak. Tanpa kalian,  ceritanya pasti akan berbeda. Kita harus tetap solid dan harus tetap yakin bahwa kita punya kualitas dan kita berani mati untuk itu. (mudya mustamin)

.

 

Baca juga: http://musikeras.com/2019/10/08/burgerkill-siapkan-2-3-jurus-untuk-adamantine-american-tour-2019/ 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY