Dalam industri rekaman, banyak faktor yang berandil besar dalam membentuk kualitas sebuah karya musik. Setelah bersusah-payah menjalani tahapan seperti memikirkan ide, gagasan atau inspirasi lagu dan lirik, lalu merangkainya menjadi sebuah komposisi, lalu memainkannya di instrumen hingga akhirnya merekamnya, ternyata masalahnya tidak selesai sampai di situ saja. Masih ada tahapan mixing dan mastering yang harus dilalui – atau tepatnya ditaklukkan.

Fase ini tidak main-main, karena selain butuh keahlian secara teknis, juga diperlukan pengalaman yang memadai. Pengalaman ini terkadang dipengaruhi oleh latar belakang musikal sang koki (sound engineer), yang pada akhirnya juga membentuk selera. Namun di sisi lain, seorang engineer juga dituntut mengerti berbagai aspek dalam urusan meramu sebuah hasil rekaman musik, sehingga bisa memenuhi selera pemesan atau pemilik karya rekaman.

Memang, cara yang paling gampang untuk mendapatkan hasil rekaman yang berkualitas, tentunya adalah dengan menyerahkan sepenuhnya pada ahlinya. Dalam hal ini ya sound engineer berpengalaman. Tapi tidak ada salahnya juga mencoba mencari tahu sendiri apa saja yang harus dipahami seputar prinsip kerja mixing dan mastering. Manfaatnya tentunya agar sedikit banyak tahu apa yang harus dilakukan jika kurang puas dengan selera sang koki, sebagai bahan untuk berdiskusi. Bahkan tidak menutup kemungkinan pada akhirnya malah memilih mengeksekusinya sendiri.

Ok. Bagi yang benar-benar masih awam, ada baiknya memulainya dengan mengenal terlebih dahulu, apa sih perbedaan utama antara rekaman, mixing dan mastering? Berikut ini ada penjelasan sederhana dari Stephan Santoso, musisi yang juga dikenal luas sebagai salah satu produser sekaligus sound engineer terbaik di Tanah Air:

Rekaman (recording) adalah merekam semua track (seluruh instrumen dan vokal). Masing-masing lantas disimpan secara terpisah sehingga menghasilkan data multitrack.

Mixing adalah meramu data multitrack tadi menjadi stereo audio (2 track). Di sini berbagai processing bisa dilakukan ke masing-masing track seperti EQ, compression, effects, dan lain-lain.

Mastering adalah menyempurnakan hasil mixing dari sisi dinamika, frequency dan level. Menghasilkan master akhir yang akan didengar di semua platform oleh konsumen.

Dari beberapa literatur atau artikel berupa tips yang tersebar di jagat internet, banyak yang menyarankan agar saat rekaman, sebaiknya usahakan mendapatkan kualitas rekaman terbaik atau maksimal terlebih dahulu sebelum beralih ke tahapan mixing dan mastering. Karena jika terlalu banyak mengandalkan penggunaan efek – katakanlah seperti efek plug-ins – maka besar kemungkinan tone asli akan terkikis. Semakin solid kualitas rekaman aslinya, maka semakin sedikit proses yang harus dilakukan di tahapan mixing. Less is more!

Menurut Stephan, secara teori hal itu ada benarnya. Namun engineer yang antara lain pernah memoles mixing album Edane “Edan” (2010) serta mastering album kompilasi “Musikeras Cracked It” (2018) ini juga menegaskan bahwa, kreativitas juga harus diprioritaskan. Karena setelah melalui proses mixing dan mastering yang ‘cocok’, biasanya ada ‘pencerahan’ yang tidak terduga.

“Justru terlalu memikirkan audio bagus di awal bisa beresiko menghambat kreatifitas, aransemen dan lain-lain. Jadi saran saya, sebaiknya sekreatif mungkin aja kalau rekaman. Saya sendiri (masih sering) mengalami problem ini… hahaha,” ungkapnya terus-terang.

Dalam musik rock dan metal, volume keras adalah sahabat terdekat, namun justru kerap menjadi ‘musuh’ saat memasuki tahapan mastering. Tidak jarang terjadi ketidakharmonisan antara hasil mixing dengan mastering, dimana tuntutan untuk mengeraskan level suara justru mengorbankan detail dari dinamika (dynamic) suara, dan bahkan bisa mengacaukan hasil mixing.

“Yang cukup sering terjadi, di (tahapan) mastering memang ada tuntutan utk level yang LOUD, sehingga bisa jadi mengharuskan ada beberapa hal yang menjadi korban, antara lain dinamika. Selain dari itu, bisa macam-macam hal, tergantung kasusnya,” ujar Stephan.

Lalu apakah ada trik khusus dalam melakukan mixing dan mastering karakter musik yang didominasi distorsi seperti rock dan metal?

“Nah, kalau sudah ke treatment ke setiap genre, jadinya mungkin bukan lagi ke teknis (masalahnya), tapi lebih ke feeling (rasa) dan taste (citarasa) ya,” seru Stephan menegaskan. “Jadi sebenarnya sangat tergantung kepada hal-hal di luar teknis. Setiap orang (pasti) berbeda-beda. Kalau dari saya pribadi, dimulai dari terobsesi ke genre musik tersebut sejak masih remaja, kemudian baru merambat ke sound dan audio. Jadi feeling dan taste mungkin sudah mulai terbentuk pelan-pelan secara bertahap dan terus mengalami perubahan sampai sekarang.”

Tentunya uraian di atas bukan bekal lengkap untuk memahami ruang kerja mixing dan mastering yang terbilang kompleks, namun sekaligus fleksibel. Tapi paling tidak, saat memproduksi karya rekaman, Anda sudah punya bayangan atau ekspektasi terhadap hasil akhirnya, yang tentunya dipengaruhi oleh bagaimana kalian menjalani tahapan-tahapannya. Semoga bermanfaat! (mdy/MK01)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY